A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
162. Jika, George pada enam tahun itu, ingin menjadi Ayah Thony secara sah



"Juan.!. George adalah Satu orang yang tidak bisa kamu lukai didunia ini. Jika kamu masih menganggap aku ini istrimu, dan Thony adalah putramu, jangan lakukan itu. Atau.!. Kami berdua pasti membencimu." Duduk menyamping, menatap wajah suaminya dari sisi samping.


"Apa ada sesuatu yang tidak aku tahu.?. Katakan.?. Tidak perlu sungkan.?. Aku mendengarkan dengan baik. Melihat kalian makan malam di belakangku, melihat vidiomu mondar mandir leluasa keluar masuk kekediamannya di Bali.?. Apa masih ada lagi, yang aku tidak tahu." Menarik dagu istrinya, tangan besar gemetar menahan tekanan.


Kedua mata mereka saling melihat. Vidio itu beredar tanpa konfirmasi dari pihaknya ataupun George. Mereka serentak menghakimi begitu mudah, seolah-olah dia dan George memiliki hubungan dekat, lalu dia lebih memilih Juan dari George. Itu sangatlah merugikannya. Dia selalu dirugikan, harga dirinya di olok-olok diluar sana.


Jika dulu, santai saja mendapat penghakimi sebelah pihak dari banyak orang. Tapi saat ini keadaannya berbeda. Ada Keluarga besar Carlos dan  Walthure yang harus dia jaga nama baiknya. Membuat Juan melawan George, satu hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai pria ini menjadikan George sebagai musuh.


"Juan, aku yakin sekali, saat itu, sudah meminta izin padamu sebelum pergi makan malam. Aku bersama Jesicca, ada Arnold juga. Kami berempat. Dan soal aku bolak balik kekediaman George, kamu tahu hanya untuk mengantarkan pesanan pakaian. Kami tidak melakukan apapun didalam sana." Menjelaskan dengan suara lembut.


Itulah sebabnya, pria ini tadi memperlakukannya sangat kasar. Mengunakan sekuat tenaga. Dia terpancing oleh vidio yang beredar. Wajah seseorang menjadi suram dengan rahang mengetat. Hatinya yang kecil berada didalam, gemetar takut. Pria ini bisa salah menilai lagi.


"Juan.!. Jika kami ingin bersama, kami bisa melakukan itu sejak dulu. Tapi ini tidak.!. Antara kami berdua, hanya sebagai rekan kerja. George menyayangi Thony, sangat tulus. Apakah ada yang salah dengan itu. Apa aku harus menjauhkan putraku dari pria dewasa yang sangat baik padanya, enam tahun kemarin. Juan, satu hal yang perlu kamu tahu. Aku dan Thony, kami berdua selama enam tahun ini, tidak selalu baik-baik saja." Melihat kedua mata suaminya, dengan tatapan hangat.


Wajah Juan kini gelap. Matanya tajam dan tertutup warna Merah. Sebuah tangan lembut menyentuh punggung tangannya.


"Juan.!. Ada saat, dimana Thony sakit. Dia hanya anak kecil, sakit adalah hal biasa. George disana, langsung terbang menghibur Thony, di manapun dia berada. Dan ada saat dimana dunia memperlakukan kami buruk, Thony dan aku, merasa takut. Dia disana menyemangati." Bulu mata bergetar mengenang, sambil melihat tangan besar


"Sekuat apapun aku memperjuangkan sendiri putraku, tetap saja aku hanya seorang wanita. George menemani kami. Menjaga kami, melindungi kami. Jika, George pada enam tahun itu, ingin menjadi Ayah Thony secara sah, aku akan memenuhi keinginannya. Dia memenuhi semua kriteria kebaikan itu." Nadanya lembut namun jelas.


Mendengar pernyataan ini, pria itu bergetar. Tangan kecilnya lalu diangkat, membelai rahangnya yang kini mengetat kencang.


"Juan, tapi dia tidak meminta itu. Dia hanya ingin, kami berdua tetap berada disekitarnya. Dia tidak egois. Dia hanya melindungi kami. Jangan pernah salah paham. Apapun yang dirasakan George, pikirkan saja, dia juga manusia biasa. Kebiasaan bersama, lalu ada jarak kedekatan, membuatnya sulit beradaptasi. George, pasti kesepian tanpa kami. Juan, jangan pernah, tanganmu ini, menyakiti George." Tubuhnya yang lembut merapat, mengesek lengan kekar, memeluk ringan.


"Berikan dia waktu, dia pasti bisa menghadapinya. Aku dan Thony, milikmu, dari dulu hingga puluhan tahun kedepan. Jadikan George, juga bagian keluarga. Mengertilah, aku sangat sedih, jika kamu, orang terdekat, tidak mengerti ini. Jangan melukai George, jangan lakukan itu suamiku." Mengangkat lengan dan melingkari leher kekar. 


Tubuhnya yang lembut memeluk. Diangkat sendiri, agar bisa sejajar. Juan membalas memeluk, melingari lengan besarnya dipinggang kecil. Tubuh istrinya yang lembut dan hangat, didalam pelukkan. Naik turun, dia menangis halus. Telapak tangan besar diangkat, membelai punggung penuh kasih sayang,  menyusun rapi rambut merah disana.


"Aku mengerti. Aku janji." Menekan bibir tipis didaun telinganya yang dingin.


"Aku mencintaimu, selamanya." Suara bergetar penuh emosi.


Aku berjanji.!. Tegas, langsung melegakan. Seperti mendapatkan udara, dan baru bisa bernafas. Jika kekuatan besar yang datang, menghalangi karier George, bukan berasal dari Juan, itu sangat melegakan.