
Satu lagi bertambah, telah tersilang tinta darah diatas selembar foto seorang gadis yang malang. Itu berarti ada satu nyawa yang telah melayang terenggut dengan paksa, kehilangan hidupnya, meninggalkan orang-orang terkasih tanpa ada yang mengetahui kepergiannya, yang tersisa hanyalah sebuah kenangan.
Hentakan kaki terdengar, langkah demi langkah bergema menyusuri lorong yang gelap. Sampailah pada tempat yang dituju, tempat yang sangat rahasia, hanya pemilik tempat itu yang bisa menemukannya. Pintu besi yang digembok sudah pria itu lalui, banyak kamar kosong tanpa berpenghuni, itu berarti pemilik kamar itu sudah tiada lagi di dunia. Hanya satu yang masih terkunci dengan rapat. Apakah gadis ini akan bertahan atau bernasib sama dengan yang lainnya.
Pintu terbuka, sorot mata sayu memandang tubuh yang terlentang di atas kasur, gadis yang masih terlelap dari tidurnya. Gadis itu adalah Gea, hanya ia sekarang yang tersisa. Apakah akan ada penghuni baru, atau ia akan menjadi yang terakhir di tempat mengerikan ini.
Pria ini memandangi wajah Gea, sedikit senyum tercipta setelah memandang lekat wajah Gea yang terlelap. Berbaring mengikuti tubuhnya, membenarkan selimut putih yang menghangatkan tubuh Gea. Memeluk tubuh Gea dari belakang, seketika tubuh Gea terperanjat karena sentuhan pria itu.
Kembali lagi menguatkan pelukannya, seolah memberi isyarat untuk tetap dalam posisi semula. Karena Gea masih menunjukan perlawanan, pria itupun tidak menyerah, hingga Gea tidak dapat bergerak.
Karena tidak bisa berkutik lagi Gea menyerah, mengikuti keadaan dan ikut terlelap dalam pelukan pria itu. Mata Gea berkedip-kedip belum terbuka sepenuhnya, setelah kesadarannya terkumpul, Gea menyadari dirinya hanya seorang diri saat ini. Pandangan Gea beralih ke jendela kecil atas kamar itu, pentilasi udara yang hanya ada pada bagian atas tanpa bisa dijangkau dan melihat ke luar jendela, karena struktur bangunan dengan tembok yang sangat tinggi. Sungguh diluar nalar jika dipikirkan tempat macam apa sebenarnya yang ia tempati.
Gea tidak akan menyangka jika dilihat ke sisi luar jendela, itu akan hampir rata dengan tanah. Itu berarti ia sedang berada di ruang bawah tanah. Jika terdapat sinar berarti malam sudah berganti, hanya itu yang bisa Gea lakukan sebagai penanda. Sekilas beralih sudah terdapat sarapan di atas nakas lengkap seperti biasa. Entah kapan itu dipersiapkan, Gea tidak menyadari apapun, kapan pria itu beranjak dari kamarnya.
Gea selalu mencoba menenangkan pikirannya, jika tidak, mungkin ia akan mengalami gangguan jiwa berada di tempat ini. Terlintas di benaknya untuk pasrah dengan hidupnya, tapi kedua orangtua yang masih menunggu kedatangannya seolah menguatkan hatinya untuk tetap bertahan.
Jika ia pergi, orangtua yang ia sayangi akan hidup dalam penantian selama sisa hidup mereka. Maka dari itu Gea mengesampingkan egonya, mungkin akan ada cara lain untuk bisa ia keluar dari sini. Ataupun akan ada seseorang yang akan berhasil menemukan dan membawanya kembali pulang. Gea selalu berdoa penantiannya tidak akan sia-sia.
Pintu terbuka, pria itu datang menyapa Gea.
“Selamat pagi sayang,” ucapnya. Gea tersenyum, untuk pertama kalinya senyuman itu Gea tunjukan. Dan tentu saja membuat pria itu heran dan senang melihatnya.
“Kau sudah sarapan?” tanya Gea lagi. Pria itu tertegun dengan sikap Gea, hanya gelengan kepala yang ia lakukan.
“Mau sarapan bersamaku?” Gea berinisiatif untuk mengajaknya sarapan.
“Tentu saja aku tidak akan menolak,” jawabnya.
Gea mengambil nampan yang berada di atas nakas.
Beberapa macam buah potong, Gea mengambil salah satunya dan mulai menyuapi pria itu. Betapa senangnya, matanya berbinar memandang Gea.
“Dengan cara ini aku bisa mendekatimu, perlahan mungkin kau akan luluh dan aku bisa keluar dari sini,” batin Gea.
'“Ada yang berbeda dari dirimu, kenapa tidak dari awal kau begini,” tanya pria itu yang masih merasa bingung.
“Maaf aku hanya belum terbiasa padamu, jadi bisakah kita mulai dari awal?” Gea berucap manis.
“Iya, apa kau mencintaiku?” tanya Gea, tanpa basa-basi lagi.
“Aku mencintaimu sayang,” jawab pria itu tanpa keraguan.
“Jika kau mencintaiku, bisakah kau memperlakukan aku seperti layaknya orang mencintai pasangannya, mari kita hidup sebagai pasangan normal,” sambung Gea.
''Aku tidak mau jika kau pergi dariku, hanya dengan cara ini aku bisa mempertahankanmu,” ujar pria itu.
“Tapi aku tidak bahagia jika kau mencintaiku dengan cara seperti ini. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku berjanji padamu.”
“Tidak sayang, kau akan tetap disini bersamaku, selamanya akan disini. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil dirimu dariku.”
“Aku harus sabar, tidak perlu buru-buru, sedikit demi sedikit aku harus bisa meluluhkan hati pria keji ini,” batin Gea. Sekian lama berpikir dan merenungkan nasibnya, Gea berencana untuk mengikuti permainan dari pria itu.
Banyak hal yang sudah terjadi dan ia alamai di tempat ini, sedikit membuatnya paham akan watak pria itu. Merasa lelah menunggu tapi tidak ada kepastian untuk kebebasannya, terbesitlah dalam benak Gea untuk melakukan rencana ini.
Gea pun sudah menyadari, adanya sisi berbeda dari pria ini, memiliki satu raga tetapi seperti memiliki dua jiwa. Ada watak lain dalam diri pria ini. Mungkin jika Gea bersikap seolah dirinya mencintai pria itu, akan ada celah untuk Gea bisa mengendalikan pikirannya.
“Baiklah aku akan ikuti apapun maumu,” masih bersandiwara. Tanpa berhenti tersenyum, pria itu tak melepas pandangannya dari Gea. Tangannya mulai menyentuh bibir Gea, membersihkan sisa makanan dengan bibirnya sendiri, sudah mulai bermain di beberapa bagian tubuh Gea. Gea berinisiatif mengimbangi permainan itu, walaupun sebenarnya ia merasa sangat muak dan jijik. Pergulatan panas di pagi hari baru saja mereka lalui.
“Sayang tidurlah kau pasti lelah, nanti aku akan datang lagi. Ada hal yang harus aku kerjakan,” ucapnya sambil mengecup kening Gea.
“Baiklah, jangan terlalu lama, kau tahu betapa bosannya aku berada disini tanpa melakukan apapun. Rasanya aku bisa mati perlahan disini, tidak bisakah kau membawaku bersamamu, aku tidak akan berbuat macam-macam, dan akan mengikuti kemanapun kau pergi.” Gea mencoba merayunya lagi.
“Tidak akan lama sayang, aku hanya ingin memastikan sesuatu. Aku berjanji akan membawamu pergi bersamaku.” Pria itu bersungguh-sungguh.
“Kau janji, jika kau berani ingkar janji aku tidak akan bersikap manis lagi dan akan lebih membencimu dari sebelumnya.”
“Jangan lakukan itu lagi sayang, secepatnya akan aku lakukan.” Terlihat jelas raut wajah memelasnya.
“Pergilah dan cepat kembali.” Gea mencium pipi pria itu.
“Tidak apa-apa Gea kau akan baik-baik saja, ini bukan pertama kalinya, kau harus keluar hidup-hidup dari sini demi keluargamu. Mereka masih menunggu kepulanganmu, jadi kuatkan dirimu Gea, sebentar lagi kau akan bisa pulang.” Kata itu keluar dari mulutnya sendiri, menyemangati dirinya. Air mata yang ia teteskan hampir setiap hari kini mulai surut seakan seperti sumur yang keruh. Keteguhan yang ia bangun sudah membentengi hati dan jiwanya, dan tidak akan menyerah sampai disini.