Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 40



Langkah panjangnya menuruni anak tangga, sedikit ketenangan mulai ia rasakan. Kembali ke tempat semula, bersama istri yang masih menunggunya. Tekad pak Abi sudah bulat, bantuan Ersin sangat ia butuhkan, jika mengandalkan polisi itu saja tidak cukup, mengingat betapa lihainya penjahat ini. Pak Abi memeluk Mirna, menyandarkan kepala di pundak istrinya, tempat ternyaman untuk mengurangi beban pikiran dan ketakutan yang ia pikul saat ini. Merasakan itu, Mirna terenyuh dengan perilaku suaminya, ia ikut terdiam memberi jeda waktu untuk pak Abi.


“Ayah, ceritalah jika ayah ada masalah, apapun itu, ibu paham jika ayah sedang terbenani dengan sesuatu.” Selang beberapa menit barulah Mirna berbicara, tak hentinya ia mengelus kepala suaminya.


“Sayang apa kau bahagia hidup denganku?” tanya pak Abi.


“Tentu saja, aku wanita yang paling bahagia dan aku selalu bersyukur mempunyai suami sepertimu.” Mirna berlinang air mata.


“Terimakasih bu,” kini pak Abi beralih tidur di pangkuan istrinya. Disaat seperti ini ia sangat merindukan kehadiran orang tuanya. Sosok yang pergi meninggalkan dirinya sebatang kara. Berjuang walaupun lelah, menghidupi dirinya sendiri. Bayang-bayang pahit itu akan terjadi kepada putrinya jika ia sampai tidak bisa melindungi keluarganya.


Langit mulai cerah, saatnya melakukan aktifitas sebagaimana mestinya. Pagi hari ini, tidak biasanya Alina sudah bersiap. Tidur yang nyenyak membuat ia bangun lebih awal. Hal itupun membuat ibunya terheran. Alina sudah berada di meja makan, kali ini ia lebih dulu daripada ayahnya. Mengoles selai stroberi di atas roti tawar dan di dampingi segelas susu. Nasi bukan pilihannya hari ini, melainkan hanya dua lapis roti, itu saja sudah cukup.


“Morning putri ayah, ayah kalah cepat pagi ini,” ucapnya, kini pak Abi sudah duduk di sebelah putrinya.


“Alina tidur lebih awal semalam yah, nanti Alina akan pulang telat yah, ada tugas yang harus Alina kerjakan bersama Fitri dan Dinda.”


“Pulanglah sebelum malam, kerjakan dirumah jika belum selesai, jangan diluar sampai larut,” jawab pak Abi.


“Baiklah ayah, Alina sudah selesai sarapannya, Alina jalan ya yah.” Alina berpamitan.


“Bu Alina jalan ya.” Mencium ibunya.


“Ini masih terlalu pagi nak, kenapa kau buru-buru sekali,” ujar Mirna.


“Sekali-kali bu, biar tidak kebut-kebutan di jalan.”


“Iya hati-hati ya nak,” balas Mirna.


Sampailah Alina di parkiran kampus, ia menuju kelasnya. Kampus masih terlihat sepi karena ia datang lebih awal dari biasanya. Alina menunggu kedatangan Fitri dan Dinda di kelas. Ponselnya berbunyi, panggilan dari orang yang sama setiap harinya, yaitu dari Ersin


“Kau dimana?” tanya Ersin.


“Aku sudah di kampus kak,” jawab Alina.


“Sepagi ini?”


“Iya aku bangun lebih awal pagi ini, kau sudah di kantor?” tanya Alina.


“Aku baru akan jalan,” jawab Ersin.


“Berangkatlah, hati-hati ya kak.”


“Tampaknya kau tidak ingin berlama-lama bicara denganku” ujar Ersin.


“Jangan tutup teleponnya, kau bisa menemaniku, sebelum temanku datang.” Ersin tersenyum mendengarnya.


Ersin memasang earphone di telinganya, agar ia bisa leluasa memegang kemudi, karena hari ini Rey tidak datang menjemputnya. Sepanjang perjalanan Ersin berbicara dengan Alina. Terlintas di benak Ersin, betapa bahagianya jika ia bisa melakukan ini setiap hari. Hingga akhirnya panggilan berakhir karena mahasiswa sudah banyak berdatangan, apa lagi Alina akan diganggu oleh Fitri tentunya.


“Siapa yang kau telpon sepagi ini?” tanya Fitri.


“Om tampanku,” jawab Alina.


“Aku ingin juga Alina, om tampan seperti Ersin.”


“Mulai lagi, mulai lagi,” ucap Dinda.


“Kau ini, selalu saja tidak sependapat denganku.” Fitri mendorong lengan Dinda sedikit keras hingga Dinda hampir terjatuh.


“Kurang keras, sekalian kau buat aku sampai tersungkur atau menggelinding misalkan.” gerutu Dinda.


“Maka dari itu kau harus mendukungku” sambung Fitri lagi.


“Minggir aku mau duduk, malas pagi-pagi harus berdebat denganmu,” ujar Dinda.


“Hey siapa yang mengajakmu berdebat, aku hanya mau kau mendukungku itu saja,” saut Fitri.


“Iya itu.”


“Itu apa?” kesal Dinda.


“Lebih baik kau duduk Fitri dan keluarkan bukumu, jika kau terus bicara sampai berakhir jam pelajaran kau tidak akan pernah berhenti.” Alina melerai mereka berdua.


“Jangan duduk di sampingku, cari bangku lainnya yang masih kosong,” ujar Dinda. Tapi Fitri tak menghiraukannya sama sekali, tetap saja ia duduk di sebelah Dinda.


“Kau akan merindukanku jika jauh, jadi aku akan duduk disebelahmu seperti biasanya,” jawab Fitri acuh.


“Stop bawel kau tidak lihat siapa itu yang datang.” Dinda menoel pipi Fitri, dia terus saja berbicara sampai dosen sudah sampai di kelas pun tak ia sadari.


*****


Di depan gedung MC GROUP Rey berlari memasuki kantor, karena istrinya pagi ini ada urusan mendadak dan Rey harus menjaga anaknya. Maka dari itu ia datang terlambat. Sudah berada di dalam lift menekan tombol dimana ruangan presdir berada yang juga menjadi tempatnya. Rey terlihat masih ngos-ngosan, tampak Melani sudah duduk di tempatnya.


“Kebiasaan.” Melani menggeleng-gelengkan kepala.


“Apa presdir di dalam?” tanya Rey.


“Iya, aku sudah menjelaskan jadwal hari ini”


“Aku masuk dulu,” ucap Rey.


“Kau tidak usah cemas, aku melihat aura kebahagian terpancar dari wajah presdir kita hari ini,” ujar Melani.


Sebelum masuk Rey mengatur napas terlebih dulu, setelah merasa lebih baik Rey mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin.


“Maaf tuan saya terlambat,” ucap Rey.


“It’s oke,” jawab Ersin singkat. Mendengar itu Rey merasa tenang, dia pikir akan terkena marah. Ternyata benar apa yang dikatakan Melani.


“Aku ingin kau melakukan sesuatu,” sambung Ersin.


“Katakan saja tuan,” jawab rey.


“Aku tidak ingin melihat laki-laki yang bernama Gilang berada di kampus yang sama dengan Alina.”


“Tapi tuan, saya tidak mungkin membuatnya berhenti kuliah.”


“Kau carikan dia kampus yang lain, asalkan tidak sama dengan Alina. Itu terserah padamu, aku mau dengan cara apapun kau harus melakukannya. Kampus itu di bawah naungan ayahku jadi tidak akan sulit jika melakukan hal itu,” ucap Ersin dengan entengnya.


“Baiklah tuan.” Rey menghela napas.


“Secepatnya, kau boleh pergi”


“Iya tuan,” jawab Rey, ia keluar dari ruangan Ersin dengan muka ditekuk.


“Kau kena marah oleh presdir, padahal aku lihat dia baik-baik saja pagi ini,” ucap Melani.


“Aku lebih baik kena marah atau dilempar dokumen, daripada mengerjakan sesuatu di luar akal sehatku.”


“Maksudmu apa Rey?” tanya Melani.


“Sudahlah, aku harus pergi,” jawab Rey.


“Kemana lagi, banyak pekerjaan yang harus kau lakukan”


“Kau tidak akan paham, hal ini lebih penting daripada pekerjaan.”


“Huh selalu saja menyusahkan aku,” gerutu Melani, karena ia yang akan menggantikan pekerjaan Rey.