
Alina merasa bibirnya seperti kelu, bukan kali pertama ada seseorang yang menyatakan perasaan di depannya. Tetapi ini berbeda menurutnya, sejenak ia berpikir apa yang harus ia katakan. Dirinya sendiri belum yakin akan perasaannya ke Ersin.
“Alina aku menunggu jawabanmu,” ujar Ersin, tatapannya yang tidak pernah lepas dari Alina.
“Kak beritahu aku dengan alasan apa aku harus menerimamu?” tanya Alina.
“Kau butuh alasan untuk menyukai seseorang?” tanya Ersin balik.
“Pertama kali kita bertemu tanpa disengaja, yang kedua kali, kau ingin melamarku dengan alasan perjodohan. Sungguh tidak masuk di akal. Kau bisa menyukai seorang gadis hanya karena pertemuan yang tidak disengaja? tidak lama berselang kakak datang sendiri dan membatalkan perjodohan itu.” Alina mengutarakan isi hatinya.
“Kau meragukan aku Alina, aku bukan seorang laki-laki yang berumur belasan tahun. Aku tidak punya waktu lagi untuk bermain-main dengan seorang wanita. Jika pada saat aku melamarmu dan kau menerimanya detik itu aku bisa menikahimu.”
“Kau bilang, aku belum mengerti apa maksud dari perhatiamu selama ini. Apa kakak pikir, kau laki-laki pertama yang memberikan perhatian untukku? Aku hanya gadis kecil yang masih berumur belasan tahun, bagaimana aku bisa menikah denganmu?”
“Alasan kenapa aku membatalkan perjodohan itu, karena aku tahu kau tidak akan menerimanya. Aku mencoba untuk tidak peduli padamu, berulang kali aku meyakinkan diri, tapi aku sadar, jawabanku adalah aku menyukaimu. Tanpa perjodohan aku ingin memilikimu, tanpa paksaan aku ingin kau jatuh cinta padaku. Aku tidak tahu apa alasanku menyukaimu, dan aku tidak perlu alasan apapun untuk itu. Aku hanya meyakini hatiku tanpa alasan, dan menikah itu adalah kesiapan diri tidak bergantung pada umurmu.”
“Tapi maaf kak, aku tidak bisa--” ucapan Alina dipotong Ersin.
“Aku beri kau waktu untuk pertanyaanku, aku bisa menunggu, tapi aku hanya akan menerima jawaban kau setuju bukan penolakan.”
“Kau tidak berhak memutuskan apa jawabanku,” bantah Alina.
“Jika bukan aku yang memilikimu, orang lain pun tidak berhak atas dirimu.” Ucapan Ersin membuat Alina semakin berdebar.
“Kakak kenapa kau egois sekali.” Alina sedikit kesal.
“Itu karena, kau mau tahu alasan keegoisanku hem? karena aku mencintaimu, itu jawabannya.” Alina tersenyum dengan jawaban Ersin.
“Senyum itu pertanda kau menerimaku?” tanya Ersin.
“Bukan, aku tersenyum karena kakak pandai sekali menggombal huh,” ejek Alina.
“Aku tidak menggombal, aku bersungguh-sungguh. Apa karena usia kita terpaut jauh kau tidak mau menerimaku?”
“Sebenarnya aku juga memikirkan itu,” jawab Alina.
“Itu bukan masalah Alina, kau hanya masih meragukan perasaanmu. Sudah ku katakan aku akan memberimu waktu. Aku bersungguh-sungguh, dan aku tidak main-main dengan ucapanku.” Ersin benar-benar memasang wajah yang serius dan ingin meyakinkan Alina.
“Iya kak, aku akan memikirkannya,” jawab Alina.
“Dan kau harus ingat, aku tidak menerima penolakkan,” tegas Ersin.
“Baiklah semua terserah padamu saja. Apa sekarang aku sudah boleh pulang? ayah akan marah jika aku pulang larut.” sebenarnya Alina hanya ingin melarikan diri dari situasi ini.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
Entah apa yang akan didapatkan Alina besok dari Fitri dan Dinda. Di tengah pesta ia meninggalkan sahabatnya, lebih parahnya lagi ia tidak kembali lagi bersama mereka. Di tengah mengemudi Ersin masih saja terus menoleh ke arah Alina. Tentu saja hal itu membuatnya sangat risih dan malu. Belum lagi ungkapan cinta Ersin yang sangat mendebarkan hati.
“Aku juga tidak akan membiarkan jika kau sampai kenapa-kenapa.” Hanya senyuman yang Alina lontarkan. Alina tidak mau menjawab lagi, ia pasti akan kalah jika terus berdebat dengan Ersin.
“Apa kau selalu tersenyum seperti itu, walaupun itu bukan denganku?”
“Tentu saja, memang senyumanku harus berbeda kepada setiap orang,” jawab Alina spontan.
“Ya, hentikan itu mulai sekarang, jangan tersenyum seperti itu ke pria lain,” tegas Ersin.
“Aku tidak bisa mengatur kadar senyumanku, jangan meminta sesuatu yang tidak masuk akal.” Alina kesal.
“Belajarlah mulai sekarang, hanya kepadaku kau boleh menunjukkan senyum itu.” Mendengar kata itu membuat Alina menghela nafas.
“Apa jadinya hidupku, jika aku bersama pria ini. Untuk saat ini aku masih belum bisa, aku masih ingin kebebasanku. Aku mungkin memiliki perasaan untuknya tapi aku belum siap untuk itu, dan aku belum sepenuhnya yakin dengan hatiku,” batin Alina.
“Alina, kau dengar aku?” menyadarkan Alina dari lamunannya.
“Iya kak,” jawabnya.
“Itu berarti kau setuju, lakukan itu dari sekarang,”
“Bukan itu maksudku, kenapa aku harus setuju dengan hal konyol itu,” gerutu Alina.
“Jangan membantahku lagi, kau sudah berkata iya.”
''Kaakkakk....'' Alina merasa terjebak karena ulah Ersin.
Akhirnya sampai di depan rumah Alina, perdebatan harus dihentikan. Semakin lama akan semakin banyak aturan yang tercipta, aturan yang dibuat sepihak, tanpa bisa dibantah dan tidak boleh adanya penolakan. Ersin menghentikan mobilnya, membantu Alina melepas seat belt yang melingkari tubuhnya.
“Aku masuk kak, terimakasih,” ucapnya.
“Tunggu,” Ersin menahan Alina, menarik tubuhnya dan mencium kening Alina. Seketika tubuh Alina membeku, pipinya bersemu merah menandakan rasa malunya.
“Aku mau itu untuk tanda terimakasih, dan satu lagi, aku tidak menunggu jawabanmu tapi aku menunggu kesiapanmu untuk menerimaku.” Masih dalam posisi yang sangat dekat ketika Ersin mencium kening Alina. Berusaha kabur, Alina mendorong tubuh Ersin dan berhasil keluar dari mobil.
“Ingat itu Alina,” suara Ersin dari dalam mobil.
“Iyaaaa om baweelll,” dibalas lantang oleh Alina. Ersin tertawa mendengarnya.
“Mungkin kau tidak mengingatku lagi gadis kecil, apapun caranya akan aku lakukan jika itu untuk mendapatkanmu, tidak ada yang bisa menghalangiku.” Ersin menjalankan mobilnya dan kembali ke kediamannya.
Setelah masuk ke dalam, rumah sudah dalam kondisi yang sepi, ibu dan ayahnya mungkin sudah tertidur. Kata-kata Ersin masih terngiang di telinga Alina, membuatnya gelisah, disisi lain ada rasa senang karena Ersin mengungkapkan perasaannya kepada Alina. Rasa bimbang juga menyeruak di dalam hatinya, memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dan Ersin kedepannya. Mengingat kembali dulu antara dirinya dan Gilang, Alina takut itu akan terjadi lagi. Apalagi Ersin adalah pria dewasa, mereka terpaut usia yang cukup jauh.
“Aku tidak bisa tidur memikirkan om itu, apa yang harus aku lakukan. Apa aku mencoba untuk menjadi kekasihnya saja, masak aku pacaran sama om-om sih. Nanti kalau dia mau itu gimana? dia kan pria dewasa pasti hal itu sudah biasa ia lakukan.”
Gelisahnya Alina, entah sampai kapan ia akan bisa tertidur. Rasanya ia seperti terikat dengan cinta Ersin, tidak bisa berkutik lagi, ia merasa takut dengan ancaman-ancaman Ersin. Setelah lelah berpikir, tanpa sadar Alina mulai terlelap.