A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
176. MaYa, aku ingin adik



"Suaramu sangat besar, aku dari jauh saja kedengaran." Jesicca membela diri.


"Thony?"


Terakhir bertemu, mereka hanya saling melihat diudara. Tidak berani menghampirinya. Bahkan bocah lima tahun, bisa membaca sifat asli ayahnya.


"Sedang dijemput Pak Suryo, sebentar lagi tiba."


"Begitu licik, sampai memegang Thonypun, aku tidak diizinkan. Aku sangat marah."


"Siapa yang seharusnya marah? Butikku sudah dirampok, lalu sekarang kacanya dipecahkan. Lalu nama baikku diolok-olok, semua gara-gara kisah cintamu."


"MaYa! Aku sudah minta maaf. Aku akan ganti rugi."


"Ya! Aku akan menagih semua kerugianku, bahkan sampai luka ditangan Jesicca juga, sampai ice cream yang dia bawa ini, aku akan menagihnya padamu."


"CK CK CK! Seharusnya berikan aku satu ice cream."


"Sudah Habis!" Yani dan Jesicca serentak.


George langsung mematikan panggilan. Yani dan Jesica saling melihat.


"Dia pria kekanak-kanakan yang pernah aku temui." Jesicca merapikan sisa makanan mereka.


Yani mengangkat kepala.


"Hah! Lalu siapa yang mengidolakannya kemarin itu?"


Jesicca memutar bola mata kelangit-langit. Seolah itu bukanlah dia.


*


Sore hari Jesicca diantar pak Surya kerumahnya. Yani kekamar putranya, melihat putranya sudah tampan sore ini. Cristian membantu cucunya, dengan menyisir rambut pendek.


"Thony, apakah ingin punya adik?"


Kepala besarnya langsung dianggukan beberapa kali, lalu melihat mamahnya didekat pintu.


"MaYa, aku ingin adik. Teman-temanku disekolah, rata-rata mereka memiliki adik."


Yani menghampiri keduanya. Tidak berani membalas Cristian.


"MaYa, kita ambil adik di rumah sakit. Aku ingin laki-laki."


Cristian tertawa mendengarnya.


"Perempuan saja." Yani mengoda.


"Tidak! Laki-laki, aku ingin dia menemaniku bermain."


"Hah! Punya adik hanya ingin buat menemani bermain."


Cristian melihat perut Yani yang masih rata.


"Mamah mandi dulu." Yani mendaratkan kecupan diatas kepala putranya.


"MaYa, apa perlu kita melakukan pengecekkan." Cristian berhenti menata rambut Thony.


"Baiklah, mamah. Aku akan tanyakan waktu Juan, kapan dia bisa menemani." Kemudian meninggalkan kamar Thony, masuk kedalam kamar Juan.


*


Didalam kamar mandi, dia mengulung semua rambutnya keatas. Menggosok gigi, membelai perutnya yang masih rata. Setelah selesai mengelus perut, lalu menyuci wajah. Kemudian kaki kecilnya diangkat dan langsung tengelam didalam bak mandi.


Seluruh tubuhnya sudah tengelam didalam air hangat. Kepalanya disandarkan dibak mandi. Melihat langit-langit, dan memejamkan kedua mata. Jika diingat-ingat, mereka sudah sering melakukannya. Ini bulan ketiga sejak mereka bersama. Mereka melakukannya sudah banyak sekali, Juan sangat rakus. Dia sendiri tidak yakin, akan bisa hamil.


Kedua mata sayu membuka perlahan, merasakan ada bayangan hitam gelap berada diatas kedua matanya. Bayangan itu mendekat, benda kenyal sangat lembut, ada rasa nikotin mendarat diatas bibirnya.


"Sedang memikirkan apa? Sampai tidak sadar ada orang masuk."


Keempat mata mereka bertemu.


"Aku sudah mengunci pintu? Bagaimana ada orang bisa masuk." Tetap menengadah.


"Ini kamarku, tentu saja aku bisa masuk."


Dua Tangan besar memegang dua sisi kepala dan mengangkat mereka sedikit lebih tinggi. Tepi bak mandi mengesek kepala. Pria itu ******* bibirnya. Sangat lama, kuat dan intim.


Sangat sulit dilakukan. Dia yang tinggi, memegang wajahnya terbalik, membungkuk. Sementara dia diatas bak mandi dengan kepala menengadah. Tangan besar pindah dari sisi pipi, menelusuri leher, semakin turun menyentuh berjalan.


Kedua mata sayu membesar, wilayah sensitifnya disentuh. Pria ini menjadi sangat agresif. Leluasa melakukannya didalam genangan air.


"Juan, kepalaku sakit." Melihat kedua mata sepekat tinta.


"Maaf."


Merapikan kepala. Juan berdiri tegak, memperhatikan bayangan polos, begitu menggoda didalam air. Dia lalu duduk disisi belakang. Lengannya yang besar, panjang, Melingkari bahu. Tangan Kemejanya yang digulung kini basah.


"Aku bantu." Berbisik dibelakang telinga.


Kulit bahunya kini merasakan Spons lembut penuh dengan busa. Bibirnya yang tipis kembali menekan di leher belakang.


"Juan."


"Ehm." Enggan menghentikan kegiatan.


"Apa kita harus kedokter? Program untuk punya anak lagi."


Seseorang Tiba-tiba Mendesis halus. Tangan besar semakin agresif  membersihkan. Menekan dan meremas. Membuatnya gemetar didalam