
George."Sudah kukatakan berapa kali, jangan matikan telponnya.!!!."
Jesica."Jangan dulu ketoko, please.!." Gadis itu menambahkan emoji menangis.
BimBim."Butik dilempari seseorang dengan batu, pagi ini. Bos, everthing oke there.?."
Lestari."Jangan khawatir, kami baik-baik saja. Jaga diri, Bos." emoji love.
Baru empat teks yang dia baca. Seakan habis berada di bagian bumi berbeda, tidak tahu apa-apa sama sekali. Kepala kecilnya, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi.
Juan, mengatakan untuk tidak melihat berita dan internet. Ada satu atau dua berita yang tidak bisa dia kendalikan. Ini maksudnya, gelombang besar ini sedang mengarah padanya. Dan dia sama sekali tidak menyadari itu. Yani menekan nomer Lestari. Yang mengangkat Bimbim.
"Bos, selamat untuk pernikahannya. Aku senang sekali, akhirnya Bos menemukan kebahagiaan."
"Terimakasih, Bimbim. Kalian semua akan berangkat ke Jakarta kan.?."
"Tentu, Bos. Jangan khawatir kami semua datang, selama tiket dan akomodasi disiapkan Bos."
"Hah.!. Yang benar saja, seseorang mengatakan kalau aku ini bos paling kere." Menyindir.
Bimbim tertawa diseberang, dia menjadi dirinya yang asli. Tertawa semakin besar. Lalu menyerahkan panggilan kembali ketangan Lestari.
"Semua baik-baik saja disini. Hanya kaca depan pecah, dilempar batu besar.?."
"Apakah ada yang terluka.?."
"Tidak ada. Tenanglah Bos, kami semua baik-baik saja. Penjagaan sudah ditambahkan dari pihak ruko."
Kemudian Yani diam, begitu juga Lestari. Hanya semilir angin terdengar, lumayan lama. Dua orang ini tengelam dalam pikiran masing-masing.
"Bos, yang kuat. Semakin tinggi pohon, angin makin terasa lebih kencang. Benarkan.?."
"Benar." Tersenyum mendengar kata-kata bijaksana keluar, dari mulut gadis kecil ini.
"Ada kami.!. Bos tidak pernah sendirian." Suaranya kecil namun tegas.
"Aku tahu, terima kasih." Jarinya menekan warna merah, Menutup panggilan.
Meletakkan android diatas meja. Bersikap normal, mulai mengoreskan garis diatas kertas putih. Meski begitu, isi kepala melayang jauh. Butiknya dilempari seseorang dengan batu besar. Tempat itu, baru saja mengalami perbaikan dibanyak tempat.
Sebulan lalu beberapa orang memaksa masuk, dan merampok, mengasak semua koleksi mereka. Rugi Besar.!. Sangat-sangat besar, bayangkan harus mengantikan semua pesanan orang. Dia sampai menjual mobil sedan, juga rumah. Kali ini, kesialan datang lagi, meski tidak separah sebelumnya.
Ada yang bilang, semakin dekat hari besar, akan ada banyak masalah membentang.
Benarkan.?.
Jarinya berhenti mengores-gores diatas kertas design, keningnya semakin banyak membentuk garis-garis. Jesica sulit dihubungi.?. Gadis itu seakan di bagian bumi era purba kala, yang tidak terjangkau sinyal.
Langkah kaki menekan menghampiri. Juan duduk disebelah. Yani menarik garis panjang bibir, tersenyum manis.
"Juan." Suaranya merdu memanggil.
"...??!." Ujung alis Juan berkibar sekali.
"Juan, aku tahu kamu sembunyi-sembunyi memperhatikanku sejak tadi disana." Menunjuk kursi kebesaran.
"Aku selalu terang-terangan.!. Mataku, hanya tertuju padamu." Menjawab dengan cepat, dan Jelas.
"..." Yani.
Tangan besar memutar kepala. Mereka saling melihat sebentar. Ujung hidung panjang bermain melayang tanpa menyentuh di depan bibir tebal yang sudah membuka kecil. Lalu meninggalkannya begitu saja.
Benar sekali.!.
Begitu saja pergi.!.
Membuat seseorang masih diposisi tadi, mematung. Bulu matanya dua kali dikibaskan. Terkejut.
"...". Yani, wajah pucat.
Satu matanya mengkedut mengiringi langkah menekan menjauh. Mengigit bibir bawah sendiri.
Pria ini.!. Benar-benar nakal.
Tidak Sopan.!.
Dia sempat berpikir tadi, akan mendapatkan ciuman, ternyata dugaannya salah. Hanya permainan kecil didepan bibirnya.
Sungguh.!.
Ini sangat-sangat memalukan sekali.