Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 15



Semenjak Ersin membatalkan perjodohannya, ia menyibukkan diri dengan pekerjaan. Seperti tidak rela, tapi ia tidak boleh egois. Ersin tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan, disaat ia sudah tidak ada hubungan lagi dengan Alina, ia merasa kehilangan.


“Perasaan apa ini, kenapa aku memikirkan gadis itu,” ucapnya. Apakah ia mengambil keputusan yang salah dengan membatalkan perjodohan, tapi kenapa hatinya berkata lain,  seolah tidak rela.


“Lupakan, lupakan,” ucapnya gusar.


“Rey, masuk,” ucapnya melalui panggilan telepon.


“Ya Tuan Muda,” ucap Rey.


“Percepat jadwalku, majukan meeting dengan klien,” ucap Ersin pada Rey.


“Baik Tuan.”


“Aku setiap hari lembur bersamanya, apa sebenarnya yang dia mau, aghh sial aku tidak punya waktu lagi dengan istri dan anakku,” Batin Rey.


Hanya itu yang bisa Ersin lakukan, pekerjaan akan mengalihkan pikirannya.


*****


Hari ini Alina dan kedua sahabatnya berencana pergi ke cafe, sudah lama mereka tidak pergi jalan-jalan. Karena kesibukkan masing-masing serta aktifitas kuliah yang mereka jalani. Alina menjemput Fitri dan Dinda menggunakan mobil ayahnya. Setelah bersusah payah meminta ijin, karena kejadian tempo hari menyebabkan kekhawatiran orang tuanya.


Tapi sebelum ke cafe tempat langganan mereka, Fitri ingin membeli sebuah buku jadi mereka mampir dulu ke toko buku yang tidak jauh dari lokasi kampus mereka.


“Mau beli apa sih Fit, buang-buang waktu deh,” ucap Dinda sedikit kesal.


“Beli bukulah masak mau beli beras,” jawab Fitri asal.


“Jangan sok rajin deh, itu buku yang dapat dari kampus belum semua kau baca,” ujar Alina.


“Nanti kalian akan tahu, apa tujuanku datang ke toko buku itu. Hal yang sangat penting bahkan lebih penting dari yang akanku beli,” ucap Fitri. Sampailah mereka di dapan toko itu. Bangunan yang luas dengan desain elegan, semua buku tertata begitu rapi, disertai dengan ruang baca yang nyaman. Mereka disambut oleh pemilik toko itu.


“Selamat datang, silakan dilihat-lihat.” Pemilik toko berkata. Seorang dengan perawakan yang lumayan tampan, cara bicara yang ramah, tubuh yang tegap. Fitri melihat ke arah Alina dan Dinda seperti memberikan kode dari kata-katanya di dalam mobil. Alina dan Dinda saling pandang, mulai mengerti tenyata ini hal yang penting dimaksud oleh temannya, mereka menggelengkan kepala.


“Ya terimakasih” jawab Fitri centil. Alina dan Dinda hanya tersenyum. Tidak berapa lama, mereka menuju rak tempat novel romance. Karena tempat yang tinggi mereka tidak bisa menjangkaunya.


“Kak Andre tolong ambilkan buku itu,” ucap Fitri dengan manjanya. Alina dan Dinda sedikit heran, melihat Fitri dengan pemilik toko itu, kelihatannya mereka sudah saling mengenal. Andre menuju rak itu, dan mengambil buku dengan satu tangannya. Saat ia memberikan buku itu kepada Fitri dengan sengaja Fitri memegang tangan Andre, dengan reflek Andre melepaskan tangan Fitri, tapi masih lembut. Andre terlihat gugup dan malu lain halnya dengan Fitri yang mendominasi, tanpa malu sedikit pun.


“Ampun deh teman kita Din, ini perempuan agresif sekali,” ucap Alina heran.


“Biar seperti di drama-drama korea gtu Lin, ya sekali-kali kita yang mendahului kan tidak apa, dari pada nunggu lama-lama,” jawab Fitri.


“Aku kira mau beli buku apa, ternyata novel cinta-cinta,” gerutu Dinda.


“Trus apa dong, buku buat belajar? itu mah ogah,” jawab Fitri.


“Sudah cepat bayar, nanti keburu malam,” ujar Alina.


“Bayar ya bayar jangan gatalina.” Dinda sedikit meledek.


“Iya kalian ini bawelita dasar,” balas Fitri.


Akhirnya mereka menuju ke cafe, tempat yang sering mereka kunjungi bersama, setelah berakhirnya adegan drama Fitri dan pemilik toko buku. Barulah Alina menceritakan rencana perjodohannya tempo lalu dengan Ersin, tapi yang kini sudah dibatalkan.


“What? kenapa tidak sekalian saja kau beritahu kami bersamaan dengan surat undangan.” Fitri yang terkejut.


“Hehe tapi sekarang sudah dibatalkan, karena dia tidak mau terlalu memaksaku,” ucap Alina.


“Memang kenapa kau menolak Lin? pasti karena orangnya jelek iya kan?” tanya Dinda. Alina menggelengkan kepala.


“Sangat tampan,” jawab Alina tersenyum, hatinya seolah berdebar mengucapkan kata itu.


“Trus masalahnya apa?” jawab Fitri.


“Aku hanya tidak mau terikat dengan perjodohan semacam itu, dan lagi aku tidak mau menikah muda,” jawab Alina


“Memang dia sudah bilang mau menikahimu?” sambung Dinda lagi.


“Tidak ada” Alina menyaut.


“Lalu masalahnya apa? aduh pria tampan kok di sia-siakan, kan sayang Alinaaa,” ucap Fitri sambil menyeruput minumannya.


“Entahlah, kenapa aku memikirkan pria itu sekarang, sudahlah lupakan, kita bahas topik lain,” ujar Alina.


Setelah dari cafe mereke pergi ke bioskop menonton film kesukaan mereka film horor, lebih seram teriakan Fitri dari pada pemain filmnya. Sesuai janji Alina kepada orangtuanya tidak akan pulang malam. Alina mengantar mereka satu per satu.


Mobil Alina berhenti karena rambu merah, dilihatnya sosok wanita yang ia kenali. Tanpa memakai alas kaki, ia seperti menangis berjalan di trotoar. Banyak mata yang memperhatikan perempuan itu.


“Itu seperti temannya Adit,” batin Alina.


Perempuan itu terlihat kelelahan, ia berjalan sempoyongan. Alina turun dari mobil bermaksud menolong Nisa.


“Kau temannya Adit kan? mau kemana, aku bisa mengantarmu.” Alina menawarkan bantuan. Tatapan sedih Nisa menatap bola mata Alina. Suara klakson sudah bersautan, karena terjebak oleh mobil Alina.


“Sudah, masuklah dulu nanti beritahu aku kau mau kemana.” Alina menuntun Nisa menuju mobilnya.


“Terima kasih,” ucap Nisa, tangannya mengusap air mata.


“Jangan sungkan, berithu aku alamat tujuanmu,” ucap Alina.


“Jalan merpati no.12,” jawab Nisa.


Perlahan Alina melajukan mobilnya, sesekali Alina memandang Nisa. Pipi yang lebam dan bengkak, ada sedikit darah di ujung bibirnya. Nisa tertunduk lesu membuat Alina enggan untuk bertanya. Sampailah mereka di tempat tujuan, sebuah apartemen milik Adit. Nisa membuka kode pintunya. Betapa terkejutnya Alina, Nisa roboh dengan seketika.


Dengan susah payah Alina membawanya ke sofa di dekatnya. Ia tidak akan mampu jika harus mengangkat Nisa menuju kamar apartemen itu.


Alina sempat panik, tapi sesaat ia berpikir pasti karena kelelahan. Panggilan video masuk dari ponselnya, itu dari ibunya.


“Kau dimana, sudah ibu bilang jangan main sampai malam.” Terdengar sedikit marah.


“Bu sabar dulu, ini Alina lagi bingung, teman Alina pingsan bu, tadi Alina ketemu di jalan, Alina antar dia pulang sampai disini dia pingsan, tidak ada siapapun disini bu gimana ini?” Alina menunjukan wajah Nisa ke arah ponselnya.


“Ambil bantalnya sayang, biarkan tubuhnya sejajar, kau bawa minyak hangat atau apa oleskan di sekitar hidungnya siapa tahu dia bisa sadar.” Alina mengeluarkan isi tasnya.


“Ini bisa dipakai bu.” Alina mengeluarkan botol kecil.


“Iya pakai itu.” Alina melakukan sesuai dengan perintah ibunya. Cukup waktu lama Nisa baru sadar.


“Akhirnya kau sadar juga, bu dia sudah sadar, Alina matikan teleponnya ya bu nanti Alina hubungi lagi.”


“Jika ada apa-apa cepat hubungi ibu nak,” ucap ibunya.


“Iya bu.” Alina memutus panggilannya. Alina menuju dapur dan mengambil segelas air. Nisa meminumnya walaupun tidak banyak.


“Sepertinya kita harus memanggil dokter,” ucap Alina.


“Iya aku takut terjadi apa-apa dengan anakku,” jawab Nisa, membuat Alina membulatkan matanya.


“Ka kau hamil?” Alina seolah tak percaya.


“Iya Alina,” jawab Nisa.


“Tapi kau belum menikah, siapa ayahnya? maaf aku menanyakan itu.”


“Tidak apa-apa, Adit, Adit ayahnya.” Jawaban Nisa kali ini lebih membuat Alina terkejut.


“Apa? kak Adit, maksudmu Adit yang aku kenal?” tanya Alina.


“Iya Alina, sebenarnya hubungan kami sangat rumit. Tapi maaf.. ” Alina memotong ucapan Nisa.


“Hubunganku sama kak Adit belum sampai di tahap itu, jadi kau tidak perlu meminta maaf, aku tidak ada hubungan apa. Tolong kau jangan salah paham.”


“Kau tidak membenci aku Ataupun Adit?” Nisa tersenyum.


“Tidak sama sekali, jangan pikirkan aku. Sekarang yang paling penting adalah anak kalian.”


Ternyata benar betapa rumitnya cinta mereka, Alina mendengar kisahnya ada rasa kasian dan juga sedikit jengkel. Bagaimana ia hanya dijadikan pelarian oleh Adit, tapi itu tidak boleh dipermasalahkan lagi. Nisa yang sekarang diusir dari rumahmya, dan juga keluarga mantan kekasihnya yang tidak terima dengan perlakuan Nisa. Seketika pintu terbuka, pemilik apartemen itu datang.


”Adit,” ujar Nisa.


“Kau tidak apa-apa? aku mencarimu.” Adit terlihat khawatir.


“Berkat Alina, dia yang menolongku,” jawab Nisa.


“Alina terimakasih,” ucap Adit.


“Sama-sama kak, dan jangan minta maaf lagi padaku, aku tidak mau mendengar permintaan maaf dari kalian.”


“Jadi kau sudah tahu semuanya?”


“Iya tadi kita sudah ngobrol banyak, aku sedikit kesal tapi ya sudahlah,” ujar Alina


“Maafkan aku Alina,” ucap Adit


“Hehe aku bercanda kak, sungguh.” Mereka tertawa.


Tidak terasa waktu sudah malam, Alina pamit pulang.


“Biar aku yang mengantarmu,” ucap Adit.


“Tidak usak kak, aku pulang sendiri saja.” Alina melihat ke arah Nisa.


“Biarkan Adit yang mengantarmu, ini sudah larut malam, sekarang lagi marak penculikan.” Nisa menakut-nakuti Alina.


“Baiklah, tapi aku bawa mobil.”


“Nanti supir yang akan menjemputku,” ucap Adit. Ia mengantar Alina sampai di rumah.