
Kedua mata sayunya Membesar bulat, bulu mata bergetar halus, melihat ruang kosong didepan. Mengigil didalam.
Hawa panas memenuhi rongga mulut, mengalir dengan kekuatan sangat besar.
Bibirnya yang membengkak kini memiliki rasa aroma kayu manis, mereka harum dan semakin lezat. Tubuhnya dalam genggaman, mengigil kecil. Kedua mata membesar sangat jernih, melihat keruang depan. Kekhawatiran dan kegelisahan didalam kepala kecilnya, pasti sudah hilang, benarkan.!. Kemeja miliknya menjadi ketat dipinggang, karena diremas. Sentuhan tidak biasa, menyentuh wilayah dalam. Istrinya semakin kuat meremas.
"MaYa..." Mesra.
Merdu memanggil, diikuti hawa panas siap membakar, masuk sangat cepat ke gendang telinga.
"Ya.!." Bergetar sendiri.
Sekali gerakkan, membawanya terbang. Pindah dari ruang makan, kembali keruang santai. Sepanjang perjalanan, tautannya tidak ingin terlepas. Mereka hanya menikmati segelas teh hangat kayu manis. Tapi jalan seseorang, Sempoyongan mengendong, dan mendarat dengan manis, di sofa.
Kepalanya diletakkan dengan baik diatas bantal, rambut merah berantakan. Mendapatkan sentuhan lembut sangat intim, tidak berapa lama merosot kebawah. Menjadi seekor kucing dengan bulu-bulu halus banyak sekali, semakin lembut dan hangat. Bola mata hitam membesar melihat langit-langit. Sesekali dipejamkan, bulu mata hitam berjejer rapi dan indah. Remasan jari di kemejanya, semakin kuat. Sekuat apapun berusaha menghentikan gerakannya, tidak akan bisa. Sentuhan intim yang diberikan berhasil membuatnya gemetar terus.
"Sedang apa.?." Melihat kebawah.
Terkejut, dia yang sempat terbang, kembali kedaratan."T-tidak a-ada."
"Kenapa merosot terus." Mengangkat tubuhnya yang lembut, membuat kepala kecilnya kembali keatas bantal dengan benar.
Mata yang membesar sejak tadi, menyipit.
"Siapa yang membuatku merosot terus.?!." Menghentikan semua kegiatan yang meresahkan.
Tubuh besar diatasnya diangkat sendiri, kemudian duduk. Yani menyusul, merapikan pakaiannya sebentar. Kemudian melihat pria jangkung disebelah, kegiatan baru tadi masih menyisakan rasa bergetar. Mengigit bibir bawah dengan ringan, menekan rasa itu.
"Juan, aku ingin bicara.?" Ragu.
"Bicaralah." Menunggu.
Bibir bawahnya yang bengkak, di tekan lagi dengan gigi atas hingga memutih. Kemudian melihat suaminya lagi, disebelah.
"Berjanjilah, tidak marah.?."
"Soal apa.?."
"Berjanji dulu.?." Menunggu.
"Baiklah, aku tidak jadi bicara." Meninggalkan sofa.
Lengannya ditarik dan seketika kembali duduk disofa. Sangat mudah, membuatnya kembali kedalam pelukkan. Dia begitu kecil, rentan dan lemah. Tidak perlu kekuatan besar menghadapinya, justru tenaganya tidak bisa terkendali sendiri.
"Tentang apa.?." Tegas.
Nada tegas, kedua matanya dingin. Juan yang seperti ini, mengalahkan badai salju. Belum mengutarakan apapun, tapi hawa dingin sudah mengalir dari belakang leher, turun hingga ke ujung kaki.
"George.!." Hampir tidak terdengar, posisi keduanya sangat dekat. Jadi, benar-benar terdengar dengan baik.
Juan."..."
Begitu menyebut nama itu, Penampakan pria ini menakutkan. Tingkat kedinginan mencapai puncak. Juan, memiliki kelebihan tingkat keegoisan diluar rata-rata.
Takut.!. Tentu saja. Membahas seorang pria dengannya bukanlah sebuah ide baik. Dia sanggup mengulitinya.
"Teruskan." Kedua mata dingin menatap lurus pada istrinya.
Teruskan.?!. Hanya itu, jawaban ini mengkhawatirkan.
"Album George tidak jadi dikeluarkan. Apakah.....?." Berhenti, sambil meneliti kedua mata sepekat tinta.
Lalu Menarik nafas ringan dan melanjutkan ".... Ada hubungannya denganmu.?."
Juan melihat kedepan, berpikir sesaat lalu, tertawa.
"Aku.!. Untuk apa.?. Pihak label mungkin sudah memprediksi, hasilnya." Bicara jujur.
"Baguslah. Apapun yang terjadi, aku berharap kamu tidak menganggu, George."
Mata menyipit tajam. Dua garis dikeningnya seperti bisa menjepit sebatang tusuk gigi.
"Berani sekali.!." Lurus tajam menyorot mata.
Perut menciut, lalu nada suaranya berganti menjadi lemah lembut.
"Juan.!. George adalah Satu orang yang tidak bisa kamu lukai didunia ini. Jika kamu masih menganggap aku ini istrimu, dan Thony adalah putramu, jangan lakukan itu. Atau.!. Kami berdua pasti membencimu." Duduk menyamping, menatap wajah suaminya dari sisi samping.