A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
190. Ini berlebihan sekali



Sepatu yang akan dia kenakan model datar, tidak ada hak sama sekali. Cristian sengaja menganti sepatunya didetik terakhir, kata pemimpin penata. Yani senang, setidaknya dia bisa leluasa melangkah sepanjang acara. Ujung sepatunya bertaburan mutiara yang sama seperti pada gaunnya.


Perhiasan yang di kenakan tidak mencolok, telinganya tertancap sebutih batu berlian dan seuntai kalung berlian tidak besar melingkar dileher. Rambutnya yang panjang di kepang dan di naikan semua keatas. Di antara kepangan diselipkan slayer kerudung berwarna senada.


Yani mengenakan mahkota kecil tertancap diantara tatanan rambutnya paling atas. Setelah merasa semuanya sesuai dengan konsep penata. Pemimpin penata itu mengangkat dan melebarkan slayer, menutup seluruh wajah pengantin. Kemudian mereka semua merapikan barang-barang dan keluar dari kamar.


Dibatasi slayer Yani melihat kearah cermin didepan. Melihat bayangannya sendiri. Tidak lama, sosok Juan masuk, melihat suaminya dari cermin. Dia sangat tampan dengan jas hitam. Potongannya sempurna membungkus tubuhnya yang gagah, dasi kupu-kupu sudah diikat sangat rapi.


Celana hitamnya lurus tanpa lipatan sama sekali membungkus kakinya yang panjang. Mengenakan sepatu kulit sangat berkelas tidak berdebu, berjalan menghampiri dengan langkah menekan.


Berjam-jam berlalu, Juan baru diizinkan masuk kedalam. Satu pimpinan mereka menyapa ramah, dan berjalan keluar ruangan. Seketika ruangan itu, hanya tersisa mereka berdua.


Melihat istrinya disana, sudah mengenakan gaun putih bersih, bagian leher yang bersih juga tulangĀ  leher yang indah dan seksi, terekspos. Rambut di ikat gulung tinggi tertutupi penutup kepala putih khas pengantin wanita, penampilannya hari ini terlihat sangat elegan.


Dia seorang gadis Yatim piatu. Ketika mereka menikah, Demitri sendirilah yang mengantarnya kedepan altar. Kini di acara resepsi ini, pria ini yang akan menemani. Kedua mata sepekat tinta melihat dengan cinta kearahnya. Sepasang mata sayu itu tiba-tiba merasa lembab.


Juan berjalan kedepan wanitanya, dibatasi selapis slayer pengantin, terus memandangi. Sudah Benar-benar terpikat. Baru beberapa jam mereka tidak bertemu, tapi saat ini, jantungnya malah berdebar kencang dan semakin kencang, tidak karuan.


"Hari ini, banyak orang akan tahu, kamu milikku. Dari dulu kamu hanya milikku, akan tetap milikku, hingga puluhan tahun yang akan datang." Berlutut dengan satu dengkul di lantai.


Juan mengangkat tangannya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Kemudian jarinya yang panjang menekan dan membuka kotak itu. Yang muncul adalah sebuah cincin. Pria ini memberikannya cincin, ini untuk kedua kali .


Cincin berlian yang sangat cantik, dan besarnya berlebihan sekali. Juan melepaskan cincin pertama dan menyelipkannya di jari yang lain. Kemudian menyelipkan di jari manisnya cincin berlian itu.


Tidak bisa bicara, Air mata melompat keluar, dada naik turun berkali-kali, nafasnya tidak beraturan melihat ke pria yang berlutut didepannya. Dan memandang jarinya yang sudah diselipkan cincin, ujung mulut bergerak antara tersenyum, terharu, atau bahagia. Semua tercampur satu, dan mereka bergetar sambil bicara.


"Ini berlebihan sekali." Dengan tangan yang lain, menyentuh lehernya sendiri karena malu,


"Mereka bilang, wanita suka yang seperti ini." Mengangkat alisnnya yang indah.


"Mereka?" Bisa ditebak, pasti kedua sahabatnya.


Merasa itu lelucon, dia tertawa bercampur terharu. Lalu menjawab.


"Apa aku masih bisa untuk menolak dan kabur."


"Berani memangnya!" Tegas.


"Hah!" Tertawa sambil melihat kembali jari manis.


Juan tersenyum dan bangkit berdiri, kemudian menjulurkan tangan.


"Nyonya Juan Carlos, pesta pernikahannya sudah mau mulai, kita harus jalan."


Yani tersenyum, menyambut tangan besar.


"Tuan Juan Carlos, kita akan menghabiskan puluhan tahun kedepan selalu bersama. Jadi, kamu! Harus selalu bersikap baik padaku."


Berpikir sejenak lalu menjawab singkat. "Aku usahakan."


Hanya bisa menyipitkan mata dibalik selembar slayer. Pria ini! Benar-benar, habis kata.


Bibir tipisnya melengkung sempurna, hingga lesung pipi dengan genit keluar. Dia membantu istrinya berdiri, kemudian melingkarkan lengannya yang tipis, melingkari dilengannya. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan.


*


Beberapa orang berjaga sejak tadi didepan pintu segera merapat ketembok. Begitu dua orang keluar dari Presidential Suite dan berjalan, mereka menjaga dengan jarak. Mereka semua mengenakan seragam yang sama, dengan mengunakan earphone, berjalan mengiringi, ada yang dibelakang dan samping.


Mereka berhenti didepan sebuah pintu besar. Di sana sudah ada Jesica dan Lestari, sangat cantik dengan gaun keduanya yang indah. Sisi satunya ada Raymond dan Dayland, penampilan mereka sangat formal sempurna.