A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
172. Demitri Carlos



Jam sebelas malam, mereka selesai berbincang bincang. Mereka hanya minum segelas, sisanya hanya cemilan ringan. Saat masuk kekamar, Yani sudah tidur pulas.


Ayahnya ingin mereka menjalin, kedekatan dengan George Walthure. Jika pria itu memiliki tempat spesial di hati istri dan putranya. Menurut Ayahnya, mereka harus menjalin hubungan baik.


Kemudian mengambil dasi dari dalam laci, berjalan sedikit mendekati sang istri.


"Aku menunggumu membantuku mengenakan kemeja. Tapi seseorang hanya melihat dikejauhan." Menyerahkan dasi itu kepada sang istri.


Istrinya tersipu malu, terakhir kali dia membantu suaminya mengenakan kemeja. Tangan suaminya yang aktif menjadi sangat kreatif. Memalukan.


Yani membantu, kemudian pemilik dasi membungkuk didepannya. Seutas dasi, mulai diikat rapi. Posisi seperti ini, saling melihat sangat dekat. Lalu tangan besar mulai kreatif. Membuat ujung jari istrinya gemetar, lalu gemetar lagi, lebih kuat, hingga membuatnya berhenti bekerja.


Tersenyum nakal. "Lanjutkan."


Kemudian melanjutkan. Dasi selesai dipasangkan. Juan mengangkat dagunya dan mendaratkan bibir tipisnya yang sejuk, tenaganya sangat kuat hingga membuatnya tertekan ketembok. Beberapa menit, dan berhasil membuat bibir tebalnya bengkak.


"Kami tidak akan melukai George." Memainkan ujung hidungnya di pipi yang kini memerah.


"Iya." Serak bergetar.


Bibir tipis itu kembali mendarat, tidak sesejuk tadi, tapi sudah selembut permen kapas, manis. Telapak tangan besarnya satu berada dibelakang leher mengangkat sedikit tinggi. Yang satunya menjadi aktif dan kreatif, membuat tubuhnya kini bereaksi mengigil. Sentuhan kasar dikulit bagian dalam. Remasan dibawah ketiak, membuat kedua matanya membesar bulat, bergetar hebat.


Juan menghentikan sendiri kegiatan aktifnya. Hari ini jadwalnya berbeda dari hari kemarin. Dia Harus fit, harus terlihat segar dan bugar. Wajahnya akan menjadi sorotan kamera nanti.


"Teruskan nanti." Senyum nakal.


Istrinya menunduk malu, dan memeluk tubuh istrinya yang lembut, harum dan hangat.


*


Jam 10.00


The C Plaza lt 10


Thamrin


Kegiatan di perusahaan Carlos terlihat berbeda dari biasa. Dua ruang dijadikan satu. Didepan tertulis nama besar perusahaan. Lalu lima buah kursi empuk kualitas busa terbaik berjejer rapi didepan meja panjang. Diatas meja, sudah tertata rapi beberapa microphone dengan logo masing-masing perusahaan berita.


Didepan meja, beberapa meternya, berjejer rapi kursi-kursi. Semua kursi-kursi itu, sudah diisi penuh oleh beberapa orang yang mengenakan tanda pengenal perusahaan berita, yang mereka wakili. Puluhan Kamera siap menyorot, mengambil semua sisi, seluruh ruangan ini penuh dengan perlengkapan berita.


Acara ini memang mendadak diadakan, dan baru diberitakan pagi jam 8 tepat. Otomatis semua dibuat kerepotan, persiapan singkat dan mendadak, tapi ingin hasil maksimal. Acara ini sangat penting, karena sedang menjadi perhatian semua orang.


Meski waktu yang diberikan sangat singkat, namun dalam waktu kurang dari dua jam, semua yang diundang hadir. Mereka Sudah mengisi posisi yang sudah diatur. Ada Emelly Clark, ditengah-tengah kerumunan, membawa nama WW Magazine.


Acara ini dijaga dengan sangat ketat. Semua tamu dari datang, satu persatu diperiksa, dan seluruh ruangan dipenuhi penjaga. Ruangan ini sudah sangat berisik dan ramai dengan suara-suara para undangan.


Lalu, Seketika, terdiam serentak. Dua orang berseragam, berbadan besar membukakan pintu. Tidak lama dari sana keluar, seorang pria tampan berkedudukan tinggi yang mereka sudah sangat kenal. Dia adalah Putra satu-satunya dari Roberto Carlos, yaitu Demitri Carlos.


Demitri masuk kedalam ruangan, berjalan mantap sangat gagah, tegap,  dengan pembawaan kepemimpinan. Beliau tersenyum ramah dan sopan, ciri khasnya. Beliau mengenakan setelan berwarna biru gelap. Kulitnya yang putih, semakin menonjol.


Dibelakangnya, menyusul Putra satu-satunya, sedang dikejar para pemburu berita. Semua berita tentangnya menjadi menarik belakangan. Matanya tajam sangat dingin, lebih tinggi dari sang Ayah, lebih tampan, sangat acuh tak acuh.


Tidak lama menyusul Dayland Mighty, lalu Raymond Bigger. Kedua orang ini adalah sahabat baik pemilik gedung. Dan terakhir, kedatangannya berhasil membuat semua orang seketika terperanjat. Waktu seakan terhenti disana.


Dia berbadan besar, mengenakan setelan persis sama seperti ketiga pria muda lainnya, berwarna hitam. Selalu  mempesona didepan kamera. Senyumnya segera menceriakan suasana didalam.


Dia adalah George Walthure.