A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
181. bermainlah dengan orang lain



Gadis ini selalu berhasil dengan caranya.


Tapi! Saat ini dia sedang tidak menginginkan hal seperti ini. Hanya ingin sendiri. Berharap mendapatkan ketenangan dengan datang kesini lebih awal. Siapa sangka, gadis ini malah menganggu ketenangan. Nafas berat keluar begitu saja. Seluruh tubuh besar, bersandar menyedihkan di bahu sofa.


"George." Menghentikan semua kegiatan. Dengan lembut memanggil.


Ada Seorang gadis cantik di pangkuan, roknya terbuka bebas. Melakukan gerakan lincah mengoda di pangkuannya. Dengan apa yang dia lakukan, George tidak perpancing sama sekali. Biasanya, pria ini sangat mudah diprovokasi. Kedua pupil hitamnya, Disana, terlihat Kosong!


Lisa meletakkan Kepala, menekan dada bidang yang besar dan luas. Jubah pria ini berantakan, di biarkan sejak tadi tidak menutup.


"Ada apa denganmu?" Sangat halus, sambil membantu Merapikan jubah, mengikat talinya dengan benar.


Lama baru dijawab, dan berkata.


"Aku hanya ingin sendiri." Melihat kosong.


Tangan kecil mengangkat, menyentuh kedua sisi rahang besar yang dingin. Membuat keduanya kini, saling melihat. Keduanya melihat dengan kesedihan masing-masing.


Alis tebal diukir indah sedang mengerut menyatu. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis di atas pangkuannya. Masih ingat, Gadis ini, dulu sekali, begitu indah mengisi hari-harinya. Dan begitu mudah juga mencampakkan dirinya. Dia sama! Membuatnya harus memainkan drama hidup, dengan alur kisah yang sangat menyedihkan.


"George, Aku merindukanmu." Lurus melihat kedalam kedua mata sedalam samudra.


Mengatakan itu sangat serius. Pemiliknya tidak menjawab. Tubuhnya yang besar hanya bersandar di sofa. Empat mata mereka masih terikat satu sama lain.


"Lisa! Aku sedang tidak ingin bermain-main." Dengan malas.


Lisa meneliti wajah besar. Tangan kecilnya membelai pipi dingin dengan halus.


"George, cintai aku lagi. Seperti dulu! Bisakah?" Wajah Lisa memucat selesai mengatakan itu.


Mereka sangat dekat, ujung hidung keduanya hanya berjarak dua jari. George tertawa kearah ruang kosong. Ucapan itu begitu menggelikan.


"Setelah membuangnya ke tong sampah! Kini menginginkannya lagi. Lucu sekali." Tajam dan sinis.


"Aku tahu! Aku bersalah padamu! Maafkan aku! George, beri aku, satu kesempatan lagi." Hampir menangis.


Memeluk George. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi kulit bahu seseorang.


"Jangan mengusirku! Itu membuatku sedih. Jangan mengabaikanku, itu membuatku ingin menangis. Kembalilah padaku, seperti dulu. Kali ini! Aku akan berusaha lebih keras dan lebih baik pada hubungan ini." Menghapus air mata.


"..." George


"Kita mulai lagi dari awal? Mencintai lagi?" Melihat kedalam kedua mata George dengan kasih sayang,


"Aku sudah lama tidak percaya lagi padamu." Tidak berdaya.


Lisa meletakkan kedua telapak tangan yang lembut di sisi pipi dingin.


"Aku akan menunggu, seberapa lama waktu yang kamu inginkan, aku akan menunggumu. Berusahalah! Cintai aku lagi, seperti dulu." Meledak dengan Air mata, mereka jatuh dengan cepat di pipinya yang bersih.


"Aku ini hanya orang *****!" Mengingatkan gadis ini.


Gadis itu gemetar sekujur tubuhnya mendengar itu. Dan menggeleng berkali-kali dengan lemah.


"Jangan katakan itu. Setelah kita berpisah. Hanya ada kamu. Aku tidak berani mencari pria lain." Melihat lurus padanya.


Kenangan enam tahun lalu berlari liar didepannya.


"Lisa! Dulu aku berlari jauh dari kota ini untuk menghindari semua yang mengatakan aku ini orang ***** dan tidak berguna. Jika aku harus kembali berlari, Aku! Tidak punya siapa-siapa lagi yang menungguku. Lisa! Aku sudah tidak punya mimpi tentang cinta." Mengalihkan tatapan kosongnya menjauh.


Tubuh kecilnya langsung naik turun saat mendengar pengakuan itu. Air matanya terus jatuh tidak berhenti. Kemudian dengan mata sembab mengangkat kepalanya lagi.


"Berikan, satu kesempatan lagi. Aku akan berusaha! George, Aku berjanji, jangan menyerah padaku. Aku akan menempatkanmu lebih utama kedepannya." Melingkari leher kekar.


Pria ini, membalas dengan tatapan sedih.


"Aku, Sedang Sakit." Merintih pelan.


"Bagian mana?." Melihat seluruh tubuhnya.


Telapak tangannya yang besar mengambil punggung tangan Lisa, meletakkannya tepat dimana jantungnya yang kecil berada.