A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
157. tidak memerlukanmu untuk melindungi



Hanya permainan kecil didepan bibirnya.


Sungguh.!.


Ini sangat-sangat memalukan sekali.


Bibir tipis seseorang melebar sepersekian detik. Ketika Berbalik dan duduk di kursinya, senyum itu sudah menghilang.


*


W Hotel


M.H. Thamrin


Restaurant Jepang dengan menu Sushi terbaik, adalah Favorit seseorang. Selain menu terbaik, Restaurant ini juga memiliki private room. Membuat seorang bintang terkenal merasa nyaman. Seorang pria berbadan besar, mengenakan jaket tebal, jins gombrong, sepatu kets besar, masuk. Melepaskan kaca mata hitam, Private room ini sudah di booking oleh asistennya. George tiba, langsung duduk dengan tenang.


Duduk berhadapan dengan sang koki. Satu persatu menu di hidangkan. Mengunakan sumpit, menjepit satu potong sushi, dan memasukkannya segera kedalam mulut. Segelas minuman sedikit beralkohol, menemani. Asik makan sendiri. Sambil mengunyah, dia melihat kesamping. Bayangan gadis berambut merah hadir menemani, dia teringat terakhir kali datang kesini, bersamanya.


Tiba-tiba kedua mata Yani membesar, membuat George terkejut.


"Kenapa? Ada apa." Dua mata itu menunjukkan kecemasan.


"Makanan ini lumer di mulutku. Enak sekali."


George dan temannya seketika terkejut dan langsung tertawa. Mereka kira, kaki Yani terjepit.


"Kalau begitu, makan yang banyak."


Pipi Yani memerah. Karena merasa tidak tahu malu saat ini.


"Chef... Great Job." George tersenyum puas, mengangkat gelas kecilnya ke arah chef dan asistennya dan kearah sahabatnya, lalu menghabiskan isinya seketika.


Pria bertubuh besar itu tersenyum dalam, dan menenggak habis minuman. Meletakkannya sedikit keras ke meja. Dua minggu, dia menghitung. Tidak bertemu dengan pemilik mata sayu. Betapa merindu. Nafas dihembuskan dengan berat, seberat pikirannya kini.


Jujur saja, tidak masalah jika gadis itu bersama orang lain. Tidak masalah jika tidak bisa memilikkinya. Yang masalah adalah jarak yang diberikan gadis ini, menyobek dada.


Sudah kehilangan Thony, berbulan-bulan lamanya, tidak mendengar suara kecil itu. Dia lebih rindu anak itu. Juan, sudah memasang benteng tinggi yang sangat dingin. Pria licik itu, mengambil semua yang disayanginya. Gelas kedua, dihabiskan dengan cepat. Kepalanya kini, menunduk seperti pohon layu. Lesu melihat lantai.


Seorang gadis, masuk. Tanpa melihat, dari harum parfum langsung mengenali. Dia membuka jaket, rambut hitam panjang dikibaskan. Kemudian jaket di letakkan di bahu kursi, tas di letakkan di kursi kosong disebelah. Gadis ini cantik, dulu sekali dia tergila-gila dengannya. Masa muda dihabiskan bersamanya. Gadis ini menyerahkan tubuh dan raganya, tapi tidak hati. Dia, gadis pertama yang berhasil menyobekkan dadanya. Hati gadis ini sama, sudah diberikan pada pria licik itu.


Lisa melihat George sudah menikmati makan siang, ditemani minuman beralkohol. Makan siang masih satu jam lagi, hari masih siang. Tapi pria ini, sudah merasa hari ini sudah malam. Dia duduk, menuangkan minuman lagi digelas George yang kosong, dan menghabiskan sendiri dalam sekali tenggak.


"Tidak perlu basa-basi. Hentikan pemberitaan ngawur dari WW Magazine, dan aku ingin klarifikasi berita itu kembali." George menuangkan kembali minuman di gelas, antara mereka yang sudah kosong.


Satu gelas kecil itu, mereka miliki bersama kini. Sang koki sudah menyerahkan gelas yang sama, tapi keduanya enggan mengunakan. Lisa tertawa ringan, hingga kedua mata menyipit. Pria ini, masih sebodoh dulu.


Sudah dikatakan, gadis itu milik siapa. Dan jangan menganggu, tidak mendengarkan.


"Gadis itu tidak memerlukanmu untuk melindungi. Dia punya seseorang yang sanggup melakukan itu." Bibir tipis berpoles warna merah gelap diangkat sedikit ujungnya.


"WW Magazine, sudah memberitakan cerita ngawur. Aku tidak ingin, menjatuhkan perusahaan yang sudah di bangun bertahun-tahun dalam sekali hempasan." Satu potong lagi sushi, kali ini dia lebih menikmati.


Wajah cantik berubah menjadi kelabu, gincu merah gelap cemberut. George, mengancam. Gadis itu meminum habis air didalam gelas kecil.