
Flashback off.
Ersin termenung dengan apa yang di katakan mama. Memang benar Ersin tidak mencintai Alina, tapi kenapa ia ingin melakukan perjodohan ini? Karena Ersin melihat sosok adik kesayangannya dalam diri Alina. Mata yang sama persis dengan Erika, itu yang sangat-sangat ia rindukan. Menatapnya seolah ia bisa merasakan hadirnya Erika. Perjodohan itu hanyalah tameng baginya untuk bisa membuat Alina bisa berada di sisinya.
“Mama benar, aku hanya merindukan adikku. Aku akan atur waktu untuk bisa datang menemui keluarga Alina. Aku tidak akan memaksanya.”
“Iya, jika dia memang jodohmu Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untukmu. Tapi tunggu, kau tahu rumahnya?” tanya mama.
“Hem, apa yang tidak bisa dilakukan anak mama ini.” Dengan anggukan sombongnya.
“Kau sudah bertindak jauh rupanya,” ucap Tania.
“Sekarang mama jangan lagi memikirkan itu, semuanya akan baik-baik saja.”
“Hem, istirahatlah, kau pasti lelah kan.” Tangan mama membelai rambut anaknya.
Hari ini Ersin tidak pergi bekerja, ia memutuskan untuk beristirahat di rumah. Masalah bertemu dengan Alina, entah kapan ia akan pergi kesana.
*****
Rumah Alina.
Terlihat Pak Abi dan istrinya yang sedang sarapan hanya berdua tanpa Alina. Karena libur tentu saja dimaanfaatkan untuk tidur sepuasnya.
“Ibu tidak bangunkan Alin?” tanya Abi pada istrinya.
“Biarkan saja dia tidur lebih lama yah, mumpung libur,” jawabnya.
“Kalau biasanya kan anak perempuan, harus bangun lebih awal bu, bantu ibu masak atau bantu yang lainnya. Tapi ibu tidak pernah memaksanya pada Alina.”
“Ayah, ibu itu punya cara dan versi yang berbeda untuk mendidik anak ibu. Ibu tidak harus punya anak yang sempurna, harus pintar di sekolah, semua kewajiban harus dilaksanakan, harus ini dan itu.”
“Iya ayah tahu, dan ayah juga setuju dengan itu.”
“Terkadang jika anak itu jiwa rajinnya kumat, tanpa aba-aba pekerjaan rumah beres semua. Jadi tidak usah ambil pusing, semua orang juga tidak akan selalu bagus dan tepat waktu dalam semua hal, jadi biarkan dia dewasa dengan caranya sendiri. Anak kita juga anak yang penurut kan yah.”
Mereka melanjutkan sarapannya sambil berbincang-bincang, bukan gosip ya. Jarum jam sudah berada di angka sembilan, tapi belum juga tanda-tanda kemunculan Alina. Kini Abi dan istrinya berada di ruang tamu, hal biasa ia lakukan saling berbagi cerita dengan suaminya. Bel berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Mereka sangat terkejut melihat tamu itu.
“Ersin,” ucap ibu.
“Selamat pagi paman, bibi,” ujar Ersin.
“Pagi.” Kompak pak Abi dan istrinya.
“Apa aku mengganggu akhir pekan kalian?” tanya Ersin.
“Tentu saja tidak, ayo nak masuk , paman hanya sedikit terkejut saja melihatmu. Kenapa kau hanya sendiri?”
“Iya paman, ada hal yang ingin aku sampaikan.”
Kini pak Abi dan Ersin sudah duduk di ruang tamu, ibu ke dapur menyiapkan minuman dan cemilan.
“Nak kau sudah sarapan? bibi akan siapkan sarapan,” ucap ibu dengan membawa nampan di tangannya.
“Jangan repot bi, Ersin sudah sarapan sebelum kesini. Ow iya dimana Alina? dia tidak di rumah?”
“Anak itu belum bangun nak, maklum hari libur jadi malasnya kumat.” Ibu tersenyum.
Tiba-tiba pandangan Ersin menuju ke arah tangga, matanya terfokus pada seseorang yang menuruni tangga. Masih memakai baju tidur yang lumayan minim, dengan bibir yang menguap tanpa di tutup. Orang itu terkejut hampir jatuh, untung saja tangannya reflek menjangkau pegangan tangga. Karena malu yang luar biasa, Alina langsung memutar badan, dan naik lagi ke atas.
“Sial, kenapa ada om itu, tunggu untuk apa dia disini masih pagi begini, tidak mungkin kan hanya numpang sarapan, lalu untuk apa? apa dia melihatnya? apalagi aku tidak memakai, aghh.” Kedua tangan Alina memegang sesuatu miliknya. Dengan kesal mengacak-ngacak rambut panjangnya, ia berjalan munuju cermin.
“Masih aman, tidak terlalu mencolok, punyaku kan bentuknya bagus, aghh tapi malu.”
Segera mengganti baju dengan yang enak di pandang, dan tentunya tidak membuat lelaki jadi spot jantung pagi-pagi. Ketukan pintu mengejutkannya
“Alina sudah bangun ya, kenapa nggak turun sayang, ayo ada nak Ersin di bawah,” ajak ibunya.
“Anak gadis ayah sudah bangun, duduk sayang ada nak Ersin juga disini.” Panggil pak Abi.
Alina tersenyum canggung dan anggukan kecil ke arah Ersin. Ersin membalas itu dengan senyuman manis. Kini mereka sudah duduk bersama.
“Paman maksud kedatanganku kesini untuk membahas perjodohan tempo hari,” ucap Ersin.
“Jangan bilang dia mau cepat melakukan perjodohan itu, semoga saja tidak,” ucap Alina dalam hati.
“Tapi apapun keputusannya, semua paman serahkan pada putri paman saja. Paman tidak mau ikut campur ataupun memutuskan sesuatu,” jawab pak Abi.
“Aku sekarang tidak akan meneruskan jika Alina tidak menyetujuinya paman, aku tidak mau Alina terbebani karena itu,” ucap Ersin lagi.
“Maksudnya apa aku boleh menolaknya o.. eh kak?” Hampir saja salah sebut dasar Alina.
“Tentu saja, sekarang terserah padamu,” jawab Ersin pada Alina.
“Tapi nak bagaimana keluargamu, apalagi kakekmu?” tanya ibu pada Ersin
“Bibi Tidak perlu khawatir masalah itu, mereka akan mendukung apapun yang Ersin lakukan,” jawab Ersin.
“Baiklah kalau begitu, paman tidak mau silaturahmi antara keluarga kita menjadi terganggu,” sambungnya lagi.
“Apa kau senang sekarang?” tanya Ersin pada Alina. Ia terkejut Ersin menanyakan itu.
“Hm kan bukan Alina yang mau membatalkannya,” jawab Alina.
“Apa sebaiknya kita lanjutkan saja dan dipercepat bagaimana?” tanya Ersin.
“Jangaaan, Alin juga setuju dengan itu kok.” Sontak Alina menjawab. Ersin tertawa dengan jawaban itu.
Alina merasa lega, kedatangan Ersin tidak seperti yang ia duga. Mereka kini berbincang-bincang walaupun Alina masih merasa canggung dengan Ersin. Sesudah menikmati makan siang, barulah Ersin pamit pulang. Menyusuri jalan menuju pulang ke kediamannya Ersin sedikit tersenyum mengingat kejadian tadi pagi.
“Dasar gadis itu, tapi aku akui tubuhnya bagus sekali.” Mungkin Ersin punya pikiran yang macam-macam, entah apa, biarkan saja ia berimajinasi.
******
Rumah Alina.
“Besok di sekolah ada pensi sayang, kau mau ikut menonton?” tanya ayah pada Alina.
“Tidak mau yah, masak Alin kesana tkdak ada temannya. Nanti dikiranya Alin masih anak SMA lagi,” jawabnya sambil terkekeh.
“Kan sama ayah, mungkin ayah akan pulang malam besok,” ujar ayah.
“Acaranya sampai malam yah?” tanya istrinya.
“Iya bu, tapi ayah tidak akan sampai selesai pasti pulang duluan. Ibu mau ikut?”
“Ibu di rumah saja sama Alina, kasian anak ibu ditinggal kesana,” jawab ibu.
“Ya sudah kalau begitu,” jawab pak Abi.
.
.
.
.
.
Happy Reading💕