
"Jangan menghilang lagi. MaYa, Aku rasa, aku bisa mati jika harus mengulang kejadian enam tahun lalu." Mengambil bibirnya yang tebal dengan lembut.
"Tidak akan. Aku tidak akan menghilang lagi." Membalas.
Ciumannya kali ini jadi sangat dalam, namun menyejukkan. Satu tangan lain menyentuh pipi. Membungkuk sedemikian rupa. Kedua mata sama-sama menutup rapat, merasakan getaran hingga masuk ke dalam tubuh.
Seluruh rongga mulut sudah penuh dengan hawa panas, sangat lama baru sama-sama mau melepaskan. Keduanya memandang dengan dalam.
"Juan, terima kasih." Mata sayu bersinar dengan jernih.
"Untuk apa?"
Banyak hal, untuk pria seperti Juan. Selama enam tahun ini, dia bisa saja memiliki banyak wanita. Enam tahun, waktu sangat lama, dia pasti kesepian. Tapi semua perkataan itu hanya bisa di telan bulat-bulat ke dalam perut.
"Mencari-cari ku selama enam tahun. Tetap Setia menunggu. Juan, Memilikimu, hidupku sunguh indah." Tangan menyentuh kedua sisi pipi.
Kemudian berinisiatif lagi menyentuh bibirnya yang tipis. Menjadi sangat manja, mencumbui bibirnya yang tipis. Tiada henti.
Lengan besar melingkar kekar di bahu, satunya mengikat pinggang dengan erat. Mendapatkan cumbuan mesra sang istri, membuatnya sangat senang. Saling melihat kemudian kembali tengelam dalam ciuman penuh kasih sayang.
Nafas keduanya kejar-kejaran saat meninggalkan bibir. Juan merapikan rambut merah di pipinya. Senyumnya sangat lebar dengan dua bola mata jernih mengatakan.
"Setan kecil yang sudah sangat kurang ajar. Berubah menjadi seekor rubah bermulut manis. Aku suka!" Ciuman dangkal mendarat di pipinya yang merah.
Belum sempat menjawab. Dia menutup semua mulutnya. Mereka begitu lembut menyentuh, sangat manis memabukkan.
Bibir tebalnya, mereka sangat kenyal, lembut, dan begitu manis. Sudah membuatnya mabuk. Semakin lama, keduanya jadi semakin intim. Membuat tubuh dibawah bergetar.
Sentuhan lembut merajalela. Membuat kucing manis dibawah semakin gelisah tidak menentu. Gerakan Sangat cepat melucuti. Membuat kulit luar seketika beradaptasi mengigil.
Tidak memerlukan waktu lama, terdengar berbagai macam suara yang membuat orang merasa malu mendengar.
*
Baru bangun setelah mendengar panggilan di Andaroid. Panggilan itu berkali-kali tidak mau berhenti. Setelah malam panas mereka lalui hingga subuh. Keduanya melewati jam rutinitas.
Mereka akan menikah, tapi jam segini masih belum bangun. Pipi Yani memerah mendengar percakapan itu. Dengan cepat menggosok gigi dan mandi.
Juan membukakan pintu, beberapa orang langsung masuk kedalam secara serentak. Mereka membawa banyak keperluan. Juan mengatur mereka yang membawa beberapa perlengkapan. Setelahnya, meninggalkan mereka.
Kemudian Menghampiri istrinya di dalam kamar mandi. Istrinya didepan cermin wastafel mengeluarkan semua jari seperti menghitung. Handuk kecil melilit semua rambutnya yang basah keatas.
"Ada apa?." Mendarat dangkal dileher belakang yang telanjang.
"Aku telat!"
"Kita telat!" Membuka semua pakaian dan masuk kedalam kotak shower.
"Aku telat datang bulan." Melihat suaminya.
Suara shower terhenti. Juan jadi serius. "Apa kamu yakin."
Yani mengangguk.
"Baiklah. Selesai acara ini, kita periksa."
*
Di ruang depan, seorang wanita cantik mengenakan kemeja lengan panjang menghampiri, Yani diberikan tempat dimana dia harus duduk. Wanita itu memimpin para pekerja penata rias dan penata rambut untuk mulai bekerja. Para penata tanpa menunggu lama, mulai bekerja.
Semua penata rias terlihat sangat ahli, bekerja sangat hati-hati dan seksama. Membuatnya berdandan dengan sangat indah seperti sekuntum bunga yang mekar. Ketika selesai berdandan. Sekelompok penata rias mulai membantu mengenakan gaun pengantin.
Dia yang tahu tentang fashion, dibuat terkejut dengan gaun pengantinnya sendiri. Bagaimana tidak, dia sudah melakukan fitting gaun beberapa Minggu yang lalu. Potongan Lehernya bergaya Sabrina. Ini adalah gaun yang sama.
Namun penampakan gaunnya lebih indah dari yang kemarin. Ada banyak manik-manik, Payet dan mutiara bertebaran. Semua itu dipasangkan dan ditanam di gaunnya secara manual, sangat rapi. Rok bagian bawahnya mekar seperti gaun putri. Gaun bawahnya menutup rapat hingga bagian punggung kaki.
Sepatu yang akan dia kenakan model datar, tidak ada hak sama sekali. Cristian sengaja menganti sepatunya didetik terakhir, kata pemimpin penata. Yani senang, setidaknya dia bisa leluasa melangkah sepanjang acara. Ujung sepatunya bertaburan mutiara yang sama seperti pada gaunnya.