Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 10



Flashback on.


Rumah Sakit.


Ruang Unit Gawat Darurat (UGD), tempat Erika di rawat karena benturan yang teramat keras di kepalanya mengakibatkan perdarahan otak. Ersin yang saat ini masih pingsan, tetapi keadaannya tidak terlalu parah di bandingkan Erika. Karena hanya cedera ringan di kepalanya.


Papa dan mama kini berada di luar menunggu anak-anaknya yang masih dalam penanganan dokter. Kondisi mereka sebenanrnya tidak terlalu baik, luka yang sudah di obati dan dipakaikan perban, seharusnya mereka beristirahat, tapi sesakit apapun mereka tahan, melihat anak-anaknya masih belum sadarkan diri.


Tubuh Erika kini mengalami kejang-kejang, karena perdarahan otak yang perlahan-lahan semakin meluas. Sehingga suplai darah di otak semakin berkurang, penekanan otak karena darah membuat sel-sel otaknya yang tertekan menjadi mati, karena itu mengakibatkan terjadinya pembengkakan. Keadaannya kini semakin memburuk.


Pintu UGD sudah terbuka, diikuti keluarnya dokter dan suster di belakangnya. Dengan hati yang cemas mama dan papa bangkit dari duduknya.


“Dokter anak-anak saya tidak apa-apa kan, tolong selamatkan mereka.” Berharap putra dan putrinya bisa di selamatkan.


“Ibu bapak, putra anda hanya mengalami luka-luka dan cedera ringan pada kepalanya. Kami mohon maaf, kuatkan hati ibu dan bapak. Putri ibu dan bapak tidak bisa kami selamatkan.” Dokter mengatakan itu dengan berat hati.


Seketika tubuh mama lunglai dan terjatuh, kedua kakinya tidak bisa lagi menopang berat badannya. Begitu juga suaminya yang menyandarkan tubunya di dekat tembok.


“Aaaggghhhh.” Teriakannya mulai histeris tak terkendali lagi, luka yang sakit di tubuhnya sudah tidak bisa di bandingkan lagi dengan sakit hati


kehilangan seorang putri satu-satunya.


“ERIKAAAAA.... putriku putriku , tidak mungkin anakku pergi.” Menangis sejadi-jadinya, kepahitan orang tua kehilangan anaknya. Para suster yang membantu menenangkan mereka. Seketika tangisan itu hilang, mama sudah tidak sadarkan diri lagi.


Kini Ersin dan mamanya sudah berada dalam ruangan yang sama, di dampingi papanya. Menyaksikan istri dan anak yang terbaring tak berdaya, dan lebih menyakitkan lagi harus kehilangan seorang putrinya.


“Papa, dimana Erika kenapa hanya ada mama saja?” Terkejut sekali papa mendengar suara Ersin, yang baru tersadar langsung menanyakan adiknya.


Apa dan bagaimana cara untuk memberi tahu anak laki-lakinya bahwa adiknya telah tiada. Hanya air mata yang menjadi jawabanya, papa menangis di dekat anaknya tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Ersin sudah bisa menerka situasi apa yang ia hadapi saat ini. Ersin terdiam, air matanya menetes.


Hari pemakaman Erika.


Hari paling berduka, yang akan di kenang sampai kapanpun di keluarga ini. Hanya keluarga Erika saja yang sekarang masih tinggal, disana juga ada kakek dan neneknya. Mereka sangat bersedih kehilangan cucu perempuannya. Ersin yang hanya diam membisu, menatap batu nisan yang bertuliskan nama Erika Neisha Melvano. Mama yang bersimpuh memeluk batu nisan anaknya dengan air mata yang tidak ada hentinya menetes, ia enggan pergi dari tempat itu.


“Mama ayo kita pulang, Erika juga akan sedih melihat mamanya seperti ini.” Suaminya berkata.


“Pa anak kita takut sendirian, mama akan menemani Erika disini, biarkan aku disini bersama putriku”


“Tania, biarkan Erika beristirahat dengan tenang, Tuhan yang akan menjaganya.” Ibu mertuanya berkata. Ia paham bagaimana rasanya jika seorang ibu kehilangan anaknya.


Satu minggu sudah berlalu, semenjak pemakaman Erika. Rumah yang bagaikan kosong tanpa berpenghuni, itulah keadaanya sekarang. Tidak ada lagi canda tawa, tidak ada rengekkan manja.


Ersin yang saat ini hanya mengurung diri di kamar, tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun. Kini ia berada di balkom kamarnya memandangi langit, dengan tatapan yang kosong, wajah yang pucat dan mata yang bengkak. Tangannya memegang sebuah bingkai foto, ya foto adiknya.


Suara ketukan pintu memecah keheningan, tapi Ersin enggan untuk beranjak dari tempatnya semula. Mamanya datang, wanita yang saat ini masih rapuh, sekedar merias diripun sudah tidak mampu dilakukan lagi. Wajah yang sangat kusut, rambut yang berantakan dan badan yang sudah tidak terurus lagi.


“Sayang kenapa belum siap-siap kita kan mau jalan-jalan, ayo kita beli burger adikmu mau burger,” kata mama.


“Mama Erika sudah pergi,” jawab Ersin dengan datar.


“Anakku mau burger, dimana anakku, ayo pergi beli burger.” Hanya itu yang selalu ia ucapkan. Terkadang tertawa, dan di saat tertentu ia akan menangis histeris.


Tama saat ini sangat khawatir dengan keadaan istrinya, yang kejiwaannya mulai terganggu. Dia tidak pernah pergi ke kantor, hanya menemani istrinya di rumah, pekerjaan sudah tidak penting lagi saat ini. Berulang kali ia mendatangkan psikiater tapi istrinya selalu berontak, sekedar di sentuh pun tidak mau.


Satu bulan sudah berlalu keadaan masih tetap saja sama. Sekarang kesehatan papa secara drastis menurun, karena stres yang ia alami melihat istrinya terkadang seperti orang gila dan anak yang hanya diam saja mengurung diri.


Salah seorang pembantu menemukan papa sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri lagi. Setelah beberapa lama, dokter datang memeriksanya, istrinya pun ada disana menemani. Bibi Arum, seorang pembantu di rumah itu, memberitahu Ersin bahwa papanya pingsan dan sedang di periksa oleh dokter. Tentu saja, Ersin tidak akan berdiam diri.


Dokter sudah selesai memeriksa kondisi papa, sakit yang ia alami karena kurangnya asupan makanan, dan stres yang mempengaruhi kesehatan tubuhnya. Hening tercipta diantara mereka, papa yang hanya diam setelam meminum obat yang di berikan oleh dokter.


“Sudah cukup, apa kalian selamanya mau seperti ini? aku sebagai seorang suami dan ayah, tapi seperti tidak punya istri dan anak. Aku pun terpukul atas kepergian anakku, tapi aku berusaha tegar karena aku sadar aku masih punya kalian, jika aku tidak kuat apa yang akan terjadi nantinya. Apa aku harus pergi juga bersama anakku? baru kalian sadar keberadaanku?”


Perkataan Tama membuat anak dan istrinya tercengang.


“Maafkan mama pa, mama egois, mama hanya memikirkan diri mama sendiri.” Dengan menangis di samping suaminya.


“Ersin, sekarang papa hanya punya dirimu nak, harapan papa hanya kau sekarang, tidak ada pilihan lagi. Bisakah kau menjadi anak papa seperti dulu?” Papa bertanya pada Ersin.


“Iya, papa benar kita tidak boleh terpuruk terlalu lama. Erika pasti akan sedih melihat kita seperti ini.” Ersin mulai tersenyum lagi setelah sekian lama. Mereka memeluk papa dengan erat, mungkin ini lembaran baru yang harus di buka kembali, keluarga yang normal, yang dulu pernah mereka jalani, walaupun setiap harinya terkenang seseorang yang sangat berharga yang pernah mengisi kehidupan mereka.


Untuk kamu putri kecilku.


Dirimu tak akan tergantikan


dengan apapun di dunia.


Tetaplah menjadi putri kecil kami,


dimana pun kamu berada.


Tania.


(Sekedar info untuk reader, perdarahan yang di alami Erika, aku baca dari google, kalaupun ada kata yang kurang tepat atau salah dalam penjelasan mohon di maklumi yaa )