
Seburuk apapun kesalahan seorang anak, sefatal apapun hasilnya, satu hal yang tidak akan pernah berubah, dia tetaplah anakmu, apapun yang terjadi. Pernikahan yang sakral tentu bisa mengalami perpisahan, dan akan menjadi bekas atau mantan suami dan istri. Sepasang kekasih pun akan sama, tetapi tidak ada yang akan menjadi bekas anak ataupun bekas orangtua. Berusaha menerima kesalahan, lalu mencoba untuk memperbaikinya serta akhirilah dengan memaafkan.
Tidak ada manusia yang terlahir tanpa akan melakukan dosa dan kesalahan. Pertengkaran selalu terjadi antara Rena dan Bagas, adu mulut tanpa henti, ucapan yang menyakitkan hati selalu terlontar begitu saja. Rasa lelah meliputi hati dan pikiran Rena, lelah hati dan perasaan.
“Jika kau tidak bisa mencari anakmu dan membawanya pulang, aku yang akan mencarinya. Aku tidak perlu apapun darimu apalagi meminta pertolonganmu,” ucap Rena pada suaminya.
“Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada anak itu,” jawab Bagas.
“Sampai kapan? sampai hatimu puas?” Kau lebih mementingkan orang lain, karena membantu bisnismu, menjaga perasaannya daripada anakmu sendiri.”
“Kau tetap saja membela Nisa, anak itu hamil di luar nikah--” jawab Bagas belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Cukup aku tidak mau dengar apapun. Ayah macam apa kau ini, aku sadar anakku bersalah, aku tidak memungkirinya. Sekarang kau membenci anakmu, sedangkan Dandy suatu saat dia akan bersama perempuan lain. Dia akan melupakan Nisa.Tapi apa yang kau lakukan ini, jika seterusnya kau bersikap seperti ini sampai seumur hidup Nisa akan mengingatnya, camkan itu.” Emosi begitu meluap-luap.
“Aku tidak ingin membuang tenagaku lagi, sudah cukup, aku akan angkat kaki dari rumah ini.” Rena tidak akan bisa menahannya lagi, karena sampai saat ini anaknya belum kembali.
Bagas terdiam, selangkah lagi semuannya akan hancur. Ketegasan hatinya melunak, betapa kerasnya dia terhadap anaknya sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, Bagas mencegat istrinya. Jika semua orang pergi meninggalkannya, dia bukanlah siapa-siapa.
“Aku akan membawa Nisa kembali, tetaplah disini tunggu kami,” ucap Bagas.
“Pegang kata-katamu itu, kalau sampai besok anakku belum disini aku yang akan pergi.”
“Ma maafkan papa, papa berjanji akan membawa pulang Nisa,” ucap Bagas kepada istrinya.
“Aku akan memaafkanmu jika Nisa sudah berada di depan mataku.” Rena sedikitpun tidak bergeming, Bagas tidak bisa berkata-kata lagi. Segera dia menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan anaknya.
Sebenarnya ia juga sangat cemas tapi egonya menutupi semua itu. Kemarahan yang meliputi dirinya sekejap melupakan kasih sayang terhadap anaknya sendiri. Keesokan paginya, Bagas sudah mendapat informasi keberadaan anaknya. Tidak susah mencari informasi tentang Nisa karena sudah pasti ia akan bersama Adit, pikir Bagas. Segera Bagas bersiap untuk menjemput anaknya.
Tapi ketika membuka pintu Nisa dan Adit sudah dihadapannya. Kesedihan sangat tergambar di wajah Nisa, Bagas merasakan sedikit sesak di dadanya. Begitu tega ia memperlakukan anaknya dengan begitu kejam dan kasar. Benar apa yang dikatakan istrinya, apa yang telah dia lakukan akan selamanya membekas di hati Nisa.
“Papa.” Nisa tersentak, seketika pintu terbuka dan ayahnya sudah di depan mata. Rasa takut kembali menghampiri Nisa, apakah ia akan diusir untuk yang kedua kalinya.
“Kau sudah lama disini? papa baru akan mencarimu,” ucap Bagas, menyembunyikan mata merahnya.
“Masuklah, mama menunggumu dari kemarin.” Nisa mengikuti ayahnya, dan menerka-nerka perkataan ayahnya. Cara bicara yang sangat berbeda dari sebelumnya.
'“Apa papa sudah mau menerima semua ini,” batin Nisa.
'“Akhirnya kau pulang sayang.” Memeluk Nisa erat, akhirnya anaknya kembali.
“Mama akan kemasi barang mama, dan kita pergi dari sini.” Kata itu ia ucapkan semata-mata untuk menyadarkan suaminya, jika anak dan istringa adalah hal penting yang harus ia pertahankan.
“Kenapa mama pergi juga?” Nisa tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.
“Ma, apa maksud mama? bukankah mama akan memaafkan papa jika Nisa sudah di rumah,” ucap Bagas, ketika Nisa mendengar itu, ia berpikir bahwa papanya bisa menerima hanya semata-mata karena ibunya.
”Tapi untuk apa aku disini jika anakku tidak diterima,” jawab Rena masih dalam mode sandiwara.
“Papa tidak salah, ini semua kesalahan Nisa, makasi pa sudah mau memaafkan aku.” Menuju ke arah ayahnya dan memberikan pelukan hangatnya.
'“Terimakasih paman, sudah memaafkan kami dan juga untuk restumu,” kata Adit kepada Bagas yang akan menjadi mertuanya.
“Kapan kau akan membawa orang tuamu kesini? cepat bawa mereka dan tentukan tanggal baiknya.” Bagas dengan nada acuhnya.
“Papa,” celetuk istrinya.
“Secepatnya paman, hari ini pun saya bisa membawa mereka kesini,” ucap Adit yang masih sungkan.
“Tidak perlu kau sungkan seperti itu, kau akan menjadi menantuku kelak. Aku sudah menyerahkan anakku padamu tolong jaga dia dengan sangat baik. Aku tidak mau ada penyesalan karena telah merestui kalian,” ucap Bagas.
“Paman aku akan menjaganya sama seperti yang kalian lakukan aku berjanji paman.” Dengan penuh keyakinan Adit mengucapkan itu.
“Jika sampai kau menyakiti anakku, aku akan mengambilnya lagi, jangan kau kira aku akan diam saja.” Ancaman dari seorang ayah.
“Papa sudah, ayo kita duduk mama akan siapkan makanan,” ucap Rena agar suaminya ini berhenti bicara.
“Nisa akan bantu mama,” ujar Nisa.
“Tidak Nisa, kau temani saja Adit disini biar mama sama bibi saja.” Rena tahu anaknya tengah hamil muda jadi ia tidak mau anaknya terlalu lelah, insiden kemarin pasti sudah menguras tenaga Nisa.
“Baiklah ma.” Betapa bahagianya Nisa, hari yang diidam-idamkan selama ini akhirnya bisa terjadi.
Kini Adit sudah pamit pulang, dan besok ia akan kembali bersama orangtuanya.
“Mama, papa terimakasih dan maaf Nisa sudah membuat kalian kecewa,” ucap Nisa.
“Jangan buat kesalahan yang sama, kau akan menjadi seorang ibu, berikan contoh yang baik untuk anakmu kelak.” Nasehat ibunya.
“Iya ma Nisa berjanji.” Nisa merasa sangat lega, akhirnya setelah ini ia akan bisa menikah dengan laki-laki yang ia cintai.
“Naiklah ke kamarmu, kau tidak boleh terlalu lelah,” ucap mamanya.
“Baiklah ma.” Nisa menuju kamarnya.
“Papa lihat, perbedaan anak kita?”
“Perbedaan apa maksud mama?” tanya Bagas heran.
“Disaat dia bersama Adit dan Dendy, papa lihat anak kita bahagia, berbeda sekali disaat bersama Dandy dia terlihat tidak nyaman, anak kita tidak salah memilih pa.”
“Iya mama benar, papa akan menemui orangtua Dandy dan minta maaf secara langsung.”
HAPPY READING