
Mereka melupakan sesuatu, masih ada satu orang yang berada disana. Dan mengamati mereka dengan seksama.
“Kenapa aku tidak merekamnya tadi, presdir bodoh itu mengalahkan drama-drama korea yang ada di tv.” Rey yang masih keheranan memandang atasannya.
Selama beberapa tahun Rey mengikuti Ersin baru kali ini ia menyaksikan pemandangan seperti ini, tentu saja mustahil baginya hanya karena seorang gadis Ersin berlutut memohon maaf. Rey juga mengenal beberapa mantan kekasih Ersin sebelumnya, dan tentu saja ia pernah disusahkan dengan mereka, tapi kali ini sungguh berbeda.
Beberapa wanita yang ada disekitar Ersin hanya melihat fisik dan ketampanannya saja. Justru jika sebaliknya mungkin ia tidak akan dikelilingi banyak wanita. Sesudah mendapat maaf Ersin sungguh merasa lega.Kini perasaan canggung mulai tercipta antara Ersin dan Alina. Mereka masih berdiri di depan pintu, dan Rey masih siap siaga di posisi semula.
“Uhuk uhuk.” Rey yang berpura-pura batuk. Seketika Alina dan Ersin menoleh, Rey memalingkan mukanya.
“Aku akan kembali ke kantor, lupakan kata-kataku sungguh aku tidak bermaksud menyinggungmu dan menghinamu, aku tidak bisa menahan emosiku,” ucap Ersin, rasa bersalah masih ia rasakan mengingat kata-kata yang ia lontarkan ke Alina.
“Pergilah,” jawab Alina singkat.
“Itu saja?” Ersin merasa tidak terima.
“Lalu?” Masih dalam mode datar.
“Bukankah kau sudah memaafkanku? kenapa sikapmu seperti itu?” tanya Ersin tidak terima. Alina menghela nafas.
“Pergilah dan hati-hati di jalan,” ucap Alina.
“Masih kurang bagus,” ujar Ersin.
“Sepertinya aku salah sudah memaafkanmu,” ucap Alina.
“Jangan mulai lagi, baiklah aku pergi, nanti aku akan menghubungimu.” Alina hanya menganggukan kepala.
“Tuan kita kembali ke kantor?” tanya Rey.
“Ke rumahku,” jawab Ersin. Rey tersenyum karena tidak harus bekerja lagi.
“Kau tetap kembali ke kantor, lakukan tugasmu,” ucap Rey.
“Baik tuan muda,” jawabnya lesu.
“Kau tidak senang? kau ingin pulang juga?” tanya Ersin.
“Jika tuan mengizinkan.” Rey berharap.
“Boleh saja, tetaplah di rumah seterusnya jangan kembali ke perusahaanku.” Ersin mengancam.
“Saya akan ke kantor saja tuan,” jawab Rey.
“Apa nona Alina masih tetap marah tuan?” tanya Rey
“Tidak,” jawab Ersin singkat.
“Lalu kenapa anda terlihat tidak senang?” tanya Rey lagi.
“Ini semua karena kau, dan orang suruhan bodohmu itu. Jika mereka tidak memberi informasi yang tidak lengkap, aku tidak akan seperti ini dengan Alina.”
“Maafkan kebodohan saya tuan.” Rey sedikit menundukan kepala, tapi ia tetap waspada dengan kemudinya.
“Cih, kau sendiri yang tidak sabaran,” batin Rey. Ersin sudah sampai di depan rumahnya, diikuti dengan Rey.
“Kembalilah ke rumahmu,” ucap Ersin.
“Berani sekali kau membantah perintahku.” Ersin meninggikan suaranya.
“Baik tuan saya akan kembali ke rumah.” Ersin masuk dengam tersenyum ia berhasil mengerjai assistennya.
“Rasanya aku ingin menendang bokongnya,” gerutu Rey.
*****
Alina meraih tas yang ia lempar dan kini menuju ke kamarnya, ia masih memikirkan kata terakhir Ersin yang akan menghubunginya. Sungguh berbeda rasanya, ketika ia dekat dengan orang lain sebelumnya.
“Apa aku menyukai Ersin? kenapa aku seperti menunggu ia memberi kabar,” ucap Alina gelisah.
“Tidak tidak, tidak mungkin. Ini hanya perasaan kagum, umurnya jauh diatasku. Anggap saja dia seperti seorang kakak, iya jangan lebih dari itu.”
Banyak sekali pesan yang masuk, dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Fitri. Mereka pasti khawatir karena Alina tidak kembali ke kelas dan menghilang begitu saja. Alina melakukan panggilan video untuk kedua sahabatnya.
“Akhirnya kau menelponku, kau tidak menghitung berapa kali aku menghubungimu? aku kira tanganmu keduanya patah dan tidak bisa mengangkat teleponku,” ucap Fitri spontan.
“Hehe, kau mau tanganku patah Fit,” jawab Alina.
“Asal kau tahu ya Lin kita berdua mencarimu keliling kampus, kemana kau sebenarnya? Siapa orang yang mencarimu, sampai kau menghilang begitu saja?” tanya Dinda.
“Oke satu-satu ya bu ibu, begini yang tadi itu adalah sekretarisnya orang yang dulu mau dijodohkan denganku. Hem tadi dia kemari karena ada.. itu kakeknya akan balik ke luar negeri, hem jadi aku mengantarnya ke airport.” Alina mencari-cari alasan.
“Semoga mereka percaya, tidak mungkin aku cerita yang sebenarnya, apalagi masalah Nisa dan Adit,” batin Alina.
“Memang kalau bukan kau yang mengantar kakek itu, apa dia tidak jadi balik ke luar negeri? begitu maksudnya?” tanya Fitri.
“Bukan begitu Fit, ya karena kita sudah lama tidak bertemu jadi tidak ada salahnya aku mengantar kan. Sudah jangan bahas itu lagi, Maaf ya sudah membuat kalian khawatir,” ujar Alina.
“Terus itu matamu kenapa bengkak begitu? sesedih itukah kau ditinggal pergi?” Merasa jawaban Alina yang tidak masuk akal jadi Fitri terus saja bertanya.
“Aku baru bangun, untuk apa aku menangis,” jawab Alina.
“Jangan berbohong Alina cerita saja kau kenapa?” Alina tersenyum dengan pertanyaan Dinda.
“Untuk apa aku berbohong, kalian ini ada-ada saja, aku kan sudah menjelaskan kepada kalian.” Alina mengelak.
“Okelah jika kau tidak mau cerita, aku juga tidak mau memaksamu, aku mau tidur saja, oke bye,” ucap Fitri, sebenarnya dia malas karena ia tahu Alina tidak mengatakan yang sebenarnya, dan sangat terlihat ia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Aku juga tidak paham denganmu Alina, aku tutup teleponnya Lin, bye,” ucap Dinda, seketika menghilang dari layar ponsel Alina.
“Hey tunggu dulu.” Panggilannya sudah terputus.
Bukan maksud Alina untuk berbohong, tapi menurutnya tidak baik jika ia menceritakan perihal Nisa dan Adit, dan apa yang menimpa Nisa sekarang. Dan lagi Alina paham siapa sahabatnya, pasti mereka akan bertanya terus menerus.
“Mereka pasti sangat kesal denganku sekarang, besok aku akan membujuk mereka,” ucap Alina.
Terimaksih buat kalian yang sudah baca sampai disini, yang sudah kasih like, komen dan juga dukungannya walaupun ceritanya tidak sebagus cerita lain, mohon dimaklumi. Jangan bosan-bosan ya readers.
salam hangat dari author.
THANK YOU ALL
STAY SAFE ALWAYS