
"SEKARANG!." Perintah itu turun serentak, dialat komunikasi masing-masing.
Total sepuluh orang berseragam keluar dari dua minivan, dan masuk. Mereka hampir mirip. Seragam, topi, sepatu, postur tubuh, gerakkan tegas, semuanya sama. Masuk kedalam butik. Pengunjung yang masih didalam terkejut, mereka seperti mengerti ada bahaya. Segera berlari keluar.
Pria berseragam memperhatikan langit-langit, melihat kamera pengintai. Satu ada didepan, dan satu diatas meja kasir. Artinya mereka hanya memiliki waktu beberapa menit.
Tiga orang wanita terkejut setengah mati. Ketiganya berkumpul dimeja kasir, saling berpelukan satu sama lain. Satu pria berseragam meletakkan jari telunjuk dibibirnya sendiri. Lalu berbisik tanpa suara.
"Sssstttt...." Kepala menyamping, kearah pintu belakang.
Tiga wanita mengangguk bersamaan. Mereka mengerti itu artinya untuk diam dan jangan berteriak. Mereka juga melihat kepintu yang sama.
Pria tadi tidak lagi meletakkan telunjuk dibibirnya, dia melambai kearah anak buahnya di belakang. Empat orang masuk kedalam bersamaan, mengendap-endap. Satu pria dibelakang, melambai yang sama. Empat lainnya menyusul. Total yang masuk kini delapan. Dua sisanya berjaga diluar. Diluar mereka memiliki lima lainnya di dalam minivan.
Suara pintu ditendang dengan keras. Lalu teriakan terkejut dari dalam. Sangat berisik dan ramai. Karena didalam terdapat lima wanita dan seorang pria. Kelimanya berteriak sangat keras.
"Angkat tangan dan Jangan bergerak. Kami tidak akan melukai."
Semua patuh. Keenamnya angkat tangan dan menjauh dari meja komputer. Kursi mereka memiliki roda, mundur menjauh.
"Jika kalian patuh kami tidak akan melukai. Mengerti."
Keenamnya mengangguk ketakutan.
"Sekarang lakukan kembali aktivitas kalian tadi. Tapi!. Rubah isinya." Menunjukkan kertas.
Keenamnya saling melihat satu sama lain. Wajah keenamnya menghijau. Lima mereka melihat kearah satu orang wanita.
Pria berseragam mendekati wanita itu, dan berkata."Perintahkan anak buahmu untuk melakukannya. Atau kami akan melukai." Menyodorkan senjata kepinggangnya yang ramping.
"L-lakukan perintah mereka." Nada gemetar ketakutan.
Kelimanya kembali mendekati layar komputer dan melakukan sesuai perintah.
"Jangan coba-coba membodohi kami. Komputer kalian sudah kami pantau diluar sana. Jadi, pastikan lakukan dengan benar."
Semua mengangguk dan melakukan sesuai perintah. Tidak bisa berontak, karena mereka kalah banyak. Delapan pria berbadan besar, dengan lima wanita dan seorang pria kurus kering berkaca mata tebal. Mereka harus mengakui mereka, KALAH.
*
George hanya mengenakan boxer dan jubah sutra, leluasa beraktivitas dikamar.
Dengan malas melihat sang ibu."Suruh dia pulang!."
Tidak memiliki aktivitas berarti, sore begini, dia lebih suka bermain game. Pantatnya mendarat, dilantai berkarpet didepan monitor.
"Anak ini, nakal sekali. Dia sangat cantik menunggumu di ruang tamu."
"Orang terakhir yang ingin aku temui adalah dia mamah." Duduk santai memeluk bantal besar empuk didepan layar LED.
Mamahnya segera keluar kamar, dengan wajah dilipat. Tidak disangka, tidak lama Lisa masuk kedalam kamar. Tidak perlu menoleh, mencium harumnya saja, langsung tahu siapa yang masuk.
"George. Memalukan sekali, Pakailah baju." Menutup wajah dengan kedua tangan.
"Ini kamarku!. Pergi sana!." Mengunakan dagu mengusir, matanya masih di monitor.
Wajah Lisa menghijau, pria kekanakkan ini!. Jika berhubungan dengan Yani, dia terlihat dewasa dan matang. Menyebalkan. Kemudian duduk disebelahnya.
"Narasumber edisi khusus kami adalah DARA. Semua ini pasti juga perbuatannya."
"DARA! Dia dipenjara!. Mana bisa seseorang dipenjara bebas mengunakan internet." Masih dimonitor.
"Penjara!. Karena apa?."
"Merampok habis SebasThony butik di Kerobokan Bali."
"WHAT!." Memucat.
"Juan langsung memasukkannya kepenjara, Dara dan kelima suruhannya. Harus mengganti milyaran untuk bisa keluar."
"WHAT!. Jadi ini perbuatan siapa dong?. Aku bisa TAMAT oleh Juan. Bagaimana ini." Mengaruk kepala sendiri.
"Atau!. Dara dibantu Martha!. Sahabatnya." George segera mengambil android.
"TERLAMBAT!. Juan sudah bergerak. Mereka bilang, malam ini juga semua ini akan meredam."
"Chiiii... Pria itu, mengesalkan." Menendang meja dengan sangat keras hingga berpindah beberapa senti dari posisinya.
Lisa loncat karena terkejut setengah mati.