A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
193. ingin mengendong cucu



"Aku ingin menjadi biksu." George Nyeletuk.


Kaget mendengarnya. Beliau membulatkan besar kedua mata, wajah seketika pucat.


Sementara Gerry langsung jatuh duduk lemas dikursi. Satu tangan memegang belakang kepala yang sakit dengan wajah tidak kalah pucat dari sang istri. Bahkan saat berbahagia seperti ini, anak itu masih memberikan pernyataan yang menjengkelkan.


Anak ini, selalu sungguh-sungguh dengan perkataan. Seperti enam tahun kalau, dia mengatakan "Ingin Pergi dari rumah" dan dia benar-benar melakukannya.


Mengapa harus saat ini anak ini menjadi menjengkelkan. Membuat kolesterolnya langsung loncat tinggi.


"Anak nakal! Anak nakal! Anak nakal! Berani sekali! Aku akan menjewer kupingmu sampai copot." Berhenti memukul lengan putranya, karena lelah. Lelah batin.


"Tante, jangan memukulnya." Lisa merasa kasihan pada George, mengusap lengan yang dipukul tadi.


"Jangan membelanya. Anak kekanak-kanakan ini jangan dibela. Kebagusan. Kamu bisa kurus kering nanti Lisa." Melihat cemas ke Lisa, kemudian membantu suaminya duduk dengan benar.


George dengan santai menghabiskan minum digelas, tidak sedikitpun melirik sang Ayah yang menderita sakit dibelakang kepala.


Kenapa?


Dia adalah seorang aktor, bakatnya didapat bukan karena sekolah khusus. Didapatnya secara alamiah.


Dari siapa?


"Berikan aku racun mematikan saja." Gerry menunjuk-nunjuk putranya, menahan sakit.


"Aku akan ber-tapa sangat lama. Jadi minumlah itu saat aku menghilang." Menjawab santai.


Lalu kolesterolnya kembali loncat.


"A-aduh, aduh dadaku. Aduh dadaku mau pecah. Aku akan mati." Menekan dada sendiri.


Kedua putra dan kedua menantu merasa khawatir, semua mendekat, membantu beliau. Gerry semakin keras merintih. Lisa ikut menjadi khawatir.


Sementara George dan calon ibu mertuanya tidak peduli keadaan beliau.


"Om, kamu baik-baik saja." Lisa menghampiri kursi Gerry.


Nyonya Walthure memperhatikan putra bungsunya dengan kejam. Merasa harus melakukan sesuatu. Wajah asli keluarganya sudah tidak bisa lagi disembunyikan dari calon menantu mereka. Beliau pun Akhirnya menyerah.


"Baiklah, jadilah biksu. Aku juga akan jadi biksu menemanimu!" Dengan tenang duduk, meninggalkan kerumunan. Beliau Tidak melihat ke arah George.


"CK CK CK, lihatlah akting Gerry dan Camelia ini! Kalian berdua semakin lumayan. Aku harus memberikan kalian tepuk tangan, dan saweran lebih banyak." George mengangkat gelas kearah sang ibu.


Begitu namanya juga disebutkan, wajah menghijau. Sekali hempasan ringan, tangannya mendarat keras, tepat dikepala putranya. Tidak meleset sama sekali.


"Anak kurang ajar! Ketika menyebut namaku, Sebutkan margaku juga. Agar aku sadar, aku bukan seorang Walthure. Kamu pikir, dari mana bakatmu didapat jika bukan dari kami." Mengumpat kesal.


Kemudian melihat suaminya disamping yang masih menekan dada.


"Suamiku! Hentikan aktingmu." Camelia tidak melihat kearahnya.


Gerry seketika menghentikan kegiatan. Melihat George dengan amarah besar. Dan itu membuat semua yang mengelilingi langsung terkejut.


"Aku tidak apa-apa, kembalilah kekursi kalian." Gerry duduk dengan gagah.


Dua putra, dua menantu dan calon menantu masih terkejut melihat perubahan itu. Mereka dengan binggung kembali kekursi.


"Baru saja, seorang anak kecil memanggilku nenek dengan sangat manis, aku yakin sekali, bocah itu dilatih seseorang dengan sangat baik, hingga pandai mengambil hati orang." Melihat tajam kearah putra bungsunya.


"Mungkin saja! Enam tahun hanya aku didekatnya, dia memperhatikan kegiatanku dengan baik. Dan dia putraku juga." Santai menjawab.


Mengaku dia putranya. Putra bungsunya ini, sudah sinting. Camelia kesal setengah mati, tapi masih ditahan.


Jika memang sudah begitu dekat, sampai berani mengakui bocah kecil itu adalah putranya. Lalu, kenapa saat ini bukan dia yang menjadi Ayahnya. Tatapan Camelia meremehkan.


Camelia tertawa sinis."Jauh dariku, membuat putraku ini menjadi ***** selama enam tahun. Aku benarkan."


"Ya! Aku *****! Puas!" Mengerti maksud ibunya.


"Ya! Ya! Ya! Aku akui, tidak sabar ingin mengendong cucu. Aku sudah tua, Saudaramu ini sudah lama menikah, dan aku masih belum mengendong cucu. Suamiku! Aku sudah cukup mengurus kalian semua. Aku masih punya satu anak, aku akan mengurusnya lebih baik dimasa yang akan datang." Menghabiskan minuman digelas dan meletakkannya dengan keras di meja.


Beliau tidak meminta saran. Tapi menjelaskan keputusan singkat yang baru saja dibuat.


"Apa maksudmu." Gerry masih belum mengerti.


Apakah istri dan putra bungsunya sedang memainkan lagi sebuah drama. Mereka berdua terlalu bagus, hingga tampak seperti sunguhan saat ini. Ataukah mereka sunguhan! Kerutan dikening Gerry bertambah dalam.


"Jika! Jika mereka! Jika mereka menikah. Aku akan ikut mereka berdua, kemanapun mereka pergi." Menjelaskan dengan berat sambil melihat wajah suaminya yang membeku.