A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
152. kehormatan tiada terhingga.



Dia hanya berpusat melihat istrinya disebelahnya.


"Aku membeli pabriknya, beberapa tahun silam. Aku ingin mengembalikan padanya."


Semua kaget melihat Wibowo. Roberto sama terkejutnya. Orang yang membeli pabrik Sebastian adalah sahabatnya.


Beliau duduk bersandar dengan tenang. Mulai mengutarakan niat sesungguhnya datang kekediaman Carlos.


"Cucuku ini, ada salah satu juri penilai di acara Fashion Trendy. Dia mengatakan, jika melihat siluet yang sama dalam sebuah setelan. Lalu aku melihat vidionya. Dan memang benar, sama persis." Beliau melihat Yani lalu berpindah ke Roberto.


"Kemudian dia mencari tahu pemiliknya. "SebasThony butik." Pemiliknya Yani Sebastian. Cucuku juga datang ke butik kalian di Thamrin. Dia juga melihat Juan Carlos disana. Itulah sebabnya, aku datang kesini. Kalian pasti mengenal Yani Sebastian, ternyata aku benar."


Yani menunduk, dia mengingat Ray datang ke butik. Bahkan meninggalkan kartu nama.


"Aku sudah tua. Cucu dan putraku, tidak ada yang tertarik menjalankan pabrik itu. Dan, Aku rasa aku gagal menjalankan pabrik itu. Mereka yang bekerja disana, tidak bisa menghasilkan yang sama seperti buatan Thony." Kecewa.


Beliau kemudian melihat Yani, jauh diseberang.


Posisi mereka memang jauh.


Disebelah Roberto adalah Demitri dan Cristian. Disebelah lain Roberto kakek Wibowo, cucunya, Juan baru Yani.


"Aku menawarkan pabrik itu. Jika putri Sebastian tertarik. Aku akan memberikannya dengan harga terbaik."


Juan melihat tangan istrinya, mereka diikat jadi satu, diletakkan di atas paha. Mereka memutih karena mengalami tekan. Bisa ditebak, gadis ini, pasti sangat tertarik dengan tawaran itu.


Beberapa waktu lalu, gadis ini pernah mengatakan, ingin menukar warisan Ayahnya yang masih atas nama Gress dengan pabrik Thony Sebastian. Sekarang, warisan itu sudah atas nama Yani. Didepannya malah ada tawaran dari pemilik pabrik untuknya.


Kemudian kepala kecilnya diangkat, melihat kearahnya.


Juan meletakkan tangan besar keatas ikatan tangan istrinya.


Meletakkan mereka semua di pangkuan.


Roberto memperhatikan gerakkan cucunya. Dan tanpa ragu berkata.


"Ttteentuu ... " Mengangkat kepala kearah sahabatnya.


"Roberto. Aku senang, mendengarnya. Tapi satu hal lagi. Aku memiliki banyak koleksi Thony, namun ada satu karya Thony Sebastian yang sangat aku suka. Cucuku akan mengambilnya di bagasi."


Ray segera bangkit berdiri, berlari kecil keluar. Tidak lama kembali, dengan sebuah kotak.


Yani terharu mendengar itu.


Ray Wibowo membuka kotak diatas meja. Terlihat, sebuah Setelan berwarna hitam. Warna hitamnya sudah memudar, ada sobekkan jahitan dibeberapa bagian.


Mata sayu istrinya bersinar jernih, melihat isi kotak. Seperti melihat harta karun yang tiada bernilai.


Juan mengetatkan bibir tipis.


Tangan besar diletakkan dibelakang punggung sang istri.


"Jika aku mati, aku ingin mengenakannya." Melihat Roberto.


Yani dan Cristian, dikedua mata mereka terlihat genangan mengkilau. Tersentuh haru.


Tiga pria lainnya melihat penuh hormat.


Roberto mengerti. Buat mereka yang sudah tua. Pasti akan memikirkan kesana. Dan mengenakan setelan dengan potongan pas berbahan kwalitas terbaik, menjadi sangat penting.


"Kakek, aku akan memperbaiki ini. Namun, waktu dan daya pakai, memakan usia bahan. Jika tidak bisa diperbaiki, aku akan membuatkan yang persis sama." Melihat beliau dengan kejujuran.


Kakek Wibowo, sangat menghargai karya Ayahnya. Yani meletakkan tinggi rasa hormat pada beliau.


"Terimakasih. Aku akan memakainya dengan bangga." Mengangkat kepala.


Kening Yani bergetar mendengar itu. Air matanya menetes dengan cepat. Terharu campur bahagia.


Ada satu orang, mengenang baik karya Ayahnya.


Itu adalah kehormatan tiada terhingga.


*


Tangan besar itu menarik istrinya masuk kedalam kamar.


"Thony, jangan dulu dibiarkan menonton tivi dan melihat internet. Itu berlaku pada semua dirumah ini. Pemberitaan tentang kita, ada disana. Aku khawatir, satu atau dua berita tidak bisa aku awasi pemberitaannya. Lalu Thony mendengar atau melihat itu" Keduanya duduk di sofa.


"Baiklah." Dua mata sayu melayang ke sekeliling.


Meski dia tidak pernah menyalahkan gadget saat di rumah. Tapi belum tentu putra mereka tidak.