Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 38



Ersin kembali duduk dengan sempurna di kursi kemudi, memasang kembali seat belt yang semula ia lepas.


“Kau harus belajar lebih giat lagi agar bisa mengimbangi ciumanku,” goda Ersin.


“Kakaaakkk.” Betapa malunya Alina, karena benar ia sangat kaku dalam hal-hal seperti itu. Beda halnya dengan Ersin, ia terlihat bahagia tidak ada rasa canggung ataupun malu sama sekali.


Alina tak berani menoleh ke samping, bagaimana bisa Ersin terlihat begitu santai, sedangkan dirinya merasa sangat resah bercampur malu entah Alina pun tak dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Ersin bukan pria yang mendapatkan ciuman pertamanya, Alina bingung apa yang membuat Ersin berbeda dari pria yang sebelumnya pernah dekat dengan dirinya


“Gaya orang dewasa memang berbeda, sekarang hanya ciumam setelah ini apa lagi? huh,” gumam Alina gusar.


Beberapa kali Alina sempat menjalin hubungan dengan lawan jenis seusianya, ia tidak pernah diperlakukan seposesif seperti yang Ersin lakukan. Cara setiap orang memang berbeda dalam mencintai pasangannya, terkesan cuek tapi bukan berarti tak sayang, hanya saja orang tersebut mencintai dengan caranya sendiri. Tapi cara yang dilakukan Ersin memang terkesan sangat berbeda dan terkadang tidak masuk di akal.


“Alina, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Ersin


“Aku tidak memikirkan apa-apa kak,” jawabnya.


“Lalu kenapa kau melamun, siapa yang kau pikirkan?”


“Apa menurutmu diam itu berarti melamun, dan melamun itu sama dengan memikirkan seseorang?” Dengan nada sedikit ketus.


“Kau sudah berani berbicara seperti itu padaku.” Mulai mode datar.


“Aku tidak memikirkan siapapun kak.” Mode manis sedang diupayakan Alina.


“Cih kau yang mulai memancingku, kenapa nyaliku menciut hanya dengan gertakannya,” batin Alina.


“Begitu lebih bagus,” ujar Ersin.


“Apa pria tadi pernah menciumu seperti yang aku lakukan?” tanya Ersin.


“Maksudmu kak Gilang?” tanya Alina, sebenarnya ia sedikit malu dengan pertanyaan yang ditanyakan Ersin.


“Alinaaa.” Nada Ersin sudah berbeda lagi.


“Salah, maksudku laki-laki yang tidak penting itu.”


“Aku harus berkata jujur atau berbohong saja, aku takut jika dia tahu aku berbohong. Tapi aku lebih takut jika dia marah mendengar kejujuranku,” gumam Alina.


Ersin hanya menganggukan kepalanya.


“Hhmm pernah, hanya mencium pipiku, ya itu saja.”


“Good girl.” Ersin senang mendengarnya, berpikir bahwa ia yang pertama melakukan itu. Sebenarnya ia sedikit marah membayangkan Alina dicium oleh pria lain.


“Gilang pernah mencium bibirku, tapi tidak seperti yang kau lakukan, hanya mengecup saja,” batin alina.


“Jangan memanggil pria lain dengan sedekat itu, aku tidak suka mendengarnya,” lanjut Ersin.


“Kak itu hanya panggilan biasa, aku hanya menghormati jika dia lebih tua dariku. Bukan berarti aku dekat denganya.” Alina.


“Kenapa kau aneh sekali, buat saja nama panggilanmu sendiri,” gumam Alina kesal.


“Biasa? itu berarti kau juga menganggap aku biasa, sama halnya dengan pria itu?” Ersin.


“Salah lagi, lagi lagi salah,” gumam alina.


“Kenapa kau tidak pernah mengerti maksud dari perkataanku, tanggapanmu selalu saja berbeda.” Alina.


“Jika begitu rubah nama panggilanmu padaku.”


“Oke, kau mau aku panggil om Ersin, om tampan, om galak atau apa?”


“Rasanya ciumanku yang tadi masih kurang untukmu, apa aku perlu menutup bibirmu dengan ciuman?” ujar Ersin, Alina reflek menutup bibirnya dengan tangan.


“Hehe aku hanya bercanda kak, begini saja sudah bagus, tidak perlu mengubahnya lagi.”


“Apa kau menyimpan namaku dengan nama-nama aneh itu di kontak ponselmu?”


“Te-tentu saja tidak kak.” Alina sedikit terkejut, tebakan Ersin memang benar adanya.


“Sempat-sempatnya orang ini memikirkan hal itu, aku harus segera mengubahnya,” gumam Alina.


“Tapi aku tidak mau hanya dianggap biasa saja olehmu, dan juga bukan orang terdekatmu.” Ersin.


“Panggil aku sayang.” Seketika Alina tertawa mendengarnya.


“Kenapa kau tertawa,” tanya Ersin.


“Kak aku tidak mau.” Alina menolak


“Kau harus terbiasa dari sekarang.” Ersin.


“Nanti aku akan terbiasa jika sudah waktunya,” elak Alina.


“Siapa yang akan memanggilmu dengan sebutan itu, apa sayang? dasar gila,” batin Alina.


Mereka sudah sampai di salah satu restaurant, perdebatan diantara mereka terus saja berjalan sampai di meja makan, keusilan Ersin terhadap Alina tidak berhenti ia lakukan, dan terkadang membuat Alina geram karena rasa cemburu Ersin yang tidak beraturan. Hal yang tidak lupa ia lakukan adalah melihat nama dirinya di kontak ponsel Alina. Untung saja Alina sudah memasang kuda-kuda di awal, ia mencari kesempatan agar bisa mengubah nama Ersin di ponselnya, dan beberapa kontak lainnya juga Alina delete sekedar berjaga-jaga.


“Perang berhasil dihindari, aku lelah jika terus mendapat omelan tidak jelasmu,” gerutu Alina dalam hati.


Apa jadinya jika ia tidak punya kesempatan, dan Ersin melihat namanya sendiri dengan nama ‘ Om posesif ’. Alina menggantinya dengan nama Ersin yang sebenarnya dan tidak lupa ia menambahkan tanda hati sama halnya seperti kedua kontak Fitri dan Dinda.


Mereka memesan beberapa makanan dan menyantapnya dengan lahap, Alina sudah mulai terbiasa bersama Ersin lain halnya dengan pertama kali ia makan bersama Ersin. Sudah waktunya Alina untuk pulang dan Ersin harus kembali ke kantornya. Ersin tidak mengantar Alina kembali ke kampusnya, ia langsung mengantar Alina ke rumahnya.


“Kak kita kemana, kenapa tidak ke kampusku?” tanya Alina.


“Kau ingin menemui pria itu Alina.” Ersin.


“Bukan kak, motorku masih di kampus.” Alina cemberut.


“Isi otakmu hanya curiga, curiga dan cemburu huh,” gurutu Alina dalam hati.


“Kau akan melihatnya di rumah,” jawab Ersin.


“Bagaimana bisa?” tanya Alina heran.


“Kau lupa aku siapa? apa yang tidak bisa aku lakukan.”


“Menahan cemburu dan curiga, itu yang tidak bisa kau lakukan.”


“Jangan kau pura-pura tidak paham arti dari cemburu dan curiga.” Perkataan Ersin yang penuh makna. Alina terpaku mendengar Ersin, dan rasa itu masih belum Alina balas hingga saat ini.


“Apa kau perlu penjelasan dariku lagi?” tanya Ersin. Alina hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tak mau mendengar penjelasan Ersin lagi.


“Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu, dan hanya mencintaimu Alina,” ujar Ersin.


Alina membalasnya dengan senyuman manis, dibalik itu jantungnya berdegup kencang, sangat tak tertahankan ucapan dari Ersin itu membuatnya bersemu. Pria ini mengakui perasaannya berkali-kali.


“Kak, terimakasih sudah mencintaiku,” jawab Alina.


“Dan aku juga ingin kau melakukan hal yang sama denganku. Aku masih menunggumu Alina, dan jangan membuatku kecewa,” ucap Ersin.


“Baiklah kak.”


Mobil sudah sampai di depan rumah Alina, ketika Alina akan pergi Ersin mecegahnya. Dan menjulurkan tangannya, yang berarti Alina harus mencium tangannya, dan tak lupa Ersin mengecup kening Alina.


“Lakukan itu setiap saat kau akan pergi!” Peraturan baru telah tercipta, dan Alina hanya menganggukan kepala dan akan menurutinya.


Lalu bagaimana dengan motor Alina yang masih berada di kampus?


Sudah bisa di tebak siapa yang akan mengurusnya, yang pastinya akan penuh dengan sumpah serapah karena terkena imbas dari atasan yang sedang di mabuk cinta, sedangkan tidak berani untuk melakukan bantahan, apalagi sampai menolak perintah dari sang atasan.


Hallo reader, lama aku tidak menyapa kalian semua.


semoga kalian dalam keadaan yang terbaik saat ini.


terimakasih yang masih setia membaca novel yang penuh kekurangan ini.


Dan juga maaf membuat kalian menunggu karena update yang tidak beraturan.


Tinggalkan like dan komen.


HAPPY READING♥