A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
192. ingin menjadi biksu



Lisa yang sempurna disampingnya, bergelayut manja. Kedua orang tuanya bahkan kedua saudaranya sangat berbahagia dipesta ini.  George menyeimbangi kebahagian. Saat ini, dia sedang memainkan sebuah drama. Bagiannya adalah berakting bahagia sepanjang acara.


Sessi pemotretan sudah berlalu. Merasa jenuh, keduanya menerima instruksi untuk turun. Juan dan Yani bergabung dengan Demitri dan Cristian menyapa para tamu.


"MaYa, kamu cantik sekali." Thony digendongan Juan.


"Benarkah."


"Ayah, mamah selalu cantik seperti ini ketika bersama Ayah saja, mengapa?"


"Hah!" Yani tiba-tiba merasa mulutnya disodok permen coklat. Mulut kecil ini begitu manis. Tidak sedang memujinya, tapi sedang mengambil hati Ayahnya.


"Karena mamah hanya menyukai Ayah, benarkan." Melihat tepat ke wajah Ayahnya.


"Benar!" Setuju membalas.


Dua lelaki ini tertawa sangat puas didepannya.


"Aku harus punya anak perempuan. Secepatnya!." Disebelah Juan.


"MaYa, aku ingin adik laki-laki."


"Lalu, siapa temanku saat kalian berdua sengkongkol."


Thony melihat Ayahnya yang sudah tersenyum padanya. Lalu keduanya tertawa senang.


"Paman George! Paman George!" Thony turun dari gendongan ayahnya dan berlari menghampiri meja Walthure.


George seketika melihat kearah suara. Senyumnya langsung terukir indah, menyambut kedatangan bocah mengemaskan itu. Seketika bocah itu sudah ada dipangkuannya. Matanya yang jernih memperhatikan seluruh meja.


Juan dan Yani menyusul putra mereka.


"Namaku Thony Sebastian Carlos, Nenek apa kabar?" Melirik wanita yang sedikit jauh dari usia Cristian didepannya.


Bocah ini menebak jika beliau adalah Mamah Pamannya. George mengangguk membenarkan. Kemudian melihat Yani disebelah Juan berjalan kearahnya.


"Kenapa memanggilku nenek." Menyambut tangan kecilnya.


"Ini adalah pamanku. Jadi, mamahnya paman, adalah nenekku. Aku benarkan paman?"


George mengangguk, kemudian melingkarkan lengan Thony kelehernya. Lalu memeluknya erat. Thony membalas dengan melingkarkan kedua lengannya.


Nyonya Walthure terkejut melihat pemandangan ini. Putranya, menjadi orang berbeda saat ini. Lisa membaca perubahan wajah calon ibu mertuanya. Dan dia hanya menunduk diam.


"Paman, itu lukisanku." Menunjuk lukisan yang dipegang ibu Rum.


"Terimakasih." Mendaratkan kecupan dipipi Thony.


"Nenek, ini adalah Mamah dan Ayahku." Memperkenalkan orang tuanya.


George mengangguk lagi. Mulut kecil itu lancar bicara, sangat manis membuat Nyonya Walthure terkesima.


"Aduh anak ini, pandai sekali bicara." Nyonya Walthure sangat senang.


"Artinya Paman dan Mamah kini memiliki satu mamah yang sama." Senyum kecilnya melengkung sempurna membentuk lesung Pipit. Sudah Duduk dengan nyaman dipangkuan George.


"Apa boleh saya memanggil dengan sebutan mamah?" Yani memberi hormat.


"Boleh, tentu Boleh, tentu saja boleh. Tidak perlu sungkan. Aku punya tiga anak, bertambah satu, jadi empat. Aku senang sekali." Merasa malu.


Yani dan Juan menyapa Lisa disebelah George.


"Pamanku sangat tampan, pasti karena memiliki Mamah begitu cantik."  Melihat Nyonya Walthure dengan wajah polos.


Nyonya Walthure sepontan menepuk lengan putranya karena pujian tadi.


"Oh, manis sekali. Putra kalian begitu sopan. Kalian mendidiknya sangat baik." Melihat Yani dan Juan.


Tuan Walthure yang sibuk menyapa kolega, menghentikan kegiatan. Langsung bergabung kembali bersama keluarganya.


"Saya Gerry Walthure, senang berkenalan dengan anda." Saling berjabat tangan.


"Senang bertemu keluarga besar Walthure." Tatapan dingin Melihat semua keluarga George.


"Saya juga senang, senang sekali." Masih menjabat tangannya dengan erat.


"Selamat menikmati pesta kami. Thony, ayo." Memberikan tangan pada putranya.


"Paman, sampai bertemu lagi. Nenek, sampai bertemu lagi." Memberikan hormat.


"Sampai bertemu lagi." Beliau membalas dengan sangat senang.


Juan dan Yani meninggalkan meja bersama putranya, kemudian berkeliling menyapa tamu lainnya.


"George, mereka sangat menyenangkan. Aku mengerti alasanmu sekarang." Memeluk putranya dengan hangat.


"Dari sini, Kami akan langsung kembali ke Bali." Tidak berani melihat wajah ibunya.


"Kembalilah pulang jika merasa lelah. Jika aku neneknya, dan dia memanggilku mamah. Artinya kalian bersaudara. Kita keluarga. Masih bisa bertemu dibanyak kesempatan. Ini ikatan lebih erat, tidak akan putus." Menepuk punggungnya dengan kasih sayang.


"Lihatlah, putraku yang kekanak-kanakan. Sudah begitu bijak. Aku sampai tidak bisa lagi mengenalimu tadi. Aku mamah yang payah." Memeluk putranya, mendaratkan bertubi-tubi kecupan ringan.


Beliau melihat gadis cantik, elegan berkelas disebelah putranya. Gadis itu begitu sempurna di matanya. Mereka berdua sangat cocok.


"Aku ingin menjadi biksu." George Nyeletuk.


Kaget mendengarnya. Beliau membulatkan besar kedua mata, wajah seketika pucat.