
Yani melihat George, wajah pria itu menghijau mendengar teriakan bocah lima tahun diseberang. Memanggil-manggil namanya dengan keras. Kemudian mata sayu melihat suaminya.
"Izinkan mereka sebentar." Bergetar.
"MaYa, aku ingin bicara dengan paman George. Mamah!" Berteriak berkali-kali.
Yani tidak melihat reaksi penolakkan. Hanya ada Wajah datar Juan. Kemudian dia menyerahkan Android itu pada George.
"Paman George! Apa kabar paman?" Mendekatkan wajah dikamera.
George langsung tertawa. Bocah itu berlarian mengelilingi kamar. Rahang besar menekan, dengan wajah pucat. Urat dikeningnya keluar. Emosinya berubah. Yani bisa merasakan itu, karena dia berada dekat.
"Baik." Serak.
Bocah itu menangis diseberang. Suara bocah lima tahun ini mengisi ruangan yang kosong. Jakunnya naik turun, berusaha melumas tengorokkan yang tiba-tiba mengering.
"Hai! Mana ada anak laki-laki menangis. Aku sudah ingatkan itu, bukan."
"Apakah besok kita akan bertemu di acara mamah dan Ayah." Menghapus air mata.
"Tentu saja. Paman akan datang sore hari." George menghapus sudut matanya yang basah.
Dia mengatakan pada bocah itu untuk tidak menangis. Lihatlah pria kekanakan ini, badannya saja besar.
"Paman aku melukis wajahmu ketika merindukanmu. Aku akan memberikannya padamu besok. Apa kamu suka." Memamerkan lukisan yang ada dilantai kamar.
"Paman Suka. Itu bagus sekali. Hebat!" Menunjukkan jempol.
"Menurutku masih kurang bagus! Aslinya, Pamanku lebih tampan."
George tertawa. Mereka asik berbicara. Sementara sekitarnya memperhatikan dengan membeku. Semua menyaksikan emosi yang ada di wajah George.
Mereka mengenalnya, sebagai pria kekanakan-kanakan. Namun saat ini, dia menjadi sangat dewasa, matang dan bijaksana. Jika tidak menyaksikan langsung, orang akan menduga mereka adalah dua orang berbeda.
Yani melihat suaminya. Wajah suaminya menjadi gelap disana. Keakraban ini, dia pasti memiliki kecemburuan.
Yani meletakkan tangan dinginnya dirahang Juan. Melihatnya dengan kasih sayang. "Suamiku. Aku tahu kamu sangat baik, dan pengertian."
Situasi ini, dia tidak ingin membangkitkan kemarahan Juan."Juan, kami berdua hanya milikmu. Jadi jangan marah." Berbisik halus.
Melihat kedua mata sepekat tinta yang terlihat gelap dengan cinta. Juan membalas dengan memeluk tubuhnya yang lembut, dan berbisik ditelinganya.
"Baiklah." Menutup mulut.
Kembali duduk dengan benar, membiarkan Juan melingkari bahunya dengan erat. George masih asyik di telfone. Yang lainnya diam, dengan mulut mengunyah.
"Kemampuanmu melukis semakin baik. Itu bagus sekali."
"Benarkah. Paman, Nenekku menemaniku melukis. Dia sangat cantik dan baik. Mamah melarang bermain game bersamamu. Katanya aku belum cukup besar melakukan itu." Mengadu.
Kemampuan Thony merayu orang dewasa sangat pandai, Yani selalu mengacungkan jempol. Ketika bocah ajaib itu memuji neneknya, itu pasti karena beliau ada disebelahnya. Tidak di ragukan lagi. Dia sedang berenang sambil minum air. Bahkan George sampai berlinangan mendengar bibir manisnya. Kelakuan putranya ini, tidak berlaku pada Juan. Ayahnya, tidak termakan rayuan manis.
"Kita bisa bermain bersama nanti. Jika kamu lebih besar lagi. Kita akan kalahkan mereka semua."
"Aku sudah besar paman. Aku akan masuk SD sebentar lagi." Bangga.
"Jadi anak SD. Sekolah yang baik. Thony bahagia?"
"Bahagia sekali. Aku punya semuanya, ada Kakek buyut, Kakek, Nenek, Bibi, Ayah dan Mamah. Aku memilikimu juga paman. Aku senang."
"Wah, Keluarga Thony banyak sekarang. Jangan nakal sama mamah. Jadilah anak baik. Aku selalu mencintaimu. Kamu tahu itu!"
"Aku tahu paman. Paman aku punya pengemar wanita." Tertawa malu.
Semua didalam ruangan tertawa. Bahkan kedua orang tuanya terkejut mendengar curhatan polosnya.
"Aku ingin seperti Ayah! Kakek akan mencarikanku jodoh nantinya. Lalu menikahinya."
Mendengar ini semua spontan tertawa lagi. George tertawa lebih besar.
"Itu masih lama. Paman akan kembali ke Bali. Meski jauh, aku akan selalu memperhatikan kalian."
"Mengerti, Aku akan berkunjung saat liburan sekolah. Aku berjanji, bersama mamah dan Ayah."
"Baik."
"Selamat malam paman." Panggilan dimatikan.
Pria itu Bersandar lemas. Dia kemudian bangkit berdiri, meninggalkan ruangan. Lisa menyusul.
Lengan besarnya melingkar di bahu Lisa. Keduanya meninggalkan ruangan dengan mesra, pergi begitu saja.