
"Keluarga kami dengan keluarga Thony Sebastian berhubungan sangat baik, puluhan tahun lamanya. Hingga 20 tahun lalu, kami berempat sebagai orang tua, memutuskan bersama, mengikat hubungan baik dua keluarga ini, dengan menjodohkan putra dan putri kami. Mereka masih kecil pada saat itu." Demitri terhenti.
"Enam tahun lalu, Putra dan Putri kami, keduanya bertemu kembali, sudah dewasa. Dan mulai dekat. Hubungan keduanya sesuai harapan kami. Berjodoh! Dan memang berjodoh. Namun disayangkan saat itu, enam tahun lalu, kejadian menyedihkan juga terjadi. Tidak lama keduanya dekat, Besan kami, yaitu Thony Sebastian, yang saat itu sedang menderita sakit parah. Ditahun itu juga, beliau meninggal dunia. Itu adalah tahun tersedih, bagi kami, keluarga besar Carlos."
Beliau melanjutkan.
"Pengumuman ketiga adalah Juan Carlos dan Yani Sebastian akan mengadakan resepsi pernikahan mereka. Ini, Mengulang pengumuman putra kami sebelumnya. Mengingat Juan Carlos adalah putra satu-satunya yang kami miliki. Dan Yani Sebastian juga putri kandung dan satu-satunya dari Thony Sebastian. Kami yang berbahagia, ingin membagi kebahagiaan kami pada seluruh keluarga dekat. Maka dalam kesempatan baik ini, kami mengundang juga seluruh kerabat, saudara dan teman, juga para awak media untuk juga hadir. Akan disediakan tempat khusus untuk kalian, agar bebas, namun berjarak, untuk mengambil gambar para tamu."
Terdengar suara sedikit ricuh senang, lalu kembali tenang. Mereka membuka bekal catatan masing-masing.
"Tuan Demitri, maaf jika tidak sopan. Boleh kami mengajukan pertanyaan?" Pria berjaket biru gelap.
"Silahkan!" Tegas.
"Tuan Thony, setelah kematian sang istri, bukankah beliau menikah lagi Dan memiliki putri tiri?"
"Benar! Sudah saya jelaskan sebelumnya, Besan kami, hanya punya seorang putri kandung! Dua puluh tahun yang lalu, kami mengikat perjodohan antara putra kandung kami, Juan Carlos dengan putri kandung beliau satu satunya yaitu Yani Sebastian."
"Tuan Carlos. Tidakkah terlalu lama resepsi ini baru dilaksanakan?" Emelly Clark.
"Keputusan akhir kapan Resepsi ini menjadi tepat untuk digelar, adalah keputusan mereka berdua. Kami orang tua hanya mendukung. Mereka memiliki alasan mendasar."
"Maaf Tuan Carlos, bagaimana dengan desas desus kedekatan Yani Sebastian dengan George?" Wanita mengenakan seragam biru.
Semua melihat George.
"George akan menjawab ini." Menjauh dari Mikrophone.
Kini George mendekati meja, dan menarik Mikrophone kedekatnya.
Hadir!
Serentak, suara itu terdengar lagi, saling menyahut sesama mereka. Mereka kira, keterkejutan ini akan terhenti dipengumuman Demitri yang ketiga, ternyata salah! George menyambarkan kilatan baru, Apa masih ada yang lain lagi?
Demitri melirik protokol.
"Baiklah cukup!" Pembawa acara menghentikan.
Demitri bangkit berdiri.
"Itu saja!" Beliau Melempar senyum hangat dan meninggalkan ruangan, lewat pintu beliau masuk.
Meninggalkan ruangan dengan langkah mantap, gagah, penuh keyakinan. Disusul Juan, George dan Dayland. Yang tertinggal hanya Raymond. Pria berbulu itu tetap diposisi. Berganti kedudukan dari sahabat baik, menjadi perwakilan pengacara dari law firm Carlos Garment Industri.
Konferensi pers kali ini, diwarnai banyak sekali kejutan. Pertama sekali kehadiran George diruangan ini. Kedua pengumuman pertama Demitri. Ketiga pengumuman kedua yang lebih membuat semua sulit bernafas didalam. Keempat pengumuman dari George. Totalnya! Empat kejutan mencengangkan. Membuat semua wajah memucat. Jika ada nominasi, untuk acara sejenis ini. Maka Konfrensi pers saat ini, bisa masuk nominasi nomer satu. Tergilax.
Keempat orang sudah meninggalkan ruangan. Pembawa acara melanjutkan acara. "Waktu masih menunjukkan pukul 11, masih jauh dari makan siang."
Semua mengangguk sambil merapikan barang-barang.
"Seperti Tuan Carlos katakan tadi. Para awak media juga diundang diacara ini. Silahkan mengambil sendiri undangan kalian masing-masing. Terimakasih banyak semuanya."
Demitri Carlos memiliki senyum khas dengan pembawaan bijaksana itu, namun sangat tegas. Beliau sudah mengumumkan hal penting. Juan dan Yani, sudah lama sekali di jodohkan, sudah menikah. Keduanya bahkan sudah memiliki seorang putra berusia lima tahun. Bagian inilah, yang seorang kakek, merasa penting untuk dilakukan, melindungi.
Sangat jelas tindakan beliau, mengandeng George. Semua desas desus, otomatis, patah sendiri.