A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
175. seseorang menyukaiku lalu membencimu



Semua desas desus antara keduanya otomatis, patah sendiri.


*


Siang ini, sahabatnya Jesicca dijemput Pak Suryo. Penampakan gadis tomboi ini dililit perban pada lengan kanan.


"Maafkan aku." Merasa bersalah.


Jesicca menarik bibir atas, sejak tadi sahabatnya meminta maaf terus. Membuatnya kehilangan wajah didepan Cristian.


"Ini bukan salahmu." Memeluk bantal sofa.


"Untunglah tidak parah. Apa ini Jesicca?" Cristian melihat bungkusan diatas meja tamu.


"Ice cream Tante." Mengeluarkan isinya.


Mata Yani berbinar indah, menjilat bibir.


"MaYa, kamu suka?" Cristian melihat menantunya.


Yani mengangguk malu.


"Itu pesanannya Tante."


"Baiklah, Tante tinggal kalian dulu." Cristian meninggalkan keduanya di ruang tamu.


Yani mengajak Jesicca masuk kekamar pribadinya dilantai atas. Tidak lupa membawa plastik bawaan Jesicca.


"Juan akan pulang makan siang?"


Yani menggeleng, dia lebih dulu sampai di tempat tidur. Langsung mengacak-acak bawaan Jesicca. Rasa coklat dipilih, seperti anak lima tahun, sangat cepat mengupas bungkus dan langsung memakannya tanpa malu.


Tidak lama, Ibu Rum masuk kekamar dengan membawakan minuman.


"Terima kasih ibu Rum. Apa ibu suka ice cream." Yani menyodorkan satu stick pada beliau.


"Tidak, terimakasih. Apakah itu enak?"


"Sangat enak sekali." Yani memberikan rasa yang lain.


Beliau tetap menolak.


"Apa kamu tidak pernah diberikan makanan seperti ini." Jesicca penasaran.


Yani menggeleng."Tiba-tiba hari ini, aku sangat menginginkan ini. Dikulkas bawah ada, tapi bukan stick."


Setengah potong langsung habis. Jesicca dan Ibu Rum saling melihat diudara. Yani makan sangat rakus, seperti tidak pernah ketemu ice cream.


"Apa mungkin!?" Beliau bertanya sendiri, tidak melanjutkan, lalu pergi keluar kamar.


Yani menghapus noda lelehan ice cream dibibir tebalnya.


"Hari ini mereka ada konfrensi pers."


"Aku sudah menonton itu. George! Dia hadir disana." Mata Jesicca membesar.


"Aku juga tidak menyangka."


Android Jesicca menyala. Gadis itu kesulitan mengangkat panggilan.


"Biar aku bantu. Ini! Dari George." Setelah melihat nama dilayar android milik Jesicca.


"Apa android milik mu mati!"


Yani mengangguk. Dia mengambil satu potong ice cream lagi, sisa satu stick, diberikan pada Jesicca.


Suara khas George terdengar menyapa.


"Jes, apa Yani didekatmu!"


Arnold adalah kekasih Jesica, sahabat George. Informasi dirinya mengunjungi Yani, dipastikan kekasihnya yang membocorkan.


"Benar!"


"Aku ingin bicara dengannya."


"Bicaralah!" Jesica menekan laudspeaker. Kemudian mengambil satu batang ice cream yang tersisa di kantong plastik dan memakannya.


"MaYa!"


"Iya." Membersihkan mulut.


"CK CK CK! Kenapa telpon dimatikan! Menyebalkan!"


Hening, yg diseberang terdiam beberapa menit. Dua gadis ini tersenyum menikmati ice cream. Karena ruang hening sangat lama, Jari telunjuk Jesicca yang panjang hampir menekan warna merah.


"MaYa! Maafkan!" Nadanya berbeda dengan yang sebelumnya, terdengar sangat sedih.


"Masalah apa? Aku justru berterimakasih, kamu hari ini bangun lebih pagi dan hadir di acara konferensi pers."


Yang dibahas malah bangun pagi!. Wajah George diseberang menjadi jelek.


"Chii! Apa Juan tidak mengatakan sesuatu padamu?"


"Tentang?"


Suara seseorang menarik nafas dengan sangat berat, lagi. Bisa ditebak, sesuatu mengganjal dada pria ini. Yani melihat Jesicca yang sedang ikut mendengar pembicaraan mereka.


"Ini semua perbuatan Dara, dia menyuruh Martha, menjelek-jelekanmu di semua media."


Juan tidak mengatakan apapun tentang ini.


"Dara pasti terlalu sakit hati." Mengingatkan George.


"Karena apa? Kenapa melimpahkannya padamu? Seharusnya limpahkan padaku."


"Hah! Tanyakan itu pada Dara-mu! Jangan tanyakan padaku!" Membersihkan stick dengan lidah.


"Menjijikan." Jesicca bicara tanpa suara. Sahabatnya malah tertawa. Lalu melakukan menjilat-jilat lagi, menggoda Jesicca.


"MaYa! Apa kamu marah padaku! Aku sudah minya maaf, bukan? Memang salahku jika seseorang menyukaiku lalu membencimu!" Merengek manja.


"Ya! Kamu tidak salah. Salahkan saja kursi, kamu boleh tendang sekencang-kencangnya."


"MAYA! Jangan membenciku."


"Aku tidak!" Membalas dengan cepat.


"Semakin pandai berbohong, seseorang sangat licik, sudah mengajarimu tentang itu."


Seseorang sangat licik!


Jesicca sepontan tertawa.


"HAI!! Kalian anak perempuan!." George marah.


"Suaramu sangat besar, aku dari jauh saja kedengaran." Jesicca membela diri.