A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
178. Juan, kamu harum sekali



Mata sepekat tinta dengan alis yang indah melihat sekilas, jarinya yang panjang melucuti sendiri. Dadanya yang bidang, perutnya berliuk, semua terlihat dan berotot. Yani mengigit bibir bawah hingga memutih, entah bagaimana menggambarkannya, saat melepas kemeja, kulit sawo matangnya sangat harum.


"Juan, kamu harum sekali." Mendekatkan wajah.


Pria dihadapannya menarik alisnya yang indah. Tidak suka dikatakan harum, istrinya sangat suka mengatakan itu, itu terdengar sangat aneh. Jika dia habis mandi, istrinya mengatakan itu, dia bisa mengerti.


"Apa kamu sedang flue!" Menarik hidungnya dengan lembut.


Yani mengeleng lemah. Pria didepannya sudah polos. Kedua kakinya kekar, dalam seketika mereka berdua menjadi basah.


*


Juan saat ini sangat berbeda. Dia sangat hati-hati saat melakukannya. Dan tidak rakus, hanya sebentar. Keduanya masih didalam kamar mandi, sama-sama mengenakan piyama putih. Tangan Juan memegang hair dryer, membantu mengeringkan rambut istrinya.


"Juan." Kedua kaki melebar diwastafel.


"Ehm."


"Aku ingin bicara?"


"Bicaralah" Melanjutkan dengan helaian rambut merah.


"Ini tentang Martha?"


Juan berhenti dengan kegiatannya. Lalu mencabut stop kontak hair dryer.


"Kenapa dengannya?" Mengambil  sisir besar dari tangan Yani.


Pria ini sangat kasar membantu, tapi dia bersikeras membantu. Otomatis kepalanya saat disisir malah sakit.


"Apa yang kamu lakukan padanya?" Dengan bebas memperhatikan suaminya.


"Tidak ada!" Tenang.


"Dia yang melakukan komentar pedas mengarah padaku, benarkan?"


"Benar, aku hanya menyuruhnya merapikan kembali semua komentarnya."


Merapikan kembali?


"Caranya?"


"Tidak tahu, dia yang berbuat, maka dia yang bertanggung jawab. Aku tidak tahu caranya."


Hingga seseorang mengetuk dari luar. Keduanya saling melihat.


"Mamah! Semua orang menunggu dibawah untuk makan malam." Suara Thony.


"Okey, mamah akan turun."


"Mana Ayah?"


Yani segera menutup mulut suaminya, sebelum dia menjawab.


"Ayah! Mungkin diruang perpustakaan."


"Jika anak itu tahu Ayah dan Mamahnya didalam sini berdua, mengenakan handuk saja. Dia bisa mengatakan hal memalukan nanti."


"Orang tuanya mesra."


"Hah! Dia anak lima tahun. Apa kamu tahu itu, belum bisa menerima yang seperti ini." Turun dari wastafel.


Terakhir kali Juan dan Thony mandi bersama, bocah itu menanyakan hal yang tidak masuk akal. Jika dia melihat Ayah dan Mamahnya mandi bersama? Entah apa pertanyaannya nanti. Yani segera keluar kamar dan turun kebawah.


Sampai dibawah, semua orang sudah berkumpul. Juan tidak lama menyusul dibelakang.


"Ayah! Aku mencari-cari mu."


"Ayah tahu, Ayah mendengarnya." Duduk disebelah putranya.


Juan terampil melayani putranya makan. Selesai makan Retha dan Cristian membahas persiapan resepsi lusa. Walau mereka mengunakan jasa untuk melakukan itu, tapi Cristian seorang yang perfeksionis. Karena ini adalah pernikahan putra satu-satunya, beliau lebih antusias dibanding yang lain. Semuanya harus sempurna.


*


H-1


The Plaza Hotel.


Jakarta Pusat


Bimbim dan Lestari tiba di Jakarta dengan penerbangan pertama. Mereka ditemani Jesicca langsung menginap di hotel, dimana acara  akan berlangsung.


"Bos, kamu ngak kesini." Panggilan di Laudspeaker.


"Ngak bisa, aku dipingit."


"Haa haa, pake dipingit, kaya anak perawan aja."


"Aish mulut si gendut satu ini. Kaga ada sopannya." Jesicca berteriak.


"Bos! Sudah denger kabar belum?" Suara lembut Lestari


"Belum."


"Martha menghilang sudah dua hari, hari ini hari ke tiga."


"Tiga hari!" Bibir tebalnya mengulang.


"Ehm! Butiknya tutup. Ada beberapa orang menjaga disana."


"Penjaga?" Mengulang Lestari lagi.


"Ahaa! Semua yang ada disana pria berseragam."


"Aku rasa dia ketahuan karyanya di Bali Festival itu adalah palsu. Fake!" Kedua mata Bimbim membesar.


Bertepatan Yani menutup telpon. Juan masuk kedalam kamar. Kedua mata sayu menyipit. Kelakuan ini. Mirip sekali dengan suaminya Menahan orang tiga hari!