A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
183. Katakan sebanyak 99x



Membuang wajah jauh-jauh.


Wanita ngambek! Wajah jadi jelek! Seharian akan jelek! Semua yang dilakukan akan tetap salah dimata wanita ngambek. Juan bangkit dari tempat tidur. Menyusul kesofa. Tidak mengharapkan perang dingin, hanya ingin bermesraan. Dan itu sulit terwujud jika bersama wanita ngambek.


"Besok adalah hari besar? Aku tidak mau ambil resiko." Sampai di sofa langsung Melingkari lengan di bahu istrinya.


"Mengertikan." Berbisik mesra, mewakili permintaan maaf.


Mendaratkan kecupan lembut di pipi. Tubuhnya sangat lembut dan hangat. Lalu melihat kedalam wajah gelap istrinya


"Berikan aku wajah baik."


"Tidak bisa." Jujur.


Wajah Juan jadi tidak enak dipandang. Menekan kuat tubuh istrinya yang lembut, hingga mereka  mendarat di sofa.


"Berusahalah." Memaksa.


Mengecup lembut kening, pelipis, dan menyatukan ujung kedua hidung mereka. Memperhatikan wajahnya lagi.


"Aku bukan boneka atau robot! Bisa disetel-setel sesukanya!" Nada serak.


Mendengar ini, rahang seseorang mengetat.


"Semakin berani!"


"Tuan Juan Carlos! Mulai hari ini harus baik padaku, hingga puluhan tahun kedepan." Serius.


Istrinya memanggil namanya kumplit. Artinya dia marah besar.


"Aku selalu baik padamu?"


"Benarkah?"


"Vidio call saja mereka! Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan ruangan ini." Akhirnya Mengalah, Menarik tubuh istrinya kembali duduk.


"Lupakan saja. Wajah baikkan. Aku bisa lakukan." Menarik bibir tebal menjadi tipis, tersenyum hingga kedua mata sayu menyipit.


"Hentikan itu! Suruh mereka semua kesini!" Benar-benar mengalah, melipat malas kedua kaki panjang.


Mendengar suaminya mengubah keputusan, wajah Yani berubah menjadi bersinar. Segera Meletakkan lengan di leher Juan, bergelayut manja.


"Suamiku baik sekali!" Mesra dan manja.


Istrinya seketika menjadi rubah betina, bicara sangat manis, dan langsung tembus ke jantungnya. Jujur, itu membuatnya Sangat senang.


"Ulangi lagi!" Tersenyum dan mengangkat tubuh lembutnya agar sedikit lebih tinggi.


"Suamiku baik sekali!" Dengan murah hati mengulang.


"Katakan sebanyak 99x." Terkekeh senang.


"99x! Yang benar saja."


"Berusahalah?" Memainkan ujung hidung di telinga.


"Benar!" Menekan, menghapus jarak.


"Suamiku baik!" Memperhatikan wajah suaminya.


"Teruskan!" Semakin senang, menikmati permainan ini.


Kedua bola mata sayu berputar dan berpikir.


"S u a m i k u baik sekali." Lebih lembut, lebih manja dan mesra.


Juan merasakan udara panas masuk, dari gendang telinga, menerobos ke jantung. Suara istrinya begitu merdu. Membuat Dada berdebar kencang, dalam melihat istrinya.


"Suamiku baik 93x! Sudah!" Selesai.


"Curang!" Menyipit tajam.


Terdengar suara bel, Juan memeriksa. Sementara Yani segera menelpon Jesicca, gadis itu langsung mengangkat, suaranya sangat ceria, latar belakang sangat ramai. Membuat Yani cemburu. Sahabatnya, sedang bersenang-senang.


"Jes!"


"Ya!"


"Kalian semua segera kekamarku." Tegas.


"Tapi!?."


"Kalian bersenang-senang, tidak mengajakku. Jahat sekali!" Gemetar, kesal bercampur sedih.


"Bos! Kesini saja." Bimbim berteriak.


Kening Yani mengkerut. Laki-laki jadi-jadian ini semakin hebat membuatnya cemburu. Mereka bersenang-senang dan melupakan dirinya.


"Tidak bisa! Kalian yang kesini!" Marah dan sedih.


"Bos! Nada suaramu galak sekali! Itu tidak cocok untukmu." Bimbim menimpali.


"Bos kami sudah di ruanganmu." Lestari berteriak, menghentikan mereka meledek.


Tidak lama Juan masuk, di belakangnya mengekor semua orang yang ada di telfone. Begitu melihat semuanya dia melempar Android ke sofa.


"Kalian jahat sekali! Seharusnya langsung mengunjungiku saat Sampai di Jakarta. Kalian semua bersenang-senang, tidak mengajakku. Lama baru menemuiku." Mengeluarkan kekesalan.


Jesica, Bimbim, Lestari, bahkan Putu jadi binggung menyaksikan Bos mereka. Dia merajuk seperti anak lima tahun karena ditinggalkan. Yani yang begini seperti bukan Bos mereka. Wajahnya sebagai Bos sudah hilang tertelan perut.


"Kami juga merindukanmu, Bos." Bimbim hampir memeluk Yani.


Bodyguard jangkung dibelakang Yani melihat Bimbim dengan sinis, tajam, dingin. Otomatis, Bimbim menghentikan niatnya.


Meski Bimbim! Tapi, di mata Juan, dia tetap seorang pria.


Bimbim berhenti ditempat, hanya memberikan pipi di kedua pipi Bosnya. Yani menangis larut dalam suasana.


Lestari memeluk Yani, disusul Jesica, dan Putu. Pria jangkung masih berdiri dibelakang, membuat niat Bimbim memeluk mereka berempat, dibatalkan. Sejak di Bali, Bimbim langsung menyukai Juan, karena bokongnya, tapi semua itu sirna ketika melihat kekejaman matanya.