A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
182. aku bisa memberikanmu banyak Thony



Telapak tangannya yang besar mengambil punggung tangan Lisa, meletakkannya tepat dimana jantungnya yang kecil berada.


"Disini! Dadaku sesak disebelah sini. Aku tidak menyangka, akan seberat ini ditinggalkan oleh mereka. Aku sangat Kesepian tanpa mereka! Aku tidak bisa mengatakan tentang ini pada orang sembarangan. Aku bahkan tidak berani untuk menceritakan perihal ini pada orang didekatku. Ini terlalu berat, bisakah kamu membantuku, Katakan pada Yani dan Thony, Jangan pergi dari hidupku. Jangan tinggalkan aku, sendirian. Lisa! Dadaku semakin sakit sekali." Memukul dada sendiri dengan kuat. Disusul teriakan keras.


"George." Punggung tangannya yang ditekan dan diremas didada, kini gemetar.


"Hari yang kulalui tanpa mereka begitu menyedihkan. Mereka! Tidak boleh meninggalkanku. Seharusnya tidak kuizinkan mereka liburan ke Jakarta tanpa aku. Jika aku tahu, jika saja aku tahu, mereka akan diambil dariku, aku akan meninggalkan semua pekerjaanku. Aku akan menemani Thony liburan di Jakarta. Aku seharusnya, aku seharusnya. Semua ini tidak akan menjadi seperti ini." Menekan dada sendiri.


Bicara dengan berantakan dan berulang-ulang, seperti binggung. Selanjutnya, Kepala besar, roboh lemas, di bahu Lisa yang kecil. Memeluk tubuh Lisa dengan kuat.


"George." Membalas memeluk. Tanpa terkendali ikut Menangis.


"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin semua ini kembali seperti semula. Bersama mereka. Hanya itu! Aku tidak menginginkan apapun, kembalikan saja mereka padaku. Kembalikan mereka." Berulang-ulang lagi, kini Meremas tubuh Lisa, sangat kuat.


"Aku tahu, aku tahu George." Membiarkan lengan besar memeluknya, menyakitkan.


Sejam kemudian, Pria ini akhirnya tenang. Setelah semua gejolak meledak-ledak sejak tadi, dia kelelahan sendiri. Kedua matanya sudah tertutup tenang.


Lisa tidak tahu jika George begitu ketergantungan dengan Yani dan putranya. Membuatnya bertanya, Seperti apa sebenarnya seorang Yani sebastian?


Memperhatikan George yang sedang tertidur tenang. Pria kekanakan ini sudah banyak berubah, lebih matang dan dewasa. Lisa menyukai cara George mencintai Yani. George yang dewasa dan matang. Telunjuknya dengan lembut menyentuh hidung, kedua mata dan berhenti di bibir pria ini.


Sudah hampir malam, sejak tadi ingin mandi. Tapi niat itu di batalkan tadi. Dia melihat George kembali. Lengan besar itu masih mengunci tubuhnya. Pelan-pelan dan hati-hati, berusaha melepaskan diri. Tapi tidak bisa. Dengan tidak berdaya kembali keposisi telentang dan membiarkan tubuhnya dipeluk dan terkunci.


"George, apa yang terjadi pada kita berdua. Kita dulu, sangat dekat. Benarkan?" Merapikan posisi kepala.


"George apakah kamu mencintai Yani karena Thony? Jika benar, aku bisa memberikanmu banyak Thony. Benarkan?." Setelah bicara konyol sendiri, diapun tertawa kecil sendiri.


Kemudian melihat pria yang memeluknya erat tapi memejamkan kedua mata.


"George apa kamu tidur? Aku sangat lapar." Pelan dan halus, Kemudian ikut tertidur.


Seseorang membuka kedua mata, mendengar dengan jelas ucapan Lisa, dia membeku ditempat. Tapi Gadis dalam pelukkannya, dia sudah tertidur.


The W Hotel.


Presidential suite.


Juan menarik koper dan masuk lebih dulu. Yani menyusul dibelakang. Tapi belum juga kakinya masuk menginjak karpet didalam. Dia berhenti tepat didepan pintu.


"Juan, aku ingin menemui Bimbim, Jesica, Lestari dan yang lainnya di ruangan sebelah."


"Tidak boleh!" Menarik punggung tangan sang istri.


Sekali tarikkan, tubuhnya langsung masuk kedalam. Dengan kencang menendang pintu dan menguncinya. Tidak peduli dengan Istrinya yang menunjukkan wajah tidak suka.


"Mempelai wanita meninggalkan mempelai laki-laki! Menurutmu, aku akan membiarkan cerita seperti itu terjadi." Satu tangan menyeret koper, satu lagi menyeret pemilik koper.


"Hah! Aku hanya sebentar. Kamu juga boleh ikut kalau mau? Bagaimana?" Mendahului sambil Memberikan senyum manis.


"Tidak mau!" Tegas dan jelas.


Yani melihat kesamping sebentar, mencari cara lain.


"Kamu bisa kekamar Raymond? Atau ajak Raymond kekamar Lestari, kita bersama kesana. Raymond pasti mau."


"Tidak mau!" Duduk di tempat tidur.


Kakinya yang panjang di letakkan rapi diatas tempat tidur. Satu tangan menekuk, menopang kepala belakang, tangan satunya menepuk-nepuk bantal kosong di sebelah, sambil melihat sang istri.


"Kemarilah." Tersenyum nakal.


"Tidak mau!" Membalas tidak kalah tegas.


Membuang wajah jauh-jauh.