
Setelah selesai melakukan pekerjaannya pria itu menghilang entah kemana tanpa jejak, tidak ada yang tahu apa motifnya.
Pak Abi kini berada di rumah sakit bersama dua polisi, ia melaporkan kejadian itu. Menunggu di luar ruangan, karena gadis itu masih diperiksa. Terdapat banyak lebam di tubuhnya dan lecet-lecet serta banyak bekas gigitan yang dilakukan pria itu.
Polisi dan pak Abi memasuki ruangan, Rara masih terlihat syok, ia gemetar ketakutannya masih tetap dirasakan. Pelan-pelan polisi mulai berbicara padanya. Tidak ada informasi yang penting, karena Rara tidak mengetahui identitas dari pria yang ingin melecehkannya, itu terjadi begitu saja. Rara pun tidak mengingat ia memiliki dendam dengan seseorang, dan dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.
Belakangan ini juga tidak ada orang yang mencurigakan. Semua berjalan semestinya.
Polisi tidak bisa menyimpulkan apapun, karena minimnya bukti yang diterima. Dan mereka sudah mengirim orang menuju lokasi kejadian, tapi tidak ada jejak apapun. Hanya mobil Rara yang masih disana.
Datanglah orangtua Rara yang dihubungi oleh polisi, mereka tidak percaya kejadian seperti itu bisa menimpa anaknya.
“Rara.” Seorang wanita paruh baya menghampiri dan mendekap tubuh Rara. Air mata tak bisa dibendung lagi, keadaan anaknya sungguh memperihatinkan.
“Mama aku takut.” Rara sudah terisak.
“Mama dan papa disini sayang kamu sudah aman sekarang,” ucap ayahnya.
“Rara tidak mau disini ma, bawa Rara pergi jauh, bagaimana kalau dia mencari aku lagi, aku takut.”
“Iya sayang, kita akan tinggalkan kota ini, mama akan bawa kamu ke tempat yang jauh tidak akan ada yang bisa menggangu kamu lagi.”
Pak Abi mendekati Rara dan orangtuanya ia ingin berpamitan, ia khawatir pasti istrinya sedang menunggunya.
“Ma paman yang sudah menolongku,” ucap Rara.
“Terima kasih pak sudah menolong anak saya, saya sangat berterimakasih, jika tidak ada bapak, bagaimana putri saya,” ucap ayah Rara.
“Iya pak, sekarang jaga putri bapak, pasti dia sangat terguncang,” ujar pak Abi.
“Sekali lagi terimakasih Pak,” ucap ibu Rara. Mereka sedikit berbincang, dan saling berkenalan satu sama lain. Ternyata Rara, satu kampus dengan Alina.
“Kalau begitu saya pamit pak, bu,” ucap pak Abi.
“Terimakasih paman,” ucap Rara.
“Sama-sama, cepat sembuh nak semua akan baik-baik saja,” balas Pak Abi Rara hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Ayah Rara mengantar pak Abi keluar.
Sampailah pak Abi dirumahnya, kedatanganya sangat ditunggu ibu dan Alina. Mereka menunggu di ruang tamu. Disaat mendapat kabar dari suaminya Mirna sangat khawatir.
“Ayah, akhirnya ayah pulang,” ucap istrinya.
“Apa yang terjadi yah, siapa yang ayah tolong?” pertanyaan itu dari Alina.
“Sabar-sabar ayah akan ceritakan.” Kini pak Abi sudah duduk di sofa. Dan ibu pergi ke dapur mengambilkan minuman.
“Nah sekarang ceritakan yah,” ucap Mirna.
Pak Abi mulai menceritakan hal itu secara mendetail, setelah panjang kali lebar ia bercerita, ibu dan Alina begitu terkejut.
“Dan untukmu nak, ayah tidak mau kejadian seperti ini sampai menimpa anak ayah. Mulai sekarang kau harus waspada, jika tidak penting jangan berada di luar rumah saat malam. Usahakan tetap berada di keramain, sehingga orang-orang masih bisa menjangkaumu saat hal yang tidak diinginkan terjadi, kamu mengerti Alin?” ucap ayahnya tegas. Ia tidak akan membiarkan anaknya mengalami kejadian serupa.
“Sayang kau harus berhati-hati mulai sekarang,” ucap ibunya. Alina berkaca-kaca dengan ucapan orang tuanya.
“Kenapa, ayah tidak memarahimu sayang, ayah hanya khawatir, kamu anak ayah satu-satunya.”
“Alina hanya terharu, dan juga kasian sama Rara. Alin akan coba menemui Rara di kampus yah, walaupun Alin tidak mengenalnya,” ucap Alina.
“Iya jika mau, kita bisa menjenguknya di rumah sakit,” ucap ayahnya.
“Iya yah” jawab Alina.
“Sekarang sudah larut malam, Alin kau harus tidur, jika tidak kau tidak akan bisa bangun pagi,” tegur ibu. Ia sangat tahu kebiasaan anaknya.
“Hehe, ibu yang paling tahu. Alin tidur ya ibu ayah.” Alina menuju kamarnya.
“Ayah juga sekarang mandi, ibu akan siapkan makan malam, pasti ayah belum makan.”
“Sudah bu, tadi di sekolah,” jawab Pak Abi.
“Iyaa ayah lelah sekali, tapi masih bisa bu, kalau ibu mau,” goda pak Abi.
“Jangan aneh-aneh dulu, jika tidak mau tidur di luar malam ini.” Berlalu meninggalkan suaminya. Pak Abi pun menyusul istrinya ke kamar. Sebenarnya ia tidak akan mampu melakukannya karena memang ia sangat lelah hari ini.
Di kamar Alina.
Ia membuaka obrolan grupnya, ia bermaksud menceritakan kejadian hari ini kepada Fitri dan dinda. Tapi tidak ada respon dari mereka. Karena sudah larut, mungkin mereka sudah terlelap. Alina akan bercerita besok saja di kampus.
Keesokan paginya aktifitas berjalan seperti biasa. Mulai dari ibu memasak dan juga hal yang ia pikirkan terjadi, begitu susahnya membangunkan Alina. Kini ketiganya sudah di meja makan.
“Alina selesai, Alin berangkat ya.” Alina mecium tangan ibu dan ayah.
“Ingat pesan ayah,” ujar ayahnya.
“Siap ayah,” Alina tersenyum.
Alian mencari sosok sahabatnya, ia tidak sabar untuk menceritakan kejadian semalam, dimana ayahnya menjadi super hero. Mereka kini sudah kumpul bertiga. Alina menceritakan kejadian semalam kepada kedua sahabatnya, mereka pun tak kalah terkejutnya. Akhir-akhir ini memang banyak terdengar desas-desus penculikan dan pembegalan.
Mereka tidak menyangkan kejadian seperti itu, akan menimpa teman kampusnya.
“Kita harus berhati-hati, jangan sampai pria mengerikan itu menemukan kita aaaaa.” Teriak Fitri, dia selalu yang paling lebay dan alay.
“Sekarang bagaimana keadaan Rara?” tanya Dinda.
“Aku pun tidak tahu, aku berencana akan menjenguknya bersama ayah,” jawab Alina.
“Ikut Lin kami ikut,” kata Fitri.
”Ayo nanti kita kesana,” ajak Dinda.
Setelah pekuliahan mereka selesai, sesuai rencana mereka akan menuju rumah sakit tempat Rara dirawat. Tapi sayang Rara sudah tidak ada disana, Dia sudah pulang, informasi itu mereka dapatkan dari para suster.
Keesokan harinya, mereka menjalani aktifitas kampus seperti biasa, Alina dan sahabatnya mencari tahu informasi tentang Rara melalui temannya. Karena mereka di jurusan yang berbeda jadi mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
Dari informasi yang di dapat, kini Rara sedang mengurus kepindahannya dari kampus, ia akan melanjutkan studinya di luar negeri. Alina teringat cerita ayahnya, jadi secepat itu mereka akan pindah. Maklum saja, Rara pasti sangat trauma dan tidak ingin menunda-nunda lagi, siapapun juga akan melakukan hal yang sama.
Alina dan sahabatnya tidak bisa menemukan Rara, mereka sangat penasaran dengan keadaan Rara. Setibanya Alina dirumah, ia melihat rumahnya kedatangan seorang tamu, dan ternyata itu adalah Rara dan kedua orangtuanya. Mereka kesini untuk mengucapkan terimakasih dan juga sekedar berpamitan karena mereka akan pergi ke luar negeri dan memutuskan untuk menetap disana.
“Perkenalkan ini anak saya, dia juga di kampus yang sama denganmu.” Pak Abi yang bicara dengan Rara.
“Kita sering bertemu, tapi tidak saling mengenal,” ucap Rara.
“Namaku Alina.” Alina menjulurkan tangannya dan dijabat oleh Rara.
Mereka saling mengobrol satu sama lain, Rara sudah mulai akrab dengan Alina. Cukup lama mereka disana, kini keluarga Rara pamit pulang. Besok pagi mereka akan berangkat ke luar negeri. Alina memeluk Alina, sebagai salam peepisahan.
“Alina senang mengenalmu, jika saja kita saling mengenal lebih awal,” ucap Rara.
“Aku juga Rara, semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu, dan seringlah memberi aku kabar,” jawab Alina.
“Sesekali aku akan menghubungimu,” ucap Rara
orang tua mereka merasa sangat senang karena keakraban keduanya.
“Paman sekali lagi terimakasih, aku tidak akan melupakan pertolongan paman,” ucap Rara pada pak Abi.
“Iya nak, paman sangat senang bisa menolongmu, sekarang jalani kehidupan barumu dan lupakan masalah itu,” jawab pak Abi.
“Tentu saja paman, paman dan bibi juga harus menjaga Alina, cukup aku saja yang menjadi korban,” kata Rara.
“Iya nak, kami akan menjaga Alina baik-baik,” ucap bu Mirna.
“Kami pamit pulang, sampai jumpa lagi,” ucap ayah Rara.
mereka menjawab serentak, Rara melambaikan tangannya yang berada di dalam mobil. Dan pak Abi, Alina serta istrinya masuk ke dalam rumah setelah kepergian mereka.