A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
167. SAMA!.



Tambah satu lagi GEORGE.!.


Total empat.


Ini GILA!.


"Bagaimana mungkin begitu tega padaku. Aku mana tahu jika Yani Sebastian adalah istri Juan." Gelisah duduk dibelakang setir.


Raymond tertawa renyah.


"Jangan bohong!. Cukup sudah gadis manis. Berhenti bermain-main. Kalian sudah pernah bertemu, makan malam di Jimbaran! Disana ada George, kamu juga sudah melihat putranya Juan."


Tidak bisa jawab. Tidak bisa lagi sandiwara.


"Dengarkan aku, masalah ini semakin memanas. Juan sedang tidak ingin bermain-main. Dayland tidak akan membelamu, kamu tahu itu kan!."


"Kami tidak ada!. Kekuatan sebesar ini, tidak mungkin hanya dari edisi khusus kami. Tidak mungkin!." Sangat yakin.


"Pintar!. Kami sudah menemukan orangnya. Tapi, kamu kenal Juan. Semua biang kerok, kena. Dan malam ini, pergerakan serentak ini harus meredam."


"Aku tidak akan melakukan hal yang merusak reputasiku. Aku masih waras." Meletakkan kepala disetir.


Raymond tertawa besar.


"Tetap saja!. Yang bertanggung jawab pimpinannya."


"Juan!. Pria licik itu, tidak pandang bulu. Aku benci dia." Menendang-nendang ringan.


Lagi-lagi Raymond tertawa.


"Benci!. Lalu siapa yang menaruh obath perangsang digelas Pria Licik itu!." Menyindir.


"AKU!. Apa kakak senang sekarang." Segera menjawab dan cemberut.


Raymond tertawa lebih senang.


"Rayu saja Juan."


"Apa bisa!. Jika bisa, aku yang ada di atas pelaminan bersamanya."


Pria brewok tertawa sangat senang dan suara besar.


"Atau langsung pada istrinya. Katakan yang sebenarnya."


"Menurut kakak aku sebodoh itu. Aksi balas dendam ini, hanya milik Juan. Jika Yani Sebastian!. Pasti sudah menuntut di hari kedua penerbitan edisi khususnya."


"Gadis pintar!."


"Kakak bantu aku. Hentikan tuntutan ini. Namaku akan mencuat kepermukaan nanti. Reputasiku akan rusak." Merenggek.


"Aku usahakan."


Lalu menekan nomer Mala Stole, mengunakan bluetooth. Menyalakan mesin kendaraan dan meninggalkan halaman WW Magazine.


"Kalian berdua, harus buat klarifikasi sendiri. Dan aku ingin itu segera. Jika tidak!. Aku sendiri yang akan menurunkan jabatan kalian jadi OB!." Berteriak mengancam.


"...B-Baik!. Bos, kami sudah menemukan narasumbernya!. Orangnya tinggal di Bali." Mala duduk di kursi, sementara Emelly di sofa.


"Bali!." Rambut hitam dikibaskan.


"Benar. Namanya Dara!." Jelas.


"Apa ada nomer kontaknya."


"Ada bos!."


Keduanya mematikan panggilan. Tidak lama nada pesan masuk di iPhone Diomand miliknya. Mala mengirim sebuah nomer kontak. Lisa segera melakukan panggilan pada nomer itu, dan hasilnya mengejutkan.


Di iPhonenya kontak ini sudah tersimpan!. Dengan nama DARA BUTIK COLECTION. Salah satu endorse, saat diBali. Mulut Lisa membuka membesar. Sekilas melihat layar, berpindah ke kaca depan kendaraan, melihat jalanan. Lalu berpikir sangat keras.


Dara adalah pemilik butik diBali. Yani juga pemilik butik di Bali. SAMA!.


Dara mengenal George. Dan Yani mengenal George. SAMA!.


Bagaimana caranya, Dara dan Rika bisa berhubungan?. Sebuah pertanyaan lain. Seluruh tubuhnya, kini mengigil didalam.


Dara pernah menyatakan cintanya pada George. Itu adalah pesta yang diadakan salah satu majalah di Bali, George terang-terangan langsung menolak, didepan semua orang. Lisa hadir juga, meski datang terlambat. Tapi pas moment memalukan itu, dia disana.


Ini mungkin, Perebutan klien?. Untuk mendapatkan seorang seleb sekelas George. George lebih suka mengenakan Koleksi SebasThony. Atau Persaingan cinta?. George sudah menolak cinta Dara, karena dia mencintai Yani. Lisa Kembali mengigil didalam.


Sudah jelas!. Lingkaran ini, penyebabnya pria kekanak-kanakan itu. Mantan kekasihnya-lah biang kerok disini. Ini merupakan lingkaran setan, dan dia ikut ditarik masuk.


"F*CK!!.." Mengumpat pada jalanan didepan. Memukul setir.


*


Martha Indonesia Colection.


Nusa Dua, Kuta Selatan


Bali.


Disaat bersamaan. Tiga minivan hitam, parkir berjejer rapi didepan. Didalamnya penuh dengan pria berseragam lengkap. Satu minivan lainnya berisi tiga orang dengan alat komunikasi tehnologi terbaru tercangihkan didalamnya.


Mereka dalam posisi siaga. Menunggu perintah. Hingga...


"Mereka akan tutup. Beberapa orang mencurigakan masuk kedalam. Sebentar lagi akan online." Mematikan panggilan.


"SEKARANG!." Perintah itu turun serentak, dialat komunikasi masing-masing.