
Semua terdiam, sekaligus penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh kakek Rendra. Apalagi perkataannya yang menyebutkan menyangkut tentang cucunya.
“Abi kau tahu kan, aku dan juga orangtuamu, kami sudah berteman sejak remaja. Saat aku mendengar mereka telah tiada aku begitu terpukul kehilangan teman baikku. Mereka bukan aku anggap teman lagi bahkan sudah seperti keluarga bagiku” Kakek memulai pembicaraan dengan nada yang serius.
“Paman aku juga sudah menganggap paman sebagai keluargaku,” jawab Abi.
“Ini adalah cucuku satu-satunya, aku ingin hubungan kita menjadi keluarga yang sebenarnya. Kau ingin aku yang berbicara atau kau yang mau mengatakannya sendiri?” Pertanyaan itu ditujukan kepada cucunya Ersin.
Dari sana Pak Abi sudah bisa mencerna, apa yang akan di maksudkan oleh kakek Rendra.
“Paman, aku memang belum lama mengenal putrimu, dan juga ini adalah pertemuanmu yang pertama denganku. Tapi itu tidak membuatku mengurungkan niatku. Aku ingin melamar anak paman Alina. Aku ingin meminta restu dan ijinmu.” Ucap Ersin, yang membuat Pak Abi diam, terlebih lagi Alina.
“Aku ingin menjodohkan cucuku dengan anakmu Abi,” sambung Kakek Rendra lagi.
“Nak apa kau serius? pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau lakukan sesuka hatimu.” Tama yang mulai angkat bicara.
“Papa benar, pikirkan lagi apa yang mau kau lakukan.” Mama Tania pun ikut menasehati anaknya.
“Bagaimana paman, aku masih menunggu jawaban paman?” Ersin bertanya pada Abi.Tanpa mengubris perkataan dari orangtuanya.
“Apa yang dia bicarakan, dia sedang bercanda atau apa, aku tidak mau menikah dengannya, walau dengan orang lain sekali pun. Dia kira dengan memiliki wajah tampan akan semudah itu mendapatkan gadis.” Alina merasa sedikit terkejut, genggamannya semakin erat di tangan ibunya. Menundukan kepalanya berharap agar ayahnya tidak menyetujui perjodohan itu.
“Aku sangat menghargai niat baik kalian, aku sangat senang jika itu bisa terjadi. Tapi aku hanya memiliki satu orang putri, putri yang sangat aku sayangi. Dan aku tidak ingin egois pada putriku. Dia masih berumur 19 tahun, aku tidak ingin merebut masa remajanya, Aku tidak akan memaksakan jika itu bukan kehendaknya. Bukan maksudku untuk menolak perjodohan ini, tolong mengerti aku sebagai orangtuanya paman.” Pak Abi sudah tidak bisa berkata banyak. Di sisi lain ia tidak mau mengecewakan kakek Rendra tapi putrinya lebih berharga di banding apapun baginya. Alina tertegun mendengar ucapan ayahnya.
“Kau berpikir seolah-olah akan kehilangan putrimu Abi, aku tidak akan sekejam itu. Aku tidak akan menikahkannya sekarang. Tapi aku mau menjodohkan dia.” Ucap Kakek Rendra.
“Aku memahami maksud paman, tapi aku tidak bisa memutuskannya sendiri paman, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu.” Balas Pak Abi lagi.
“Aku akan bertanya kepada anakmu, nak apakah kau bersedia menerima perjodohan ini?” Langsung ke orangnya mungkin lebih tepat menurut Kakek Rendra.
“Apakah kakek akan menjodohkan Alina dengan om itu?” bertanya dengan gugupnya. Sontak membuat yang lain tertawa.
“Apa aku setua itu dimatamu, tidak ada panggilan yang lebih baik lagi dari itu? kamu bisa memanggilku kakak, atau yang lain. Aku masih 27 tahun Alina.” Penjelasan dari Ersin yang tidak terima di panggil om.
“Kau lihat itu, Alina saja memanggil mu om. Bagaimana dia menjadi istrimu nak.” Mama Tania menyela perdebatan itu, tentu saja lucu menurutnya.
“Alina kami tidak akan memaksamu sama sekali, bibi bertanya sekali lagi, apa kau bersedia?”
“Alina masih 19 tahun dan juga masih sekolah. Dan Alina belum berpikir untuk menikah, maupun terikat perjodohan seperti ini. Maafkan Alina.” Penolakan yang halus dilontarkan Alina.
“Aku bisa menunggu kesiapanmu Alina, itu janjiku.” Sambung Ersin lagi.
“Jangan menjanjikan apapun padaku, aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang mungkin tidak bisa aku tepati.” Jawab Alina
“Kau mau menolakku tanpa ingin mengenalku dulu?” suara Ersin mulai menegas.
“Ersin benar nak, kenapa kalian tidak saling mengenal dulu, kalau cocok kita lakukan perjodohan itu, tapi jika menurutmu tidak, keputusan ada di tanganmu. Bagaimana menurutmu Abi?” Kakek Rendra bicara lagi, menurutnya apapun akan dilakukan agar perjodohan itu tetap berlangsung.
“Aku serahkan keputusannya pada putriku, bagaimana menurutmu nak, ayah dan ibu akan mendukung apapun itu.” Ucap Pak Abi
“Alina akan menerimanya.” Hanya itu yang bisa Alina lakukan saat ini, mungkin itu yang terbaik buatnya. Alina tidak ingin berlama-lama dalam situasi ini toh juga ia membatalkannya kapan saja ia mau.
“Apa kamu serius nak?” Tanya ibu pada Alina.
“Iya bu, Alina serius. Tidak ada salahnya untuk mencoba,” jawabnya.
“Baiklah kita sudah putuskan itu, jangan merasa tertekan nak, kami sama sekali tidak memaksamu.” Kakek Rendra mencoba meyakinkan Alina lagi.
“Tidak sama sekali kek, kakek tidak perlu mencemaskan Alina,” balasnya.
“Mati aku sekarang, kenapa aku harus menyetujui permintaan bodoh ini, ahh rasanya aku mau teriak disini.” Gerutu Alina dalam hati.
Malam ini menjadi malam yang bersejarah menurut Alina, perjodohan yang tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya. Bagaimana ia bisa menerima laki-laki yang yang baru saja ia temui bahkan belum mengenalnya. Di dalam mobil, Pak Abi memandang putrinya melalui kaca, Alina yang duduk di kursi belakang. Rasa bersalahnya muncul karna tidak bisa melindungi putrinya.
“Alina maafkan ayah, ayah tidak bisa membatalkan perjodohan ini.“ Dengan nada sendunya.
“Kenapa ayah bicara begitu, Ini bukan salah ayah. Ayah sudah berusaha yang terbaik buat Alin. Yang kurang ajar itu adalah om yang tadi itu, bisa-bisanya dia membuat permintaan bodoh. Dan lagi apa-apaan tadi dia menjebakku dengan satu pertanyaan. Kalau tidak kan perjodohan itu sudah batal.” Kesalnya, tapi buat ibu dan ayahnya tersenyum.
“Ayah bangga padamu sayang.”
“Ibu juga belum mau di tinggal kau nak, nanti ibu kesepian tidak ada dirimu.”
“Tidak ada yang ibu bisa ledekin kan maksud ibu,” ketus Alina, ayahnya hanya tertawa.
“Kok Alin begitu sama ibu. Tapi nak kalau di pikir-pikir Ersin itu tampan sekali, kan sayang kalau di tolak.”
“Ibu kan mulai lagi, kalau sayang om itu buat ibu saja. Ayah liat tuh ibu.” Mengadu pada ayahnya. Tapi tidak bisa dipungkiri ucapan ibunya benar Ersin memang sangat tampan.
“Ibu jangan begitu,” ucap Pak Abi.
“Ibu kan bercanda nak haha. Kok buat ibu, lah suami ibu mau di bawa kemana dong,” sambung ibu lagi.
Sepanjang perjalanan mereka membahas ini dan itu, tertawa bersama. Ini lah yang sangat tidak rela Alina tinggalkan kebersamaan dengan orangtuanya. Menjalani kehidupan sebagai seorang istri yang belum siap ia jalani. Begitu pun Pak Abi bagaimana ia bisa melepas putri satu-satunya secepat itu, kepergian orangtuanya sudah cukup membuat luka di hatinya.
Ia ingin membahagiakan anaknya, sesuatu yang belum lengkap ia rasakan dari orangtuanya. Tidak ingin Alina merasakan seperti dirinya. Itulah janjinya menjadi suami dan ayah yang baik pada istri dan anaknya. Kini mereka sudah sampai di rumah, ingin cepat mengistirahatkan badan karna lelah, apalagi Alina yang sangat lelah dengan drama hari ini.
Mohon like dan komennya readers
Thank you ❤