A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
3. Menyerahkan kesuciannya



Tangan besarnya dalam sekali gerakkan, mengangkat pinggangnya untuk berdiri. Dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Yani berusaha segera mengambil nafasnya yang tercuri.


Laki-laki ini sangat kuat. Permainan tadi, Yani merasa seperti boneka. Diangkat dan diletakkan. Belum selesai mengambil nafas, Dia kembali ******* bibirnya. Mendorong dan Meletakkannya dengan kasar diatas tempat tidur.


Laki-laki itu semakin berani. Mempelajari semua bagian tubuhnya. Dan sekali gerakkan mengangkat gaun merah nya. Yani terkejut di tempat nya, dia gemetar merasakan kulit dingin laki-laki ini melekat dikulitnya.


Gadis itu semakin gemetar merasakan sentuhan kasar di wilayah terlarangnya. Dia memperlakukan Yani dengan kasar. Desahan pelannya malah membuat laki-laki ini semakin buas mengambil seluruh nafasnya.


Dia sudah kelelahan, air matanya membanjiri sudut matanya.


Kakinya tidak lagi dapat dirasakan. Semua tubuhnya tidak dapat lagi dirasakan.


Malam ini sangat lama berlalu. Menyampingkan kepala. Melihat jendela diluar. Hanya bulan tanpa bintang. Tangan kecilnya berusaha mengapai, tapi sia-sia. Kedua bola mata hitam besarnya menutup rapat.


Laki-laki itu melakukannya berkali-kali, Yani hampir pingsan karena kesakitan. Tubuhnya melengkung menahan sakit, dan di kembalikan diletakkan kembali dengan kasar.


Dia tidak berani mendorong atau mencakar pria di atasnya, tidak berani berteriak kesakitan, tidak berani menjerit ketika bekas luka di lengan di tekan.


Menutup rapat mulutnya, seperti perintah.


Laki-laki itu akhirnya roboh juga diatasnya. Dia berguling kesamping dan tidak bergerak.


Yani menghabiskan sisa tangisannya.


Kakinya tidak bisa digerakkan. Susah payah dia mengambil scraft di lantai dan pakaiannya satu persatu.


Kakinya gemetar tidak mampu berdiri. Dia menyeret mereka, hingga di depan pintu.


Sesampainya dipintu. Dia berusaha berdiri. Tapi kembali terjatuh.


Dia memukul-mukul keras kedua kaki yang tiba-tiba menjadi kebas. Dan


mengigit tangannya menahan rasa sakit.


Setelah berhasil berdiri dia membuka pintu.


Tidak disangka kedatangannya sudah dinanti lama oleh mereka.


Sang kakak mendorongnya menjauh dari pintu. Kemudian dia masuk kedalam dengan wajah sangat membencinya.


Sang ibu hanya mengeleng melihat kelakuan sang anak.


"Terimakasih. Setelah ini, kita tidak perlu lagi bertemu. Kami akan kembali kekampung halaman. Jadi kamu akan sendiri di rumah."


Yani hanya mengangguk-angguk. Dengan gontai berjalan mengimbangi sang ibu. Sampai di lobi hotel dia tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dan jatuh pingsan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ketika membuka mata, dia hanya melihat langit-langit putih. Dengan ruangan serba putih. Dia kemudian melihat tirai melambai-lambai.


Kemudian dia meletakkan kembali kepalanya. Suara roda didorong, suara mesin detak jantung.


Dia merasa mengenali ruangan ini.


Ini adalah ruang gawat darurat ayahnya.


Yani berusaha turun dari tempat tidurnya. Kepalanya terasa pusing.Β  Pakaiannya masih yang semalam.


Kakinya tidak sesakit semalam.


Tangannya membuka tirai, tapi bukan ayahnya disana, dia membuka tirai lainnya dan bukan ayahnya.


"Nona Yani, anda sudah sadarkan diri. Apakah Nona mencari ayah nona?. Beliau dipindahkan keruang ICU." Seorang perawat meninggalkannya sendiri.


Yani menghampiri perawat tadi. Sambil merapikan letak scraft.


"Siapa yang membawa ku kesini suster."


Suster itu tersenyum manis.


"Tentu saja ibu Nona. Beliau bilang anda akan membereskan administrasi ayah anda."


Yani lemas dikursinya. Dia kemudian menuju administrasi melakukan pembayaran. Dia kemudian menuju ruang ICU.


Benar disana ayahnya berbaring lemah.


Yani duduk diam dihadapannya. Meremas tangan sang ayah.


Gadis itu menahan air mata, tidak ingin ayahnya melihat deritanya.


"Nona anda silahkan menunggu di luar."


Yani terkejut. Seakan baru saja mendarat di lantai setelah terbang melayang.


Tangan kecilnya mengusap wajah sang ayah.


"Ayah, aku akan kembali. Aku harus memenuhi janjiku pada Bryan siang ini."


Yani menelan ludahnya. Dia kembali mengukir senyum dihadapan ayahnya yang membisu.


"Aku mencintai mu ayah." Bisiknya.


Gadis kecil itu meninggalkan ayahnya di ruang ICU. Dia berjalan keluar rumah sakit.


Mengunakan Taxi kembali kekediaman.


🌺


Membersihkan diri. Membersihkan berkali-kali. Seperti orang gila. Dia menekankan spons kekulitnya kuat-kuat. Menghapus tanda kemerah di leher, dada, lengan, dimana-mana.


Rasa menjijikan, tiba-tiba ditujukannya pada gadis didepan cermin.


Dia bahkan melempar sisir ke cermin itu. Dia membenci rambut merahnya, membenci bola mata hitam itu, membenci kulitnya sendiri.


Didalam kamar mandi, dia berteriak kencang, dan menangis histeris. Melempar semua barang-barang didekatnya.


Melepas seprai, membongkar kasur, menyapu meja rias menghancurkan semua yang ada diatasnya kelantai.


Melepas tirai, asal-asalan mengeluarkan semua isi lemari kelantai.


Memporak-porandakan kamarnya sendiri.


Lalu berakhir ketika tenaganya habis. Dia jatuh sendiri kelantai.


🌺


Suara ketukkan besi pagar terdengar beberapa kali.


Lalu terdengar lagi beberapa kali.


Dirumah itu hanya ada seorang gadis berambut merah tergeletak di lantai.


Suara memanggil namanya terdengar. Suara itu memanggilnya lagi dengan merdu. Yani berjalan ke jendela. Dan menemukan Bryan berdiri disana.


Wajah tampannya, kulit putihnya dan pipi tembem itu. Langsung tersenyum, begitu melihat gadis berambut merah, memperlihatkan diri dijendela.


Yani merosot kelantai.


Rasa bersalah menusuk kedalam hatinya.


Bryan lagi-lagi memanggil-manggil. Yani pun akhirnya menghampiri. Mengenakan kaus berleher tinggi dan jins biru. Lalu membungkus semua tubuhnya dengan jaket kulit, dia sudah berdiri didepan Bryan.


Bryan membukakan pagar dan menutup nya kembali.


Membantu mengenakan Kekasihnya helm. Mereka kemudian naik kemotor dan meninggalkan rumah Yani.


Motor Bryan memecah komplek perumahan.


Yani memeluk kekasihnya erat. Bryan merasa kekasihnya telah kembali. Kembali seperti biasa, memeluknya erat. Sebulan belakangan Yani tampak berbeda.


Bryan senang mendapatkan kembali pelukkan erat pada pinggangnya.


Motor Bryan memasuki kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Tempat favorit mereka berdua.


Tempat kencan pertama mereka.


Tempat pertama kali Bryan mengatakan cinta nya.


Tempat yang selalu mereka datangi untuk merayakan hari jadi mereka.


Bryan dan Yani berjalan di tepi pantai. Berjauhan.


Yani menolak diajak ke Ocean Dream Samudra. Disana ada wahana favorit Yani, tarian putri duyung.


Gadis itu memilih berjalan sepanjang tepi pantai.


Bryan menurut saja. Asalkan bersamanya, dia akan melakukan apapun.


"Lanjut kuliah di mana?." Yani memasukkan kedua tanganya kedalam saku jaket. Agar Bryan tidak bisa mengenggamnya.


Bryan mengeleng melihat kekasihnya disebelah."Aku belum tahu, Ayah menyusun daftar panjang untukku."


Yani mengangguk sambil melihat jalan. Kemudian membalas senyum Bryan.


"Jadi New York?."


Bryan mengangguk. Yani membalas dengan senyum.


Rambut merahnya di kepang agar tidak merepotkan karena angin pantai.


"Kamu? Akan kemana setelah ini."


Yani melihat kedepan, bola mata besar hitamnya menatap kosong kedepan.


"Menemani ayahku. Merawatnya. Mungkin bekerja?."


Bryan menghentikan langkahnya. Dia menahan Yani untuk meneruskan jalan.


Didepan perahu pantai yang terikat kuat ditepian. Bryan mengambil sesuatu dari kantong jaketnya.


Dia kemudian berlutut didepan Yani. Dan membukakan isi didalam kotak hitam kecil kearah Yani.


"Menikahlah denganku. Dan ikutlah denganku ke New york, ayah dan ibu setuju dengan ideku ini. Kamu bisa mengambil jurusan fashion seperti pasion kamu disana."


Yani terkejut, dia melangkah mundur. Terkejut dengan cincin berlian yang ditunjukan untuknya.


Air mata jatuh ringan.


Bryan tertawa meyaksikan kekasihnya terkejut.


γ€€


γ€€