
Acara Pensi sekolah.
Pak Abi sudah siap untuk pergi ke sekolah, ia harus hadir karena pak Abi adalah kepala sekolahnya. Ia juga bagian dari pengisi acara yang akan memberikan kata sambutan.
“Jam berapa di mulai acaranya yah?” tanya istrinya. Hal yang selalu ia lakukan menemani suaminya dari memilih baju dan sampai berangkat bekerja.
“Jam 10 bu,” jawabnya.
“Ini baru jm 9 yah, ayo sarapan dulu yah tadi kan ayah cuma minum kopi saja.”
“Ayo buk, Alina sudah berangkat buk?”
“Sudah tadi pagi yah, hari ini ibu tidak ke ruko mau istirahat saja di rumah,” katanya lesu.
“Istirihat saja bu biar ibu tidak sakit,” ucap pak Abi yang mulai khawatir pada istrinya.
“Itu karena ulah ayah semalam, ibu jadi lelah begini.” Mengingatkan suaminya. Suaminya hanya tersenyum saja, mau bagaimana lagi itu pikirnya.
*****
Sampailah pak Abi di sekolah, setiap siawa yang melintasinya memberikan salam. Pak Abi dijuluki ‘the best principal ever’ karena keramahannya dan caranya mendisiplinkan anak didiknya. Tidak sedikit juga guru perempuan yang menaruh hati padanya, tapi itu tidak membuat pak Abi tergoda dan tetap profesional.
Acara sudah dimulai, hari yang ditunggu semua siswa. Beberapa kata sambutan sudah disampaikan pak Abi. Betapa antusiasnya para siswa, semua dilakukan dengan persiapan yang matang. Ada yang menyumbangkan beberapa lagu, dan juga dance dan masih banyak lagi. Acara berlangsung meriah sampai pada akhir acara.
Semula Pak Abi tidak menghiraukannya, karna mobil-mobil itu sudah tidak terlihat dari pandangannya. Yang membuat heran lagi, kini kedua mobil itu terparkir di sebuah bangunan kosong yang sudah lama tidak digunakan, yang terlihat seperti gudang. Tidak ada siapapun dikedua mobil itu, pelan-pelan Pak Abi melewatinya, seakan tidak ingin terlibat. Terdengar samar-samar teriakan seorang wanita meminta tolong.
Pak Abi menghentikan mobilnya, membuka kaca mobil sekedar meyakinkan arah suara itu berasal, dan memang benar teriakan itu ada semakin ia mendekat terikan itu semakin keras, apalagi lalu lintas yang sepi. Seketika ia berjalan menuju bangunan gelap itu, suara itu yang semula samar terdengar semakin jelas, jeritan seorang wanita meminta tolong.
Pak Abi mempercepat langkahnya. Seorang pria memakai pakaian serba hitam, kegelapan menutupi wajahnya, pria itu ingin melecehkan seorang gadis, ia telah berhasil membuat gadis itu setengah telanjang baju yang sudah terkoyak, tetapi bagian intimnya masih tertutupi. Begitu agresif dan sangat kasar, membuat leher gadis itu berdarah karena gigitan penuh nafsunya.
BRAKKK
Sepotong kayu besar melayang mengenai bagian belakang, darah segar mulai menetes. Tangannya memegangi kepala yang mengeluarkan darah.
“Sialannn,” teriak pria misterius itu.
“Tolong saya, selamatkan saya.” Gadis itu tertatih, mulai mencari sisa pakaian untuk menutupi tubuhnya.
“Kau bukan manusia,” teriak pak Abi, melayangkan pukulan keduanya. Kini pria itu sudah tergeletak di lantai tapi masih sadarkan diri.
Dengan sigap Pak Abi membawa keluar gadis itu, menuju mobilnya. Melaju dengan sangat cepat agar tidak lagi terkejar oleh pria psikopat itu.
Tapi pria itu sudah dari tadi berdiri menyaksikan mobil pak Abi dari belakang, ia tersenyum dan menjilat sisa darah di mulutnya.
“Beraninya kau mengambil gadisku, aku akan meminta pertanggung jawabanmu, tunggu saja,” ucapnya dengan senyum seringai.