
Secara perlahan Alina membuka mata, sedikit cahaya yang menyinari menghalangi tidurnya. Terdengar samar suara orang memanggil, alarm tanpa di setel akan berbunyi secara otomatis setiap hari, siapa lagi kalau bukan ibu, entah panggilan yang ke berapa tapi tetap saja belum mendapat jawaban. Tidur larut karena gelisah, membuat Alina bangun kesiangan. Melihat ke arah jam, sudah menunjukan pukul 7 lebih.
“Astaga aku akan telat, hanya tersisa 25 menit.” Melempar selimut yang melingkari tubuhnya, seketika kantuk yang ia rasakan menghilang. Tanpa berpikir lagi Alina menuju kamar mandi. Mandi dengan kecepatan super, setelah memakai pakaian lengkap, tangannya meraih tas dan memasukkan beberapa buku, segera berlari turun ke bawah. Bermake up saja tidak sempat Alina lakukan, hanya mengoles sedikit lipstik agar tidak terlihat pucat.
“Ibu ayah Alina berangkat ya,” ciuman di pipi silih berganti pada ibu dan ayahnya.
“Pelan-pelan, ini sarapannya,” ujar ibunya.
“Tidak sempat bu nanti Alina makan di kampus.” Hanya suaranya saja yang terdengar, raganya sudah tak terlihat.
“Hati-hati Alina, dasar anak itu selalu saja begini,” ucap ibunya.
Disaat seperti ini, jiwa-jiwa seorang pembalap motor akan keluar dengan sendirinya, tanpa ada rasa takut sama sekali. Dengan gesitnya Alina membawa motor, kendaraan lainnya ia salip dengan mudah. Untung saja lalu lintas pagi ini bersahabat, jadi tidak ada penghalang. Akhirnya sampai di area parkir kampus, namun sayang tetap saja tidak tepat waktu.
Alina berlari menuju kelasnya, deringan ponsel sedari tadi berbunyi tidak dihiraukannya. Sebelum memasuki kelas Alina menyempatkan untuk mematikan nada dering ponselnya, panggilan itu dari Ersin, ini sudah panggilan yang ke-5. Sekilas teringat kejadian semalam membuat Alina tersenyum dan membuat dadanya sedikit berdebar.
“Permisi pak, maaf saya terlambat,” ucap Alina setelah mengetuk pintu.
“Masuk, saya baru saja mulai,” ucap Pak Reno, untung saja pagi ini adalah mata kuliah Pak Reno.
Alina duduk di samping Fitri, nafasnya masih ngos-ngosan.
“Kau berhutang banyak penjelasan pada kami Alina.” Fitri berbisik di telinga Alina dengan suara horor dan sorot mata yang tajam membuat Alina merinding.
“Aku colok matamu baru tahu rasa.” Alina sedikit kaget dengan perlakuan Fitri, ia hanya tersenyum.
Disisi lain Ersin sedang menunggu jawaban telepon dari Alina, tidak biasanya Alina tidak menjawab panggilannya.
“Apa gadis itu berusaha menjauhiku karena kemarin?” ujarnya penasaran, dan melihat arloji yang melingkari pergelangan tanganya. Memastikan waktu saat ini, mungkin Alina masih ada kelas.
“Aku tunggu, jika tidak ada jawaban jangan salahkan aku, aku akan muncul dihadapanmu, apa kau berani menghindariku.” Senyum seringai, membayangkan gadis pujaan hatinya.
Mata kuliah pertama sudah usai, sekarang saatnya membayar hutang penjelasan yang sedari tadi sudah mengintai.
“Cepat jelaskan apa yang terjadi antara kau dan Ersin yang tampan itu? apa kalian sudah … ”
“Heh jangan sembarangan, aku hanya makan saja dengannya,” jawab Alina cepat.
“Maksudku sudah jadian Alinaa, dasar otakmu traveling terlalu jauh,” jawab Fitri tidak terima.
“Hhmm belum, aku belum memberinya jawaban.”
“Jadi semalam dia sudah menyatakan perasaannya padamu?” dijawab Alina dengan anggukannya.
“Lalu apa yang kau tunggu lagi?” tanya Dinda.
“Aku masih belum yakin padanya,” jawab Alina.
“Kau menyukainya?” Dinda bertanya.
“Iya aku menyukainya, mungkin aku sudah menyukainya.” Menyelipkan senyum diujung bibirnya, jawabnya dengan sedikit malu.
“Seandainya aku yang menjadi dirimu, tanpa pikir panjang lagi aku pasti akan langsung terima,” ujar Fitri.
“Kalau orangnya sejenis Ersin, untuk apa pikir panjang lagi,” jawab Fitri.
“Haruskah aku menerimanya?” tanya Alina meyakinkan.
“Itu tergantung keputusanmu saja, selama apapun kau berpikir dan memberi waktu jika kau memang tidak mau, itu tidak akan berpengaruh. Jika kau memang menyukainya tidak ada salahnya jika kau memberikan Ersin kesempatan,” ucap Dinda memberi pendapat.
“Temanku yang satu ini memang bijaksana sekali,” ucap Fitri memberi pujian pada Dinda.
“Kau belum tahu bagaimana Ersin, aku hanya takut aku tidak akan bisa bebas menjalani hidupku,” ucap Alina.
“Pikirkanlah dulu, hal terbaik hanya kau yang bisa memutuskan.” Dinda memberi semangat kepada Alina.
Kini Alina teringat dengan panggilan Ersin yang ia abaikan tadi. Alina mengirim pesan kepada Ersin menjelaskan kejadian tadi pagi.
Setelah selesai dengan cerita Ersin, yang berakhir dengan candaan dari Fitri dan Dinda mereka memutuskan untuk mengisi amunisi terlebih dahulu, Alina yang tidak sempat sarapan tentu saja sekarang perutnya sudah keroncongan. Setelah dari kantin, mereka melanjutkan mata kuliah selanjutnya.
Pesan itu masuk di ponsel Ersin, terukir senyum di wajah Ersin, mendapat kabar dari Alina. Tak jadi beranjak, Ersin kembali duduk di kursi kebesarannya, mengurungkan niatnya yang akan pergi menemui Alina.
“Tuan, kita jalan sekarang?” tanya Rey yang sudah bersiap, karena mendapat perintah dari sang atasan untuk menuju ke kampus Alina.
“Kita batalkan untuk kali ini, kau kembali saja ke tempatmu,” ucap Ersin.
“Baik Tuan.” Rey undur diri, sebenarnya masih banyak yang harus Rey kerjakan.
“Ada saja ulahmu yang membuatku kesal, dalam sekejap kau marah tanpa alasan, sekejap lagi berubah,” gerutu Rey, yang tanpa sengaja dilihat Melani.
“Hey ada apa?” tanya Melani.
“Apalagi kalau bukan karena presdir kita yang lagi jatuh cinta,” kesal Rey.
“Masih jatuh cinta kau sudah kelimpungan seperti ini, apalagi sudah menjadi sepasang kekasih aku tidak jamin bagaimana hidupmu Rey,” ledek Melani.
“Hah memikirkan saja sudah membuatku sangat kesal.” Rey menghela napas.
Entah apa yang akan terjadi kedepannya masih belum ada yang tahu.
“Sudahlah jangan dipikirkan lagi, siapa tahu ini akan lebih mudah setelah presdir kita memiliki pasangan.”
“Aku harap juga begitu, bukan pekerjaan saja yang aku urusi, tapi drama percintaan yang sangat merepotkan.”
“Aku rasa kalian tidak terlalu sibuk, apa pekerjaan yang aku berikan terlalu sedikit.” Gema suara itu membuat Rey dan Melani tersentak, Ersin memberikan tatapan tajam kepada mereka berdua dari depan pintu. Beberapa kali Ersin memanggil Rey namun tidak ada jawaban.
“Ada yang anda perlukan Tuan?” ucap Rey, sedangkan Melani, berpura-pura sibuk dengan komputernya.
“Masuk,” jawab Ersin, kembali lagi ke tempatnya.
Rey menghembuskan napas, kakinya terasa berat masuk ke ruangan itu lagi. Setumpuk pekerjaan akan Rey hadapi hari ini.
“Apa pak Presdir mendengar percakapanku dengan Rey ya, semoga saja tidak,” ucap Melani menjadi gugup.
Ya memang benar segudang pekerjaan telah menanti, beberapa meeting hari ini sudah dijadwalkan, yang dilakukan di luar kantor. Tentu saja pekerjaan itu akan dilakukan oleh Ersin dan Rey, sedangkan Melani bertugas untuk menghandle pekerjaan yang ada di kantor.