Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 33



Alina sudah kembali ke rumah setelah selesai dengan aktifitas kuliahnya. Tidak seperti biasa kini ia melihat mobil ayahnya sudah terparkir di depan rumah


Segera ia masuk untuk mengeceknya. Tapi tidak ada siapa, biasanya ia akan melihat ibu dan ayahnya. Beberapa kali Alina memanggil tapi tidak ada jawaban. Ia pergi ke kamar ibu dan ayahnya, terlihat Pak Abi yang berbaring di atas kasur dengan memakai selimut.


“Ayah sakit?” tanya Alina khawatir.


“Perut ayah seperti keram, tiba-tiba pusing dan sakit kepala,” ucap Pak Abi.


“Jadi karena itu ayah sudah pulang, ayah sudah minum obat?”


“Belum sayang,” jawab pak Abi lesu, mukanya sudah pucat sekali.


“Alina ambilkan ayah teh jahe sama obat ya yah, tunggu sebentar.” Alina bergegas ke dapur.


Alina kembali membawa secangkir teh dan air putih ditemani beberapa obat. Ketika kembali Pak Abi sudah memejamkan matanya, Alina menaruh nampan yang ia bawa di atas nakas. Ia berpikir apakah akan membangunkan ayahnya atau tidak. Hanya beberapa saat saja ia tinggal Pak Abi sudah tidur dengan pulasnya.


“Ayah Alina sudah bawakan ayah obat, minum obatnya dulu ya yah setelah itu ayah baru tidur lagi.” Tanpa reaksi apapun dari pak Abi.


“Ayah,” panggil Alina lagi, menyentuh dahi ayahnya. Alina terkejut dengan panas yang ia rasakan di telapak tangannya.


“Ayah bangun ayah.” Mencoba membangunkan lagi.


Pak Abi mulai sadar, dan bangun dengan perlahan.


“Ini obatnya yah minum dulu. Apa ayah mau pergi ke dokter? Alina akan mengantar ayah”


“Ayah hanya ingin istirahat saja, setelah minum obat tapi belum merasa baik baru kita ke dokter.”


“Sekarang minum dulu ini.” Alina memberi segelas air dan obat. Setelah itu, teh hangat yang berisi jahe.


“Terimakasih putri ayah, setelah istirahat sebentar ayah akan baik-baik saja, jangan khawatir.”


“Iya ayah, tidur lah Alina tinggal ke kamar. Panggil Alin jika ayah perlu sesuatu.” Alina mencium pipi ayahnya dan berlalu meninggalkan pak Abi.


Baru saja menutup pintu, terlihat ibunya yang berjalan dengan tergesa-gesa.


“Bagaimana ayah sayang?” tanya ibu.


“Baru saja Alin kasi ayah obat dan teh jahe,” jawab Alina.


“Makasi ya sayang, ibu akan lihat kondisi ayah kau istirahatlah!”


“Iya bu,” jawab Alina.


Mirna masuk melihat kondisi suaminya, ia segera pulang setelah mendapat kabar dari suaminya. Ruko ia tinggalkan karena sudah ada dua pegawai yang menjaganya.


“Ayah, kenapa bisa begini? padahal tadi pagi ayah baik-baik saja.” Istrinya begitu khawatir.


“Iya bu ini tiba-tiba sekali, mungkin hanya demam biasa, ibu tenang saja ya.” Jawab pak Abi.


“Kita ke dokter saja ya yah, ibu takut ada yang serius.”


“Tidak usah bu, ayah istirahat saja ya bu, rasanya ayah mengantuk sekali.”


“Tapi yah, lihat muka ayah sudah pucat sekali.” Istrinya sudah berurai air mata.


“Ayah tidur sebentar saja ya, nanti kita ke dokter.” Mirna berbaring disamping suaminya, menyelimuti semua bagian tubuh yang terlihat. Mirna sampai menangis melihat suaminya seperti ini, muka yang pucat pasi dan terlihat seperti menggigil.


Pak Abi yang memejamkan mata, sebenarnya ia masih tersadar, ia tidak mau menambah kekhawatiran istri dan anaknya. Keanehan yang ia alami selama ini masih ia tutupi dengan rapat. Bermula dari ban mobil yang kempes, dan baru-baru ini juga ia diteror oleh panggilan misterius. Sang penelepon menyembunyikan nomornya, jadi Pak Abi tidak bisa mengetahui siapa pemilik nomor itu. Karena panggilan itu terus saja menggangunya, Pak Abi berencana untuk melacak nomor itu. Karena pak Abi tidak terlalu paham akan hal seperti itu, jadi ia bermaksud untuk meminta bantuan seseorang.


Tapi disaat ia akan melakukan itu, tiba-tiba tubuhnya merasa lemas, pusing dikepala tidak bisa ia kendalikan, tubuhnya panas tetapi ia merasakan hawa dingin yang luar biasa. Niat itu ia urungkan, lalu Pak Abi memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia pun memberi kabar ke istrinya, jika ia tidak bisa menjemput istrinya pulang. Biasanya pak Abi akan membantu istrinya di ruko sebelum mereka pulang ke rumah.


Mirna tidak tinggal diam melihat kondisi suaminya saat ini, setelah Pak Abi terlelap ia berencana akan memanggil dokter. Karena panas pada tubuh pak Abi tidak kunjung mereda. Ia tidak peduli lagi dengan persetujuan suaminya. Akhirnya dokter itu tiba di rumah, karena sang dokter adalah teman dari Mirna sendiri. Dokter itu memiliki klinik yang tidak jauh dari rumah Mirna.


“Terimkasih Sely kau sudah mau datang,” ucap Mirna.


“Tidak apa-apa Mir, dimana suamimu?”


“Dia berada di kamar masih tidur, tunggu aku akan buatkan kau minum.” Mirna bergegas ke dapur.


Alina datang yang bermaksud mengecek keadaan ayahnya, dilihatnya dokter Sely disana jadi ia menyampanya terlebih dulu.


“Tante Sely, tante kesini untuk ayah?” tanya Alina


“Iya tadi ibumu menelponku, kalau bukan karena ibumu mana mungkin aku meninggalkan pekerjaanku”


“Makasi ya tante Sely,” ucap Alina


“Iya sama-sama.”


“Ini Sel minumanmu, aku akan ke kamar membangunkan suamiku, Alina temani tante Sely ya nak”


“Iya bu,” jawab Alina. Ibu berlalu meninggalkan mereka di ruang tamu.


“Ayah bangun yah, diluar ada Sely, ibu memanggilnya kesini untuk memeriksa ayah.” Ucap ibu pelan membangunkan suaminya.


“Iya bu,” jawab pak Abi.


“Ini minum dulu yah, kenapa bibir ayah kering sekali” Ibu begitu heran melihat perubahan suaminya yang begitu drastis. Ibu keluar untuk memanggil dokter Sely. Setelah beberapa saat dokter Sely sudah selesai dengan pengobatannya.


“Bagaimana bisa Sel suamiku keracunan makanan? apa ada yang menaruh racun di makanan suamiku?”


“Nanti kau tanya pada suamimu apa yang terakhir ia makan, tapi Mirna keracunan makanan bisa saja terjadi karena makanan yang terkontaminasi bakteri atau virus. Jika kau memasak kurang bersih ataupun dengan suhu yang tidak tepat itupun beresiko penyebabkan keracunan makanan. Jadi bukan berarti ada yang meracuni suamimu. Siapa yang mau meracuni orang sebaik suamimu itu.” Dokter Sely sedikit menjelaskan.


“Apa karena masakanku? aku rasa tidak mungkin. Bertahun-tahun aku memasak untuknya ini baru pertama kali terjadi.” Ujar Mirna heran.


“Sudahlah bu, yang penting sekarang ayah sudah segera diobati,” ucap Alina.


“Mirna aku harus kembali ke klinik, masih banyak pekerjaanku.” Ucap Dokter Sely


“Baiklah Sel, sekali lagi terimakasih kau mau datang,” ujar Mirna.


“Terimakasih tante Sely,” sambung Alina.


“Iya Alina, tante pamit ya.” Setelah kepergian Sely Alina dan ibu segera ke kamar untuk mencari pak Abi.


“Ayah apa yang terakhir ayah makan, kenapa bisa keracunan makanan?” tanya Alina


“Iya yah, perasaan ibu memasak selalu bersih,” ucap istrinya.


“Seingat ayah hanya makan cemilan di sekolah bu, itupun yang biasa ayah makan” pak Abi hanya asal menjawab.


“Mulai sekarang yah, jangan makan sembarangan!”


“Iya bu, sekarang ayah sudah merasa lebih baik.”


“Untung saja ibu menyuruh Sely kesini jadi kan cepat ayah bisa diobati.”


“Bagaimana aku bisa keracunan makanan, dari semua orang yang makan tadi kenapa hanya aku saja yang kena, apa jangan-jangan ada yang sengaja melakukan ini padaku.” Batin pak Abi.


Saat pak Abi disekolah ada penyambutan mahasiswa dari beberapa kampus  yang akan melaksanakan praktik pembelajaran. Pak Abi melaksanakan rapat dengan beberapa guru dan juga sebagai perkenalan bagi semua mahasiswa. Rapat itu juga bertujuan untuk menjelaskan mengenai peraturan yang ada disekolah serta bagaimana sistem pembelajaran yang harus dilakukan oleh Mahasiswa yang akan melaksanakan praktik pembelajaran.


“Ayah istirahatlah ibu akan memasak untuk makan malam, ayo nak bantu ibu masak.” Ucap ibu


“Iya bu, Alina tinggal ya yah,”


“Iya sayang,” jawab Pak Abi.


Setelah mereka berlalu, telepon pak Abi berdering. Dengan perlahan pak Abi melihatnya, mungkin orang yang sama, orang yang menerornya dan lagi nomor teleponnya disembunyikan.


“Itu hanya peringatan kecil untukmu, sebelum kau mengembalikan gadis itu hidupmu tidak akan tenang.” Setelah ucapan itu di dengar pak Abi, panggilan terputus. Pak Abi belum sempat mengucapkan apapun.


“Sialan, dasar gila!” dengan penuh emosi pak Abi berteriak.


“Aku tidak akan tinggal diam, aku akan melapor saja ke polisi, aku tidak mau ada lagi korban jiwa. Apalagi orang ini sampai melukai istri dan anakku.” Begitu geramnya Pak Abi.