Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 27



Keresahan mulai dirasakan oleh seluruh mahasiswa dan para orang tua. Mengingat salah satu siswa dari kampus itu menghilang dengan misterius. Dengan adanya polisi yang melakukan penyelidikan menambah lagi kehebohan dan ketakutan mereka. Berita itu menjadi topik hangat yang saat ini diperbincangkan. Semua stasiun tv swasta menyiarkan berita tentang hilangnya Gea dengan judul yang berbagai macam. Wartawan silih berganti berdatangan untuk mencari lebih banyak berita.


Walaupun keadaan saat ini tidak terlalu baik tapi kegiatan belajar mengajar tetap berjalan semestinya. Menyikapi kejadian itu, pihak kampus melarang adanya kegiatan malam di kampus, untuk menjaga keamanan bersama, beberapa himbauan juga sudah disampaikan. Para polisi juga sudah siaga untuk berjaga di beberapa titik yang memang termasuk kawasan yang sepi.


Selain di kantin, taman yang berada di tengah kampus menjadi tempat favorit Alina dan sahabatnya. Mereka juga tidak luput dari berita hangat itu, bagaimana tidak, rasanya pelaku berada dekat disekitar mereka. Tidak bisa dipungkiri mereka juga merasa cemas dan waspada.


“Kenapa kau berbeda sekali hari ini Fit? kau ada masalah?” tanya Dinda, memecah keheningan karena memang Fitri mendadak menjadi pendiam hari ini.


“Rasanya takut saja, jika aku yang berada di posisi gadis itu.” Fitri mengeluarkan unek-unek di hatinya, dengan menghembuskan nafas kasar.


“Siapa juga yang mau menculik gadis cerewet sepertimu yang ada penculiknya pusing menghadapimu,” celoteh Dinda.


“Jangan salah Din, siapa tahu gadis langka dan limited edition sepertiku yang justru dicari penculik itu,” Balas Fitri. Alina menahan tawanya menyaksikan perdebatan temannya itu.


“Jangan berpikiran sempit seperti itu, intinya yang terpenting kita tetap menjaga keselamatan. Semoga Gea menjadi yang terakhir dan polisi segera menemukannya. Jadi tidak perlu cemas begitu Fit. Kalau aku yang jadi penculiknya juga berpikir dulu mau menculikmu,” ujar Alina yang sebenarnya juga sependapat dengan Dinda.


“Kenapa kalian tidak takut sama sekali?” tanya Fitri sedikit geram.


“Tentu saja aku cemas, terus aku harus apa lagi? tidak mungkin kan aku harus panik setiap waktu,” jawab Alina.


Begitulah perbincangan mereka, yang satu parnonya minta ampun. Ada juga yang menanggapi dengan biasa saja dan acuh. Sedangkan Alina hanya ingin semuanya berjalan dengan semestinya saja, tapi dirinya tetap harus waspada.


Adit dan Nisa mendatangi mereka, dilihatnya Alina dari kejauhan. Cukup memakan waktu yang lama untuk menemukan mereka


“Alina,” panggil Nisa, Alina menoleh dan tersenyum


Fitri dan Dinda sejenak berpikir, masih heran melihat sahabatnya. Yang mereka tahu Alina tidak dekat dengan gadis yang sekarang berada di depan mereka.


“Lelah aku mencari kalian,” ujar Nisa.


Fitri masih menerka ucapan Nisa dengan kata kalian.


“Memang ada perlu apa mereka mencariku?” dalam benak Fitri.


“Perkenalkan aku Nisa, senang bertemu kalian,” ujar Nisa menjulurkan tangannya kepada Fitri dan Dinda.


“Fitri,” jawabnya singkat.


“Aku Dinda,” jawab Dinda.


Adit pun menyapa mereka bertiga, dan memberikan sesuatu yang ia bawa. Dan itu merupakan sesuatu yang mencengangkan.


“Kalian harus datang” ucap Nisa.


“Kalian menikah?” tanya Dinda heran


“Bagaimana bisa?” sambung Fitri


“Kenapa tidak bisa, tentu saja mereka bisa menikah,” ujar Alina menengahi, agar tidak ada pertanyaan yang aneh lagi dari Fitri dan Dinda.


“Kalau begitu kami duluan, masih banyak lagi undangan yang perlu dibagikan,” ucap Nisa, lalu pergi meninggalkan mereka.


“Aduh aku tidak paham, kenapa mereka bisa menikah, bukankah kau dan Adit pernah dekat, jadi mereka berdua itu apa dong?” tanya Fitri dan Alina.


“Begini, mereka memang sudah bersama dari dulu, tetapi Nisa sudah punya kekasih.”


“Jadi maksudmu dia selingkuh dengan Adit” tanya Dinda spontan.


“Mungkin bisa dibilang begitu,” jawab Alina


“Jadi Adit selama ini mendekatimu untuk apa, hanya untuk mengisi waktu luang? disaat gadis itu bersama pacarnya dan Adit bersamamu jadi begitu?” Fitri dengan geramnya


“Aku juga tidak mau menyalahkan siapapun disini, aku juga dengan Adit hanya berteman saja kan tidak lebih,” jawab Alina


“Tapi aku tidak menyangka ternyata Adit laki-laki macam itu,” ujar Dinda.


“Dengarkan ya, kalian harus tahu kenenarannya.” Alina menceritakan kisah Nisa, sebenarnya ia tidak mau mengumbar aib seseorang, tapi ia juga tidak mau sahabatnya ini menaruh kebencian ke Adit dan juga Nisa.


“Kenapa kau tidak menceritakan itu lebih awal pada kami.” Fitri menoel pipi Alina.


“Karena sekaranglah waktunya yang paling tepat,” jawab Alina berusaha mengelak.


“Mulai sekarang kau bukan sahabatku lagi,” ucap Fitri memasang wajah datar.


“Kau selalu menyembunyikan sesuatu dari kami,” sambung Dinda lagi.


“Aku minta maaf Din, tapi sumpah aku tidak punya maksud apa-apa, jadi maafin aku ya.” Alina memasang wajah sedih. Dinda dan Fitri tidak menghiraukan Alina.


“Ada syaratnya,” ucap Fitri masih dalam mode datar


“Apa? jangan bercanda ah,” jawab Alina.


“Kau harus traktir kami, ayo ke kantin.” Fitri melangkah menuju kantin diikuti dengan Dinda.


“Itu sih mau kalian saja, huh dasar,” gerutu Alina.


“Cepat Lin,” ejek Dinda.


“Aku mau makan sepuasnya,” ujar Fitri.


“Tapi kalian janji harus datang ke pernikahannya Adit  dan jangan benci mereka lagi,” ujar Alina


“Untuk apa kami benci mereka Lin, aku cuma kesal saja. Tapi setelah kenyang kesalku pasti hilang,” ucap Fitri.


“Benar itu Lin,” sambung Dinda


“Bisa-bisanya kalian mengerjai aku supaya dapat traktiran,” gerutu Alina.


“Itu karena kau selalu saja tidak mau bicara apa-apa pada kami, lain kali kau tidak boleh begitu lagi, kau mengerti?” tanya Fitri seolah seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.


“Siap laksanankan bu Fitri,” jawab Alina tertawa.


“Jangan tertawa aku serius!”


“Baiklah baiklah.” Alina.


Mereka sudah duduk di meja kebesarannya, ternyata benar, kebahagiaan terkadang tercipta diatas penderitaan orang lain. Tapi bukan berarti ini adalah masalah besar bagi Alina. Apapun akan ia lakukan agar pertemanan mereka tidak terganggu apalagi hanya dengan masalah sepele.


“Kalian sudah puas sekarang? rasanya aku seperti menonton live mukbang.” Alina menghembuskan napas kasar.


“Jangan ajak kami bicara dulu Lin, perutku rasanya mau meledak,” ujar Dinda dengan mengelus perutnya yang kepenuhan.


“Tunggu dulu, beri aku jeda sedikit.” Diikuti dengan Fitri yang juga melakukan hal yang sama.


“Tapi Alin, baguslah jika Adit tidak bersamamu,” ujar Fitri, ketika sudah mendapat sedikit jeda barulah ia mulai bicara lagi.


“Karena kau sudah punya yang lebih dari Adit,” sambung Dinda langsung menerobos padahal Fitri belum selesai dengan kalimatnya.


“Beruntungnya kau Lin disukai pria itu, sudah badannya tinggi dan bagus, pasti orang kaya jika dilihat dari penampilannya. Kalau masalah wajah apalagi aaghhh tampan sekali aghhh.” Fitri yang sedikit berlebihan.


“Aku juga tidak menyukainya,” jawab Alina acuh.


“Siapa yang bisa kau bohongi, kami sudah lama mengenalmu, bahkan reaksimu melebihi dari yang aku lihat dengan Adit.” Fitri bicara sejujurnya.


“Sebenarnya kau menyukainya kan, ayo jawab!”


“Apa sih kalian, sudah selesaikan ayo kita pergi.” Alina mengalihkan pembicaraanya, ia tersipu malu. Ia terus saja melihat ponselnya, seperti menunggu seseorang mengirimi pesan.


“Apa aku benar menyukainya? tidak, tentu saja tidak .Jika dia juga menyukaiku kenapa hari ini Ersin tidak menanyakan kabarku tidak seperti biasanya” Alina kesal dalam hati.