Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 41



Setelah jam kuliah berakhir Alina bersama sahabatnya menuju ke tempat yang sudah direncanakan. Mereka akan mengerjakan tugas bersama di toko buku milik Andre, selain bisa membeli buku disana juga disiapkan beberapa keperluan sekolah lainnya, dan juga terdapat tempat untuk membaca yang nyaman. Beberapa snack dan minuman juga tersedia disana. Tempat itu tidak pernah sepi pengunjung, karena terdapat juga beberapa buku yang bisa dipinjam. Apalagi di kalangan mahasiswa dan anak sekolahan, tempat ini lumayan terkenal. Buku-buku yang tersedia juga sangat lengkap jadi tak heran jika tempat ini menjadi favorit mereka. Ditambah lagi sosok pemiliknya yang sangat ramah dan lumayan tampan.


“Selamat datang,” ucap Andre menyambut mereka bertiga, dan dibalas dengan senyuman.


“Hai kak Andre, apa kabar?” tanya Fitri.


“Ya beginilah Fit setiap harinya, sudah lama kalian tidak datang kesini.”


“Iya, kami mau buat tugas kak,” sambung Dinda


“Disana masih ada tempat yang kosong,” tunjuk Andre.


“Kami kesana ya kak,” ujar Fitri, hanya Alina yang tidak mengucapkan apa-apa.


Pandangan Andre tidak lepas dari Alina, hingga ia terus saja menatapnya walaupun hanya terlihat punggungnya saja. Andre menyukai sosok Alina yang cantik dan tidak banyak bicara menurutnya. Hingga seorang pengunjung lainnya menyadarkan Andre.


“Kak Andre dari tadi aku perhatikan kau terus saja melihat gadis itu.”


“Maaf-maaf, ini saja ya?” Andre mengambil papper bag dan memasukan belanjaan pengunjung itu, dan memberikan kembaliannya.


“Aku sampai melamun, sudahlah mana mungkin gadis secantik itu bisa menyukaiku,” ujar Andre.


Sesuai perintah ayahnya Alina harus sudah di rumah sebelum malam. Dan ia pun sudah selesai dengan tugasnya. Mereka membayar snack dan minuman yang mereka ambil saat mengerjakan tugas. Fitri melihat bingkai foto di atas meja, gadis remaja yang sangat manis. Bukan Fitri namanya jika tidak bertanya, tentu saja Fitri tidak akan diam.


“Kak itu siapa? kekasihmu?” tanya Fitri dengan harapan jawaban Andre tidak mematahkan hatinya.


“Bukan, dia adikku,” jawab Andre, Fitri lega mendengarnya. Padahal bukan siapa-siapa lalu kenapa Fitri harus khawatir dengan itu.


“Tapi kami tidak pernah melihatnya disini, apa dia tidak tinggal bersamamu?” tanya Fitri lagi.


“Dia berada di tempat yang jauh dariku,” jawab Andre


“Tapi kenapa? kak Andre kan... ”


“Fitri adik kan Andre sudah tidak ada,” ujar Alina.


“Maaf kak aku kira bukan seperti itu maksudnya.” Fitri merasa bersalah karna ulahnya.


“Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah.” Andre menenangkan Fitri.


“Makasi ya kak kami pulang ya.” Mereka berpamitan.


“iya, datang lagi,” ucap Andre. Setelah kepergian mereka Andre melihat bingkai foto adiknya lagi, seketika raut wajah Andre berubah ketika mengikat penyebab dari kematian adik perempuannya itu.


“Kalau saja kakak tidak pergi waktu itu, mungkin kau akan bersama kakak saat ini. Maaf kakak tidak bisa melindungimu dan ibu kita.” Penyesalan terbesar dalam hidup Andre, sampai saat ini ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Sekarang ia hanya hidup sendiri tidak mempunyai siapapun lagi.


Diperjalanan pulang Alina teringat sesuatu, sepertinya wajah dari adik Andre tidak asing baginya. Seperti ia pernah melihatnya, tapi entah dimana dan siapa ia pun lupa.


Sampailah Alina di rumah, ibu dan ayahnya sudah menunggu, karena sudah hampir malam. Beberapa panggilan dari ayahnya Alina lewatkan karena sedang berkendara. Hal itu menambah kekhawatiran pak Abi. Mereka menunggu Alina di ruang makan. Makanan belum mereka sentuh, menunggu kedatangan putrinya.


“Ayah ibu Alina pulang,” ucapnya mendekati mereka, dan mencium punggung tangan saling bergantian. Alina mencuci tangannya dulu sebelum makan.


“Sudah ayah bilang jangan pulang malam.”


“Nanggung yah, lagian Alina pulang sore sampainya yang malam,” jawab Alina.


“Semakin nakal saja anak kita bu,” ucap pak Abi pada istrinya.


“Iya, ayo cepat makan nak,” ujar pak Abi. Alina lupa memberi kabar Ersin jika ia sudah dirumah. Cepat-cepat ia menyantap makanannya. Ternyata Ersin sudah menghubunginya lebih dulu. Alina masuk ke dalam kamarnya menerima panggilan dari Ersin.


“Dimana kau sekarang?”


“Aku di rumah kak,” ucap Alina, mungkin karena Ersin kurang yakin dengan itu, ia mengalihkan panggilan ke panggilan video. Setelah melihatnya barulah Ersin bisa lega.


“Kenapa kau lama menjawab teleponku,” tanya Ersin.


“Aku masih makan tadi kak,” jawab Alina.


“Aku merindukanmu.” Alina hanya tersenyum mendengarnya.


Alina tidak pernah membalas kata Ersin, hanya senyuman yang ia lontarkan. Hati itu belum ia tetapkan, akankah Ersin bisa mengisi sepenuhnya ruang di hati Alina. Perlahan-lahan Alina meyakinkan hati, siapkah nantinya ia akan membagi hidupnya.


“Kak aku mau mandi dulu.”


“Mandilah, aku ikut bersamamu.” Ucapan itu membuat Alinan memicingkan alisnya.


“Kau jangan macam-macam.”


“Kau milikku, cepat atau lambat aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya.” Alina merinding mendengar ucapan Ersin.


“Oke oke, boleh aku mandi sekarang, aku tutup teleponnya kak.” Secepat kilat Alina menekannya. Jangtungnya berdebar, sekaligus gusar memikirkan kelanjutan hidupnya jika sudah menjadi kekasih Ersin.


“Apa dia akan memaksaku menjadi istri mudanya, tidak-tidak. Aku masih terlalu kecil untuk menggendong anak argghh.” Mengacak-ngacak rambutnya.


Disisi lain Ersin masih kesal, karena ia belum sempat mengucapkan apapun tapi Alina sudah memutuskan teleponnya.


“Menggemaskan sekali, pantas saja banyak pria yang menyukaimu. Tapi itu tidak akan pernah aku biarkan. Ersin bagaimana bisa kau mendambakan gadis berumur 19 tahun. Secepatnya aku harus mendapatkanmu aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”


Tiba-tiba ponsel Ersin berbunyi, nomor telepon yang tidak ia ketahui. Ia pun heran karena tidak banyak orang yang mengetahui nomor pribadinya. Urusan yang menyangkut bisnispun tidak akan melibatkan nomor pribadinya, melainkan itu akan diurus oleh Rey atau Melani. Akhirnya Ersin mengangkatnya setelah deringan itu hampir selesai.


“Hallo nak, Ini paman Abi,” ucap pak Abi.


“Paman? aku kira siapa, ada apa paman?” jawab Ersin.


“Besok kau ada waktu? paman ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Pak Abi.


“Tentu saja paman, kapan saja aku bisa menemuimu. Apa perlu aku datang kerumahmu?” Ersin menawarkan diri, justru ia senang jika dapat menemui Alina.


“Tidak nak, kita bertemu diluar saja. Maaf jika paman merepotkanmu.”


“Itu bukan apa-apa paman kau tidak perlu sungkan padaku.”


“Baiklah nak, besok paman akan menghubungimu lagi,” ucap pak Abi.


“Baiklah sampai jumpa paman” Ersin mengakhiri panggilannya.


Ersin kembali berkutik dengan laptopnya melanjutkan sedikit pekerjaan yang belum terselesaikan. Beginilah Ersin mengisi waktu luang hanya untuk bekerja dan bekerja. Tidak heran jika ia disebut gila kerja oleh mamanya sendiri.


Tinggalkan jejak readers


HAPPY READING💕