
Juan, Raymond, Dayland, ketiganya diwajah membentuk satu tanda baca, yaitu tanda tanya. Rahang seseorang mengetat kencang.
Apa yang ingin dilakukan Demitri?.
Demitri memiliki langkah berbeda ketika membuat keputusan. Juan dan Roberto, seperti pinang dibelah dua. Segalanya sama, mirip, persis. Sampai membuat keputusan pun sama. Sikap langsung mengeksekusi.
Sementara Ayahnya! Tidak!
Beliau memilih langkah merangkul musuh. Tepat! Ini justru lebih berbahaya. Juan sendiri mengakui, langkah Ayahnya, untuknya, sangat sulit dilakukan. Totalnya, Demitri tidak punya musuh sama sekali. Karena semua beliau rangkul.
Tapi, jika tidak bisa dirangkul, Ayahnya biasanya segera mengeksekusi tanpa ampun. Musuhpun tidak sadar ketika eksekusi dilakukan. Mematikan! Benar! Sangat mematikan. Karena beliau tidak memiliki musuh, jadi langkah mematikannya tidak akan ada yang menduga, tidak akan ada yang menyangka.
Saat ini, beliau sedang melakukan apa? Merangkul George?
Untuk apa? Istrinya mengatakan sangat jelas, untuk tidak menyentuh George. Pernikahan mereka taruhannya.
Semua masalah ini sudah dia handel dengan baik. Suasana akan kembali tenang, esok hari. Pergerakan serempak sangat banyak ini, sejak tadi, malah berbalik mendukung Yani.
Saat ini, pembuat onarlah yang membersihkan sendiri keonarannya.
Semua sudah ditangani dengan baik. Menurut pemilik mata dingin ini.
*
Demitri dan Cristian menyambut semua tamu generasi muda, dengan ramah dan hangat. Cristian segera mengajak menantu dan sang cucu, naik kelantai atas.
Memanggil sahabat putranya kerumah ini, biasa dilakukan, tidak ada yang aneh buat Cristian dan Demitri. Ini, Untuk mempererat hubungan mereka. Sekaligus menandakan, dukungannya atas hubungan mereka. Kali ini, dia mengundang secara khusus putra bungsu keluarga Walthure.
Terakhir anak muda ini datang, saat pernikahan putra mereka. Menantunya hanya mengundang dua orang secara khusus, termaksud pria ini. Artinya, kedekatan mereka lebih dari sahabat. Buat Demitri, desas-desus di luaran dia sudah lebih dulu tahu. Yang dilakukan putranya dalam menyelesaikan masalah ini, diapun tahu. Demitri tidak pernah ikut campur, hanya cari tahu.
Harus di akui anak muda ini memiliki banyak bakat. Ayahnya sendiri, Tuan Walthure tidak mendukungnya, memandang putranya sendiri dengan sebelah mata. Di-sayangkan. Tapi, itulah yang terjadi. Jadi, pemuda gagah ini, sukses berkat dirinya sendiri.
"Silahkan dinikmati." Demitri ramah menjulurkan tangan kemeja.
Keempatnya secara serempak melakukan perintahnya.
"Kalian adalah generasi muda. Penganti kami yang tua ini. Kalian sangat membanggakan." Demitri melihat dengan bangga satu persatu.
Semua kembali keposisi semula. Tiga pria yang bersahabat, tidak bereaksi sama sekali. Berbeda dengan pria tebar pesona ini, dia tidak setuju ucapan Tuan Carlos. Gelisah sendiri dikursi. Ayahnya, Tuan Walthure, tidak merasa bangga padanya. Profesi yang digelutinya, bertentangan dengan pemahaman sang Ayah. Itulah sebabnya mereka selalu tidak akur.
"Hasilkan karya terbaik, lakukan terbaik. Jadilah diri sendiri dan hidup dengan penuh kehormatan. Masa depan keluarga kalian, ada ditangan kalian, buatlah kami bangga." Demitri menjentikkan jari.
Tidak lama dua pelayan, membawakan sebotol minuman sedikit beralkohol. Menuangkannya ke gelas para tamu.
"Kalian para anak muda, harus bersatu. Aku akan mendukung dibelakang kalian. Untuk tamu kita, George! Selamat bergabung. Kamu selalu diterima disini. Kita kini keluarga." Melihat satu persatu dan pandangannya berhenti di George.
Demitri mengambil gelasnya, lalu mengayunkan tangan. Keempatnya secara bersamaan mengambil gelas.
Beliau mengangkat tinggi gelas.
"Untuk kalian anak muda." Kemudian meminum habis.
Semuanya ikut menyusul. Dan dalam sekejap minuman itu habis.
*
Kekuatan menjadi satu memojokkan Yani Sebastian, sudah terhenti sejak kemarin sore. Yang ada kini, berita sebaliknya. Segala sesuatu tentang Yani adalah prestasi. Semua karya-karyanya banyak dipuji dan dipuja, sangat membanggakan.
Yani melihat suaminya yang bersiap berangkat kerja dengan penuh kehangatan, bersandar didekat lemari pakaian, mengagumi. Juan meliriknya sekilas. Pagi ini istrinya bangun lebih cepat darinya, seseorang sepertinya gelisah dalam tidur semalam.
Jam sebelas malam, mereka selesai berbincang bincang. Mereka hanya minum segelas, sisanya hanya cemilan ringan. Saat masuk kekamar, Yani sudah tidur pulas.