A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
180. Terlalu nakal tidak baik



Statuse Thony! George selalu ingin lindungi, sekarang itu tidak perlu lagi dilakukannya. Seharusnya dia bisa lega.


Tapi Pernyataan Demitri, Jujur saja, diapun terkejut saat itu. Tidak menyangka sama sekali. Kedekatan Yani dan Juan, bukan sekedar kedekatan satu malam.


Yani tidak pernah terbuka tentang masa lalunya. Atau mereka memang tidak pernah memiliki waktu untuk terbuka. George tidak pernah tau ada Juan dalam kehidupan Yani. Dan Yani tidak pernah tahu ada Lisa dalam kehidupannya.


"MaYa! Tahukah kamu jika ini sulit bagiku melihatmu bahagia dengannya. Sadarkah kamu, akuĀ  rasanya ingin berteriak untuk mengatakan cintaku padamu." Jari telunjuk mengukir nama seseorang di kaca jendela.


"Tidak masalah dengan susahnya hidup yang kujalani. Aku bisa menjalaninya. Namun yang tidak bisa aku jalani lebih lama, kalian semakin menjauh dariku. Melihat dia meraih erat tangan kalian berdua, aku merasa sakit." Menghapus nama itu dengan sekali kibas.


"Hidup ini seperti berakhir ketika melihat sendiri kedua mata sayumu mengatakan mencintainya. Membuatku, tidak lagi berani bermimpi. Karena mimpi itu semuanya hanya tentang kalian berdua." Dengan bahu lemas memasukkan satu tangan kedalam saku. Tangan satunya memegang kaca jendela mendorong.


"Ini semua artinya, kita akan semakin menjauh. Aku harus segera sadar! Benarkan! MaYa! MaYaku! Adakah mendengar suaraku! Bantu aku mengakhiri rasa ini." Menunduk melihat lantai.


Lama dia berdiri didepan jendela. Sendirian.


Suara seseorang menekan bel membuatnya kembali kedalam alam sadar. Begitu membuka pintu, yang terlihat hanya topi pantai sangat lebar berwarna putih dengan pita dan bunga-bunga kecil. Kemudian topi bergaya floppy menunjukkan wajah didalamnya. Gadis itu mengenakan kacamata hitam bergaya butterfly.


"Aku tidak menerima tamu!" Menutup pintu.


Heel hitam menahan di sela-sela pintu. Alis George mengkerut melihat kebawah.


"Tuan George Walthure! Kita disini untuk menghadiri acara yang sama. Jika di Bali saja kita mengunakan kamar yang sama, kenapa saat ini tidak!" Mendorong pintu, dan berhasil menerobos masuk.


Heel hitam masuk, menekan karpet dalam. Berjalan dengan anggun seperti gayanya. Koper hitam dengan logo salah satu merk kenamaan, diseret masuk. Kepalanya mengamati isi didalam ruangan dengan teliti. Kemudian melepas topi pantai menaruhnya sembarangan. Rambut indahnya langsung tergerai.


Gayanya seperti pemilik kamar, dan dialah tamunya. George paham ini, Lisa memang tidak pernah sungkan padanya. Walaupun mereka bertengkar masalah ini, itu percuma. Gadis ini, akan memenangkan pertengkaran mereka. Kemudian meninggalkan gadis itu sendirian. Tidak lagi peduli. Dengan malas duduk disofa.


Lisa! Sedang sembunyi dari sorotan media! Itulah sebabnya, menutup wajah rapat-rapat. Menyelinap masuk layaknya pencuri. Jangan tanya darimana gadis ini dapat info jika dia menyewa kamar ini. Pastilah mereka, jika tidak ibunya, pasti Timy! Siapa lagi.


Jika diperhatikan Mereka berdua sebenarnya sama.


Pertama, Keduanya, Selalu sembunyi dari sorotan media!


Kedua, hati mereka diberikan pada orang yang tidak mencintai mereka.


Bisa dibilang ini penyakit apa? Untuk istilah, Senang mengejar cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Meski begitu, keduanya tidak pernah berselera menjalin hubungan dengan lawan jenis lainnya. Jadi, selama mereka berpisah, mereka tetap sendiri.


"George! Kita memiliki nasib yang sama. Jadi, kita nikmati ini bersama." Meninggalkan koper di ruang depan.


George duduk di sofa sudah tidak memperdulikannya sejak tadi. Merasa diabaikan, Kaki kecilnya berjalan mendekati pemilik suite room. Duduk ditubuh George dengan lincah seperti biasa.


"Malam ini hanya ada kita." Bicara dengan tatapan mengoda, jari tangannya lembut membelai rambut pendek.


"Jangan menggodaku. Aku bisa membuatmu tidak bisa berjalan besok!" Melepaskan tangan lembutnya yang melingkar dileher.


Tangan itu kembali ke posisi tadi. Kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. "Aku mandi dulu. Ingin menyusul!"


"Nakal!" Menurunkan tubuh diatas pangkuannya.


"Kamu bukannya suka yang nakal?." Kembali kepangkuan dengan Sangat lincah. Jarinya memijat dada bidangnya.


"Terlalu nakal tidak baik." Tangan besar menahan jemari yang bermain liar didadanya.


Meski begitu, harus diakui. Hawa panas dalam tubuhnya sudah melonjak. Dia merasakan perut bagian bawahnya, bereaksi dengan sangat baik. Gadis ini selalu berhasil dengan caranya.