A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
151. mengembalikan sesuatu padanya



Suara menangis ke ibuan semakin keras. George Semakin erat memeluk tubuh ibunya yang rapuh. Mendaratkan kecupan kesekian kali di kening ibunya.


*


Malam ini, makan malam terasa beda. Beberapa menu spesial di buat. Karena tamu yang datang memiliki alergi pada bahan makanan tertentu.


Tidak satu orang tapi dua orang tamu.


Semua keluarga Carlos sudah di rumah, menunggu tamu yang akan datang. Roberto terlihat bersemangat di kursi roda.


Demitri dan Cristian terlihat biasa saja, keduanya berpelukkan mesra di belakang kursi roda. Terpancar kasih sayang antara keduanya.


Cristian memerah ketika Demitri membisikkan sesuatu padanya.


Yani memperhatikan ikut tersipu malu. Mereka Pasangan yang menjadi impian semua orang.


"Jangan khawatir, kita akan seperti mereka nanti tuanya." Juan tiba-tiba memeluk pinggang dari belakang.


Hidungnya di mainkan di belakang telinga. Membuat seseorang salah tingkah.


"Hah.!. Aku tidak yakin. Aku mungkin lebih tua duluan." Menjauhkan diri.


Sekali gerakkan menarik tubuhnya yang lembut, kembali keposisi tadi.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukannya tiga hari berturut-turut, kali ini pake jeda." Berbisik, tepat ditelinga.


Ujung hidungnya di mainkan didepan telinga.


Pemilik telinga berbalik melihat. Wajah dan leher memerah. Telinganya bergetar ditempat tadi.


"Memalukan." Lalu menjauh darinya.


Tidak lama sebuah mobil Porsche Merah masuk. Berjalan pelan, berhenti di sebelah mobil lainnya.


Karena sudah malam, yang terlihat dari teras hanya seorang anak muda keluar dari pintu supir.


Kemudian membukakan pintu bagasi.


Demitri mengajak Juan untuk membantu tamu mereka.


Sebuah kursi roda, didekatkan pintu belakang. Lalu pria muda pembawa mobil membantu memindahkan penumpang belakang, naik ke kursi roda.


Tiga pria berbadan tegap menjaga seorang pria tua di kursi roda, meninggalkan parkiran.


"Wwwiiibowo..." Roberto menyambut.


"Roberto. Apa kabar pria tua." Lalu tertawa sangat senang.


"Tttuuuaaa...." Roberto merasa keberatan di bilang tua.


Mereka semua masuk kedalam bersamaan. Dan duduk di ruang tamu.


"Oom Wibowo. Ini putraku, Juan." Demitri memperkenalkan Juan.


Juan memberikan tangannya, lalu kembali duduk.


"Juan sudah besar, Demitri. Kamu membesarkannya dengan baik." Beliau memuji dengan bangga.


"Terimakasih Oom. Bagaimana dengan Rommy.?. Apa kabarnya." Demitri ingat dengan teman kecilnya.


"Dia sehat, tidak bisa ikut. Tapi putranya menemaniku disini.


Roberto, akupun punya cucu yang membanggakan. Namanya Ray Wibowo." Beliau memperkenalkan cucunya pada Roberto.


Pria muda itu menyalam dengan sopan semua orang. Dia berhenti beberapa detik ketika melihat Yani disebelah Juan.


Kemudian kembali duduk kesebelah kakeknya.


"Juan, apakah ini calon istrimu." Tuan Wibowo melihat Yani.


"Sudah istri saya, Kakek." Tegas dan jelas.


Kakek Wibowo tertawa dengan suara besar. Dia senang mendengar nada suara cucu Roberto.


"Aku rasa, dia mirip denganmu, Roberto. Tegas dan Jelas." Tertawa lagi.


Roberto tertawa dan mengangguk. Roberto memberikan tangannya, melayang diudara kearah Yani, dan berkata.


"Ssseeebastian..." Kemudian melihat Wibowo.


Beliau diam, pinggangnya seperti ditarik menjadi kaku. Arah kepala berbelok pelan kearah tangan Roberto tadi. Kemudian memperhatikan Yani disebelah Juan.


"Maksudmu, anak Thony Sebastian." Wibowo melihat sahabatnya disebelah.


Roberto mengangguk membenarkan. Kedua mata Wibowo membesar.


"Benarkah.?. Putrinya Thony Sebastian. Dia menjadi Cucu menantumu." Mulut beliau membesar, tidak bisa menutup lagi.


Roberto mengangguk angguk membenarkan, sambil tertawa senang.


"Bagaimana bisa.?. Kalian saling menjodohkan dibelakangku.?. Hebat sekali. Aku mencari putri Thony sudah lama sekali. Aku ingin mengembalikan sesuatu padanya."


Semua melihat pria tua itu dengan penasaran.  Tapi tidak seseorang.


Mata dingin seseorang, tidak ikut melakukan itu.


Dia hanya berpusat melihat istrinya disebelahnya.