
Secara detail mereka mengecek satu persatu label ruangan yang tertera di atas pintu. Perasaan iba bercampur khawatir menyeruak di benak masing-masing. Akhirnya kabar yang mereka nantikan pun tiba. Disaat mendapat panggilan dari Alina, seusai kuliah mereka memutuskan untuk menjenguk pak Abi.
“Cepatlah Fit!” ucap Dinda.
Fitri mulai mengikuti Dinda dengan muka cemberut, langkahnya yang lambat karena bawaan yang cukup berat, sedangkan Dinda hanya membawa dirinya saja. Akhirnya mereka menemukan ruangan pak Abi. Dinda mengetok pintu dan langsung membukanya. Terlihat Alina bersama ibunya, mereka pun menoleh ke arah Dinda dan Fitri.
“Sini nak biar bibi bantu,” ucap Mirna, melihat Fitri kesusahan dengan bawaannya. Akhirnya Dinda baru sadar penderitaan sahabatnya.
“Kenapa aku lupa dengan bawaan kita,” dalam benaknya, Dinda merasa bersalah.
“Dan kau masalah seperti ini pun kau tidak segera memberitahu kami,” kesal Dinda pada Alina, tetapi mereka tetap memberikan pelukan hangatnya.
“Selalu saja kau membuat kami khawatir, ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Kau tahu kami sampai datang ke rumahmu dan menunggu sangat lama,” sambung Fitri.
“Aku tidak bisa berpikir jernih, apalagi peduli dengan ponselku. Maaf aku melupakan kalian, aku sudah membuat khawatir,” ujar Alina.
Fitri dan Dinda mendekat ke arah pak Abi, pemandangan yang sangat membuat mereka prihatin. Seketika teringat dengan kedua orang tua mereka. Bagaimana jika mereka yang berada dalam posisi Alina.
“Paman aku dan Fitri datang menjenguk paman, semoga paman lekas sembuh,” ucap Dinda. Pak Abi masih tertidur setelah meminum obatnya.
“Terimaksih kalian sudah datang menjenguk,” ucap Mirna.
“Iya bibi, apa bibi sudah makan? aku bawakan sedikit makanan,” ujar Fitri.
“Nanti akan bibi makan, maaf merepotkan kalian,” jawab Mirna, ia tak banyak bicara, dengan muka lesu, garis mata hitam sangat terpancar dimatanya.
“Bagaimana keadaan ayahmu? aku tidak menyangka lukanya begitu parah,” tanya Fitri, ia melihat pak Abi yang berbaring tak berdaya.
“Operasinya berjalan lancar, butuh waktu lama untuk ayah bisa berjalan, untuk berbicara saja susah, ada jahitan di bibirnya.” Pertanyaan itu membuat air mata Alina hampir menetes, iya dia akan menunggu lama untuk kesembuhan ayah tercintanya.
Mereka pun ikut terbawa suasana, karena tidak ingin membuat kesedihan lagi Fitri berupaya membawa Alina keluar, mencari tempat duduk yang nyaman. Mereka tahu yang Alina perlukan adalah pelukan dan pendengar yang baik.
“Menangislah, kami akan menemanimu, sampai kau tenang beritahu kami apa yang terjadi.” Dinda sangat paham bahwa ada yang memberatkan pikiran sahabatnya ini. Tentu saja Alina akan menangis memang itu yang bisa meluapkan perasaanya.
“Yang aku tahu ayahku menabrak pembatas jalan, dan mobilnya jatuh ke jembatan. Itu masih jam sekolah, dan kenapa ayah keluar, itupun dijalur yang tidak pernah ia lalui.”
“Kau mungkin tidak tahu, bisa jadi ada sesuatu yang penting yang harus ayahmu selesaikan. Anggap saja itu musibah, hanya perlu waktu ayahmu untuk sembuh, tugasmu hanya untuk merawatnya saja.” Ujar Dinda.
“Apa aku salah jika tidak mematuhi permintaan ayahku?”
“Apa maksudmu?” sambung Fitri.
“Ayah memintaku untuk segera menikah.” Sontak membuat mereka kaget.
“Itu keinginan ayahmu dari sebelumnya? tidak masuk akal jika ia ingin kau segera menikah. Tunggu, ayahmu meminta kau menikah dengan siapa? apakah Ersin? ” Dinda dan Fitri yang begitu penasaran.
“Iya kau benar, pria itu Ersin. Dengan tenaga terakhirnya ayah meminta itu padaku.” Jawab Alina.
“Dokter mendiagnosa kemungkinan ayah akan lumpuh, mereka sudah berusaha yang terbaik. Aku harus bagaimana, yang aku takutkan itu akan menjadi permintaan terakhir ayahku. Akupun ingin ia sembuh melihatku menikah suatu saat nanti. Tapi kenapa dalam keadaan seperti ini. Aku tau Ersin ingin menyembunyikan ini dari aku dan ibu, tapi aku tanpa sengaja mendengarnya sendiri.”
“Alina, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kau tidak ingin menyesal bukan, ayahmu sudah punya alasannya, tunggu waktunya dan kau akan tahu.” ujar Dinda.
“Aku hanya ingin ayahku sembuh untuk sekarang, itu saja sudah cukup bagiku. Aku tidak ingin menikah, itu masih jauh dalam pikiranku. Aku masih anak ingusan, tidak terbayang aku harus memiliki suami.”
“Alina bagaimana kami harus membantumu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Tanpa sadar Fitri meneteskan air matanya.
Tak lama berselang mereka akan pulang, niat berpamitan mereka urungkan, ternyata Mirna tertidur dalam keadaan duduk di sofa. Alina duduk di dekat ayahnya, supaya tidak mengganggu ibunya yang masih terlelap. Hatinya pilu, dalam mata terpejam tak berdaya Pak Abi meneteskan air mata.
“Nak” Alina menoleh ke arah ibunya.
“Ibu baringkan badanmu, tidurlah ada Alina disini menjaga ayah.”
“Terimaksih nak, ” Mirna mulai memejamkan matanya.
Beruntung hanya ia yang menyadari. Selembar tissu ia ambil, dimulai dari dahi lalu pelipis, seolah-olah sedang mengusap keringat, ia takut ibunya menyadari itu. Alina tidak ingin menambah kesedihan lagi.
“Ayah kami mencintai ayah, Alina dan ibu menunggu kesembuhan ayah. Alina tahu ayah begitu kuat. Ayah masih ingat apa yang Alina katakan sebelum ayah masuk ke ruang operasi? jadi, itu artinya ayah harus bisa pulih lebih cepat. Ayah ingin melihat putri kesayangan ayah menikah kan? Alina akan berjalam di atas altar dengan memakai gaun yang cantik, dan juga akan mengandeng tangan ayah.”
Alina menangis tanpa bersuara, hingga ia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Lagi dan lagi air mata membasahi pelipis ayahnya tanpa henti. Akhirnya pak Abi membuka matanya, di balik luka itu ia memberikan sedikit senyuman dengan menahan rasa sakit.
Dalam perjalan pulang Fitri dan Dinda masih tak habis pikir dengan apa yang mereka dengar dari sahabatnya itu.
“Din,” ucap Fitri
“Aku tidak tahu, aku tau apa yang ingin kau ucapkan, jangan kau tanya lagi.”
“Haahh” Fitri menghela nafas panjang.
“Apa ini ulah Ersin, dia yang mengancam pak Abi supaya ia bisa menikahi Alina, bisa jadi kan. Secara dia kaya, apapun bisa ia lakukan dengan uang.”
“Jangan bodoh, untuk apa Ersin melakukan hal gila itu. Jika iya, pak Abi akan menjauhkan Alina darinya. Tapi kau lihat bagaimana ia memohon supaya anaknya cepat menikah, itu berarti ia percaya jika Ersin bisa menjaga putrinya.”
“Aku sungguh kasihan dengan Alina, tiba-tiba aku teringat orangtuaku.”
“Kau menyesal karena tidak menjadi anak yang patuh kan,” ejek Dinda.
“Hey bukan begitu, aku akan belajar jadi anak yang berbakti mulai sekarang, sebelum terlambat dan menyesal.” ucap Fitri, ia kali ini sangat bersungguh-sungguh.
Begitupun Dinda, ia membenarkan apa yang sahabatnya ucapkan. Terlambat lalu menyesal, jika itu bisa di cegah, kenapa tidak. Kehilangan orang tersayang adalah suatu penyesalan yang tak bisa diperbaiki dengan apapun dan tidak ada yang dapat menjadi penggantinya.
Mulai lah memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan, sebelum ada kata terlambat dan kau akan menyesali waktu yang terbuang tanpa kau memanfaatkannya dengan baik. ♥