
Kini Alina sudah siuman, tidak ada seorang pun disisinya. Yang pertama terlintas di pikirannya adalah sang ayah. Alina bangkit walaupun sedikit pusing, ia berlari ke luar.
Alina berhenti sejenak, di depan pintu ruang operasi, ibunya disana bersama Ersin. Duduk menemani dan merangkul pundak ibunya. Melihatnya Alina terenyuh, ia beruntung, ketidak sengajaan membuatnya bertemu dengan laki-laki ini. Sosok yang terkadang kekanak-kanakan, di lain waktu ia begitu tegas dan dewasa. Tetapi kali ini ia melihat ketulusan Ersin, dia pria yang penyayang.
Mirna begitu rapuh, dalam benaknya hanya menyebut nama Tuhan, memohon agar suaminya diberi kekuatan dan kesembuhan. Mirna teramat takut, disaat air mata jatuh menetes, ia masih terdiam tak bergeming. Hanya menghapus tetesan air mata sudah tak kuasa ia lakukan.
“Operasi paman akan berjalan dengan lancar, apapun hasilnya aku akan menjaga bibi dan Alina.” Ersin mengusap air mata yang ada di pipi Mirna.
“Ibu,” panggil Alina.
“Maaf ibu tidak menemanimu,” balas Mirna.
Ersin merasa lega melihat Alina.
“Tidak apa-apa bu,” jawab Alina.
“Duduklah,” ucap Ersin, ia memberikan tempatnya. Mereka bersama-sama menunggu disana. Ersin sudah menyiapkan ruang tunggu untuk Alina dan ibunya. Tapi Mirna bersikeras untuk berada disini. Yang mana ia ingin dekat dengan suaminya.
Sudah 3 jam berlalu, belum ada seorangpun yang keluar. Ersin masih tetap menemani mereka. Sesekali ia mengelus kepala Alina dan mencium keningnya. Seolah menjadi kekuatan untuk Alina saat ini, setiap mendengar bisikan Ersin.
“Ayahmu akan baik-baik saja,” bisiknya.
Mirna pun tak keberatan, dengan apa yang dilakukan Ersin kepada putrinya selama masih batas wajar. Suaminya tidak salah memberikan putri kesayangan mereka kepada laki-laki ini.
Ketika pintu terbuka seorang perawat keluar setelah 4 jam lebih berjuang melakukan operasi, diikuti oleh dokter bedah ortopedi. Tampaknya ada titik terang jika dilihat dari raut wajah mereka. Dokter memandang ke arah Ersin, mengangguk sedikit memberi isyarat jika operasi berjalan lancar.
“Operasi suami ibu berjalan lancar, nanti ibu bisa melihatnya setelah dipindahkan ke ruangan,” ucap dokter itu.
“Terimakasih dok,” ujar Mirna tak lupa juga ia berterima kasih kepada perawat-perawat yang lainnya.
“Terima kasih Tuhan,” batin Alina, sambil memeluk ibunya.
“Kalian tunggu saja di ruangan, nanti aku akan menyusul,” ujar Ersin.
“Iya kak,” jawab Alina.
“Terima kasih nak Ersin sudah menolong suami bibi dan juga menemani bibi dan Alina disini,” ucap Mirna.
“Itu sudah kewajibanku menolong paman, bibi jangan sungkan,” jawab Ersin.
“Bibi akan menunggu paman di ruangan dengan Alina,” sambung Mirna.
“Pergilah, nanti aku menyusul. Aku juga sudah menyiapkan beberapa makanan, makanlah sedikit, agar kalian tidak sakit,”
“Terimakasih kak,” ujar Alina. Ersin pergi menemui dokter yang menangani pak Abi.
“Bagaimana kondisi pasien dok?” tanya Ersin.
“Saya memasang pen pada kaki kirinya, dan yang kanan hanya retak-retak saja, kemungkinan bisa berjalan akan memakan waktu lama,” ucap dokter, cukup lama Ersin berbincang dengannya, mencari solusi terbaik untuk perawatan pak Abi.
Setelah itu Ersin menghubungi Rey, semua pekerjaan telah di hadle dengan baik oleh Rey dan Melani. Ersin baru teringat kakeknya, ia segera memberitahunya dan juga memberi kabar pada orang tuanya. Betapa terkejutnya kakek Rendra ketika mendengar pak Abi mengalami kecelakaan.
“Kakek serahkan padamu, bila perlu bawa ke luar negeri lakukan apapun untuk kesembuhannya, kakek tidak ingin Abi cacat,” ujar kakek.
“Aku sudah mengusahakan yang terbaik kek, operasinya juga berjalan lancar,” jawab Ersin.
“Iya kek, aku tunggu kedatangan kakek,” ucap Ersin. Memerlukan waktu untuk kakek Rendra bisa sampai disini karena ia berada di luar negeri.
Pak Abi sudah dibawa ke ruangan, balutan di sekujur tubuhnya membuat yang melihat menjadi prihatin. Tapi ia belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat bius. Alina tak kuasa menahan tangis, tak ada habisnya seketika mengalir begitu saja.
Kenapa bukan dirinya saja yang berbaring disana menggantikan sang ayah, rasa sesal itu muncul setiap kali melihatnya.
Ersin memasuki ruangan, mata sembab Alina tak lepas dari perhatiannya. Makanan yang ia siapakan masih utuh tak ada yang disentuh. Mirna pun hanya memandang suaminya. Ersin berinisiatif untuk mengambil beberapa makanan untuk Alina.
“Makanlah sedikit, pasti kau belum makan, bibi kemarilah, ayo makan sedikit saja,” pinta Ersin.
“Bibi tidak ingin makan nak,” jawab Mirna.
“Aku pun tidak lapar,” sambung Alina.
Ersin tidak bisa menyalahkan keduanya, dalam kondisi seperti ini siapa yang akan memikirkan makanan. Ia beranjak dari duduknya, menggandeng tangan Mirna untuk mengikutinya.
“Kalian harus makan, siapa yang akan mengurus pak Abi, jadi harus tetap kuat.” Ersin menyajikan makanan kepada keduanya.
“Kalian mau aku suapi?” sedikit geram, karena mereka tak menyentuh makanannya. Mirna sedikit tersenyum melihatnya.
“Aku makan sendiri, ibu makanlah,” ujar Alina.
“Bagaimana bibi harus berterima kasih padamu nak,” ujar Mirna.
“Cukup berikan anak bibi padaku,” jawab Ersin sedikit bercanda.
“Kakak,” ketus Alina, ibunya tertawa, sebenarnya Alina senang mendengar itu.
“Itu tergantung Alina saja, bibi juga senang jika kau bersama putriku.”
“Lihat, kau tunggu apa lagi?” tanya Ersin pada Alina.
“Jangan membahas itu disini, kita sedang makan, ibu jangan dengarkan dia,” gerutunya. Ersin berusaha mencairkan suasana. Walaupun tidak banyak yang bisa ia lakukan. Mereka selesai dengan makanannya. Ersin akan kembali ke kantor, setelah urusannya selesai ia akan kembali ke sini lagi.
“Apa ada yang kau perlukan?” tanya Ersin.
“Tidak ada kak,” jawab Alina.
“Aku tidak lama, nanti aku datang lagi,” ucap Ersin dan mencium kening Alina sebelum pergi. Ia masuk kembali untuk menunggu ayahnya. Mereka seperti pasangan suami istri saja.
“Ibu menyukai anak ini, dan dia juga menyayangimu. Disaat kau pingsan, ibu bisa melihat betapa khawatirnya Ersin, dia menunggumu dan tidak lupa dengan ibu,” ujar Mirna.
“Aku tahu bu, tapi untuk saat ini Alina hanya ingin ayah kembali sehat dan bisa pulang bersama kita. Untuk Ersin, Alina sudah membuat janji dengan Ayah,” jawab Alina.
“Janji apa?” tanya Mirna penasaran.
“Setelah ayah sembuh ibu pasti akan tahu,”
“Disaat seperti ini pun kau mau rahasia-rahasian sama ibu, dasar anak nakal,” Mirna kesal.
“Ayah akan sembuh kan bu?” Alina menaruh kepala di pundak Mirna dan memeluknya.
“Tentu saja, ayahmu laki-laki yang kuat.” Mereka saling menguatkan satu sama lain.