A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
155. "Hanya ada aku di kedua matamu."



Ruangan minim cahaya ini, seperti memiliki bintang kecil didalam.


*


Senin pagi, Yani ikut Juan berangkat kerja. Meninggalkan rumah utama. Setelah menganti jam kerja, otomatis pagi ini, tidak ada yang bisa dikerjakan. Selain menemani sang suami bekerja. Bisa ditebak, betapa membosankan.


Turun dari Audi, tangan tertelan dalam genggaman, kaki panjang berjalan menyesuaikan, agar seseorang tidak tertinggal. Mereka naik lift, menuju lantai sepuluh.


Sejak turun mobil hingga masuk lift, beberapa pasang mata melihat kearahnya, lagi-lagi hanya kearahnya. Melihat Juan disebelah, pria itu biasa saja. Yani semakin penasaran, apakah penampilannya ada yang salah.?. Dia mengenakan kemeja biru muda tangan panjang, dengan jins biru gelap.


Apa karena jins yang dia kenakan.?. Masuk kekawasan perkantoran seelite ini, jins yang dia kenakan, mungkin tidak diperbolehkan.?.


Mata sayu memperhatikan. Atau ada yang salah dengan wajahnya.?. Ini ketiga kalinya, menginjak kantor Juan. Dan mata mereka masih sama melihatnya. Ingin menelan utuh.


"Juan, apakah ada sesuatu diwajahku.?." Setelah melihat cermin di dalam lift, hatinya makin tidak enak.


Tangan besar mengangkat dagunya, dan menunduk, memperhatikan. Bulu mata berkibar indah, wajah segar, bibir tebalnya dipoles tipis dengan warna pink muda, mereka mengkilau, dan mengoda. Istrinya menyuruh melihat ke wajahnya, dan langsung dilaksanakan. Jadi begitu dekat. Biar bagaimanapun, dia seorang laki-laki. Salah siapa Jika jadi tergoda begini.


Terdorong kuat, segera melakukan yang otaknya perintahkan. Mengambil mereka sebentar dengan cepat, karena enak, tidak ada penolakan, mengambil lagi, agak lama. Mata sayu sudah membesar. Bulat besar sempurna, dengan pupil berpusat tajam, seakan ingin merobek kedua mata didepan.


"Memalukan." Menjauh kesal, bola mata memutar, lalu berhenti di kamera CCTV, diatas kepala.


Pria ini sunguh memalukan. Sudah salah meminta pendapat.


Sekali kibas, bahu kecil ditarik kembali. Senyum melebar sempurna dengan lesung pipit. Sangat menyenangkan menganggu istrinya. Jujur saja, jadi ketagihan.


"Sini, Biar aku lihat." Jadi Serius. Menarik dagu lagi. Memperhatikan dengan seksama.


Juan semakin serius, bola mata sepekat tinta meneliti semua wajahnya.


Lalu berkata dengan sangat mesra didepan wajah."Hanya ada aku di kedua matamu."


Seketika wajah itu merona, tidak berani melihat kearahnya lagi. Juan bahkan bisa melihat Telinga ikut merah.


Pintu lift membuka.


Mereka berdua disambut Pria bernama Sam. Dia menyerahkan map kulit berwarna hitam. Satu tangan mengandeng, satu lainnya menerima map. Assisten Sam mengikuti dari belakang.


Yani didudukan di sofa, dia berjalan menekan menuju meja kerja. Pria itu mulai bekerja, dia fokus. Tidak bisa diganggu. Juan akan menghampiri sendiri jika sudah selesai dengan pekerjaan.


Saat sedang bekerja, Juan Sangatlah keren.


Berhenti mengagumi, dan mengeluarkan gadget dari dalam tas, menyalakan Android dan Ipad. Mereka diletakkan di atas meja. Tidak butuh waktu lama, benda itu berbunyi. Lalu berbunyi lagi tiada henti, meloncat-loncat di atas meja.


Jari kecil mengambil android diatas meja, mulai menari di monitor. Banyak pesan, banyak panggilan masuk, bukan hanya dari nomer yang tersimpan. Banyak juga dari nomer-nomer tidak dikenal.


Jesica, George, Bimbim, dan Lestari, adalah orang-orang yang langsung dilihat pesannya. Keningnya membentuk satu garis, membaca teks satu persatu dari mereka. Kemudian kepala kecilnya diangkat, tanpa sengaja melihat pria di kursi kebesaran. Tidak disangka, pria itu balas memperhatikan. Yani mengibaskan bulu mata, dan kembali ke gadget.


George."Sudah kukatakan berapa kali, jangan matikan telponnya.!!!."


Jesica."Jangan dulu ketoko, please.!." Gadis itu menambahkan emoji menangis.


BimBim."Butik dilempari seseorang dengan batu, pagi ini. Bos, everthing oke there.?."


Lestari."Jangan khawatir, kami baik-baik saja. Jaga diri, Bos." emoji love.