Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 8



Rumah Nisa


Acara makan malam dadakan bersama keluarga Dandy, entah apa yang direncanakannya. Dengan mengajak kedua orang tuanya, pasti ada maksud dibalik makan malam yang secara tiba-tiba ini. Itulah yang ada di benak Nisa sekarang.


Segala persiapan sudah selesai dilakukan, semua sudah tertata rapi diatas meja, hanya menunggu tamunya saja. Nisa pun sudah siap dengan baju yang sopan dan riasan seadanya. Di dampingi ibu dan ayah serta adik perempuannya.


Nisa anak ketiga dari 4 bersaudara. Kedua kakak laki-lakinya sudah berumah tangga dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Kini tinggal ia dan Adiknya yang masih kelas 3 SMA. Akhirnya Dandy dan kedua orangtuanya tiba di rumah Nisa. Tidak ada rasa canggung sama sekali karena memang keluarga itu sudah saling mengenal semenjak anak mereka menjalin hubungan, dan tentu saja sudah mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga.


Sebenarnya mereka ingin cepat anak-anaknya melangsungkan pernikahan, tapi karena Nisa yang menolak karena alasan kuliah yang masih belum selesai, ia tidak mau mengganggu kuliahnya. Itu yang selalu ia katakan, tapi sebenarnya Adit lah alasan terberatnya, seseorang yang tidak rela ia tinggalkan. Ingin menyudahi hubungan ini, tapi apa yang akan dikatakan keluarga Dandy, dan lagi ibu dan ayahnya sudah sangat merestui mereka.


Hubungan kedua keluarga itu akan rusak jika Nisa menyudahi hubungan ini secara tiba-tiba dan lagi jika mereka mengetahui alasan Nisa melakukannya karena adanya laki-laki lain. Bagaimana hancur perasaan Dandy jika hal itu sampai terjadi. Beribu pertimbangan dalam diri Nisa yang sampai saat ini masih belum bisa ia utarakan.


Acara makan berlangsung dengan perbincangan hangat mereka, setelah membahas beberapa bisnis keluarga, dan yang lainnya. Sekarang menjadi pokok penting dari makam malam ini.


Terlihat Dandy yang begitu bahagia, menjadi tanda tanya di hati Nisa. Tapi ia tidak mengatakan apapun, hanya menunggu waktu berjalan.


“Bagas anak-anak kita sudah menjalin hubungan cukup lama, kurasa sudah cukup untuk mereka menuju ke jenjang pernikahan, dan juga sebentar lagi Nisa akan selesai kuliah.” Ayahnya Dandy berbicara.


“Iya ku rasa juga begitu, kami juga menginginkan mereka cepat-cepat menikah,” jawab papanya Nisa.


“Tapi om, kuliah Nisa belum selesai, tunggu beberapa bulan lagi,” jawab Nisa. Alih-alih agar rencana pernikahan bisa di undur.


“Kami sudah tidak sabar menimang cucu, ya kan ma?” tanya ayah Dandy pada istrinya.


“Iya pa, tidak apa-apa pa kita tunggu sebentar lagi.” Istrinya menjawab.


“Bagaimana dengan pertunangan saja, kalian sudah lama bersama tidak ada salahnya jika melangsungkan pertunangan.” Ayah Dandy berbicara lagi.


“Aku juga setuju dengan usulmu Bram, kita tentukan saja tanggal baiknya.” Ayah Nisa menjawab.


“Tapi pa kuliah Nisa gimana?” tanya Nisa, menyela obrolan itu dan tentu saja membuat Dandy tidak suka.


“Itu tidak akan menggangumu sama sekali sayang, hanya bertunangan saja. Kalaupun nanti kita menikah aku tidak akan menghalagi karirmu sama sekali. Apa yang sebenarnya kau takutkan?” Dandy tidak bisa menahan lagi karena penolakan kekasihnya selama ini.


“Aku hanya ingin kuliahku selesai dulu, aku juga belum ada niat untuk menikah.” Kata itu terlontar dengan sendirinya dari mulut Nisa.


“Bukan maksudku tidak mau menikah, tapi berikan aku sedikit waktu. Aku juga ingin bekerja dulu sebelum aku menjalani kehidupan berumah tangga itu saja.” mencari alasan, hanya itu yang saat ini bisa dilakukan.


“Tapi kau harus setuju dengan pertunangan ini.” Dandy mengatakan itu dengan jelas. Nisa terdiam, berpikir sejenak. jika terus menolak mereka akan mulai curiga terhadap dirinya.


“Kau tidak senang dengan ide ini Nisa?” mamanya bertanya.


“Tentu saja ma Nisa senang ma,” ucap Nisa sedikit berpura-pura.


“Aku tau ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, tapi sampai kapan kau bisa bersembunyi dariku,” ucap Dandy dalam hati.


Dandy sudah mulai merasakan ada yang berbeda dari sikap kekasihnya ini. Terkadang menanyakan kabarnya pun jarang dilakukan. Tapi Dandy tidak mempermasalahkan, karena hubungan yang sudah lama dan lebih baik mengalah dengan tidak meributkan hal kecil. Tapi bukan berarti ia akan diam saja.


Makan malam telah selesai, keluarga Dandy juga sudah pamit pulang ke rumah mereka. Kini yang harus dipersiapkan adalah pertunangan anak mereka yang akan diadakan dua minggu lagi.


“Ada apa sebenarnya denganmu, apa kau ingat dulu kau yang ingin cepat-cepat meresmikan hubungan kalian, kenapa baru sekarang kuliahmu selalu menjadi alasan. Mama tidak paham denganmu.” Mama Nisa juga mulai merasakan kejanggalan dari sikap anaknya.


“Ma apa bisa mama sekarang mengerti Nisa, bagaimana kalau perasaan Nisa bukan milik Dandy lagi, bagaimana jika pernikahan itu tidak akan pernah terjadi?” Air mata Nisa sudah mulai menetes.


“Kau ingin membuat malu keluarga kita hah, apa kau tahu berapa banyak keluarga Bram membantu bisnis papamu?” Sontak Bagas meninggikan suaranya.


“Apa bisnis papa lebih penting dari hidupku, lebih penting dari kebahagianku?”


“Kau yang memulai hubungan ini, kami tidak pernah memaksakan apapun padamu, jika kau punya masalah dengan Dandy selesaikan dengan cara baik-baik kau bukan anak kecil lagi, jangan sampai kau mengambil keputusan yang salah. Apa pilihanmu lebih baik nantinya?”


“Pa aku.. ” Nisa tidak bisa memberitahu jika dia menyukai orang lain.


“Kau adalah anak papa, papa hanya ingin kau bahagia. Dandy anak yang baik Nisa, apalagi orangtuanya menyangimu. Itu sudah cukup untuk papa, bisa mempercayakan anak papa pada mereka.” Bagas memeluk putrinya, meyakinkan bahwa tidak mungkin orangtua akan menempatkan anaknya pada pilihan yang salah. Hanya air mata Nisa yang bisa menjawabnya. Walaupun Bagas terkadang main tangan, tetapi ia sangat menyayangi anaknya.


“Sayang papamu benar nak, coba ceritakan sama mama apa masalah mu sebenarnya dengan Dandy, mama akan mendengarkanmu.”


“Tidak ma, Nisa hanya masih ragu dengan perasaan Nisa,” jawabnya. Kejanggalan pun dirasakan oleh ibunya Nisa. Tapi apa daya, ia tidak mungkin memaksa anaknya untuk berbicara.


Nisa masuk ke dalam kamar, mencari keberadaan ponselnya, ya Adit, dia yang harus Nisa hubungi sekarang, memberitahu pertungannya yang akan dilaksanakan sebentar lagi.


Betapa hancur hati Adit mendengarnya, kesempatan yang ia nantikan mungkin tidak akan ada lagi. Hubungan yang ia jalani selama ini ternyata akan berujung seperti ini. Hatinya akan menyerah sekarang.


Like, Like, Like


Vote, vote, vote


dan tinggalkan jejak my lovely readers