
Ambulans menuju ke rumah sakit terdekat, diikuti dengan mobil Rey dan beberapa orang suruhannya. Ersin begitu gelisah, tatapan sendu melihat orang di balik selang oksigen sedang mempertaruhkan hidupnya. Mobil ambulans melaju dengan kecepatan maksimal, akhirnya sampai di depan pintu rumah sakit.
Petugas siap siaga, mengeluarkan pak Abi dari dalam mobil ambulans. Ruang UGD sudah dipersiapkan. Ersin mengikuti langkah perawat yang membawa pak Abi.
“Tolong bapak menunggu diluar,” ucap salah seorang perawat, menghentikan langkah Ersin. Seketika Ersin merasakan berat di kepalanya.
“Tuan anda baik-baik saja?” ucap Rey.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Ersin.
“Kau harus kuat Alina demi ayahmu,” batin Ersin.
“Tuan ini baju ganti untuk anda.” Rey memberikan papper bag kepada Ersin, karena pakaian yang ia kenakan sudah dipenuhi dengan darah.
“Rey persiapkan rumah sakit terbaik untuk paman!” suruh Ersin, ia masih belum bangkit dari duduknya.
“Baik tuan, setelah perawatan saya akan mengurus pemindahannya,” jawab rey.
*****
Ditengah jam pelajaran Alina begitu gelisah, ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
“Alina, kenapa kau berkeringat sekali?” Dinda heran, udara tidak panas di dalam kelas, sedangkan Alina terlihat pucat.
“Apa kau sakit?” tanya Fitri.
“Aku tidak sakit, tapi aku merasa sedikit tidak nyaman.” Alina menyentuh dadanya, berdegub kencang.
“Bagaimana jika kau ke toilet sebentar, atau kau mau minum?” tawar Dinda.
“Tidak perlu Din, sebentar lagi akan pergantian mata kuliah. Mungkin aku akan langsung pulang.” Alina.
“Lebih baik kau pulang saja, aku akan memberitahu dosen kau sakit,” ujar Fitri.
“Ada apa ini? tanganku sampai bergetar, apa terjadi sesuatu?” batin Alina.
Ketukan pintu memusatkan perhatian seluruh mahasiswa, pak Reno berhenti sejenak. Seorang petugas datang meminta ijin untuk berbicara dengan pak Reno. Percakapan mereka tak bisa didengar, karena berada di pintu keluar.
Betapa mengejutkan, bukan pak Reno ataupun petugas itu yang masuk, melainkan orang lain. Dengan gagahnya ia melangkah, semua mata tertuju padanya. Mereka penasaran untuk apa orang ini datang.
“Kakak,” ucap Alina, Ersin berdiri di hadapannya.
“Aku sudah mendapat ijin untuk membawamu pergi,” ujar Ersin.
“Ada apa kak? sesuatu terjadi?” tanya Alina heran.
“Kemasi barangmu, ayo kita pergi,” jawab Ersin dengan tatapan sendunya.
“Tapi kenapa?” tanya Alina lagi.
“Sudahlah jangan tanya lagi, kau lebih baik ikut saja!” Dinda juga merasa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
Alina mengemasi buku-bukunya, dan pergi bersama Ersin. Pak Reno masih di depan pintu. Alina dipersilakan pergi oleh pak Reno, ia tahu siapa Ersin. Genggaman tangan Ersin begitu erat kepada Alina mereka berjalan beriringan. Alina semakin merasa aneh dan sedikit khawatir.
“Kak beritahu aku ada apa? terjadi sesuatu kepada ayah dan ibuku?” Seketika Ersin menoleh ke Alina.
“Aku benar? jawab kak!” Ersin seketika memeluknya, menenangkan Alina.
“Jangan menangis, mereka baik-baik saja.”
“Aku tahu kakak berbohong, katakan padaku, aku mohon kak.”
“Ayahmu kecelekaan, sekarang di rumah sakit.” Begitu berat bagi Ersin untuk memberi tahu Alina hal itu.
“Bawa aku kesana kak, aku ingin melihat ayah,” Alina mulai terisak.
Di dalam mobil Alina hanya diam dan menangis, ia takut menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dengan apa yang Ersin lakukan tidak mungkin keadaaan ayahnya baik-baik saja.
“Alina mohon ayah harus bertahan, demi Alina dan ibu,” batin Alina.
“Aku sudah menyuruh Rey untuk menjemput ibumu.” Ersin tidak melepas genggaman tangannya. Alina tidak menjawab, seolah bibirnya kelu tidak bisa berkata-kata lagi. Mengingat ibunya membuat hatinya lebih hancur lagi.
Setelah mendapat perawatan cukup, pak Abi dipindahkan ke rumah sakit terbaik di kota. Rumah sakit sebelumnya juga memiliki peralatan yang tidak memadai, akan lebih baik jika pak Abi mendapat perawatan yang lebih intensif, karena kondisinya begitu kritis.
Alina dan Ersin sudah sampai di rumah sakit, Alina begitu tergesa-gesa menuju ruangan dimana ayahnya dirawat.
“Pelan-pelan kau bisa terjatuh,” ucap Ersin.
“Aku ingin cepat melihat ayah.” Sebenarnya Alina begitu takut dan sedih, untungnya ada Ersin disisinya. Pak Abi dirawat di ruangan VVIP, dan dokter khusus sudah disiapkan untuknya. Rey melakukan semua sesuai dengan perintah Ersin.
“Ayah,” ujar Alina. Jantungnya seolah ingin berhenti berdetak, teramat sesak terlebih lagi dengan tangisan yang membuatnya kesulitan untuk bernafas. Mirna sudah lebih dulu berada disana. Ia pun begitu terpukul melihat kondisi suaminya. Sekujur tubuh penuh dengan luka, hingga ke bagian kepala, penuh dengan lebam karena benturan. Pak Abi harus menjalani operasi, karena tulang kakinya patah.
Dibalik selang oksigen, pak Abi masih mengumpulkan tenaga untuk berbicara, hanya matanya yang mampu berkedip. Alina sudah histeris melihat ayahnya.
“Ayaaahh, bagaimana ayah bisa begini” air mata pak Abi yang menjadi jawabannya. Tangisan putrinya seolah memberikan dorongan ia untuk bisa berbicara.
“Pu-putri ayah, jangan menangis nak, ayah pasti akan kuat,” jawabnya dengan begitu tertatih. Alina sudah tidak menjawab lagi, ia hanya menangis. Mirna memeluk putrinya, mereka saling menguatkan.
“Sayang boleh ayah meminta sesuatu padamu,” tanya pak Abi pada putrinya.
Alina mengangguk, tangisnya tak bisa berhenti.
“Menikahlah dengan Ersin.” Semua orang yang mendengar itu terkejut.
“Paman, apa maksud paman?” tanya Ersin.
“Ersin apa paman bisa meminta kembali perjodohan itu? aku telah gagal menjadi seorang ayah dan tidak bisa menjaga istriku.” ujar pak Abi, sekuat tenaga ia mengungkapkan isi hatinya, seolah ini adalah keinginan terakhirnya.
“Sekarang ayah yang terpenting, ayah harus sembuh. Jangan pikirkan Alina ayah,”
“Ayah harus terus bersama kami dan menjaga ibu dan Alina” sambung istrinya.
“Berjanjilah pada paman, kau akan menikahi putri paman!” ujar pak Abi.
“Tanpa perintahmu, aku akan menjaga putrimu paman,” jawb Ersin.
“Tolong ayah jangan memikirkan itu, Alina tidak mau menikah ayah, bagaimana Alina bisa menikah sedangkan ayah seperti ini. Jangan paksa aku.”
“Tidak nak, ini yang terbaik untukmu. Ayah mohon, menikahlah dengan Ersin. Nak kau mau kan menikahi putri paman?” pak Abi menunggu jawaban Ersin.
“Iya paman, aku akan menikahi putrimu,” dengan sangat yakin Ersin mengucapkan itu.
“Menikahlah secepatnya!” sambung pak Abi.
“Ibu dan Alina tidak mau kehilangan ayah, jadi ayah harus sembuh, kita akan menyaksikan pernikahan putri kita, iya yah?” ucap istrinya. Pak Abi mengangguk dan tersenyum.
Dokter memasuki ruangan bersama beberapa perawat. Operasi akan segera dilakukan. Dokter ortopedi terbaik sudah Rey siapakan.
Mereka membawa pak Abi ke ruangan operasi diikuti yang lainnya. Begitu berat Alina melangkah, sampai di depan pintu ruang operasi mereka berhenti.
“Tunggu,” ucap Alina pada perawat. Ia membisikan sesuatu pada ayahnya. Entah apa yang ia bisikan, ayahnya tersenyum simpul dan meneteskan air mata. Hingga akhirnya pintu tertutup, dan mereka harus menunggu dalam kekhawatiran.
Tubuh Alina lemas, sedikit demi sedikit pengelihatannya kabur dan ia pingsan. Rey berada di dekatnya reflek ingin menangkap tubuh Alina. Tapi Ersin lebih cepat darinya.
“Lepaskan,” ucap Ersin menepis tangan Rey.
“Alina,” teriak ibunya. Ersin bergegas membawa tubuh Alina untuk diperiksa.