A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
160. menikmati teh buatan suami sendiri



Pria ini sedang kasar.!.


Apakah dia sedang marah.?. Apa ada yang salah.?. Lengan kecil mengalungi leher kekar, bergelayut manja, dengan senyum manis.


"Juan.?." Mesra, Senyumnya menjadi sebaris tipis dengan garis mata naik keatas.


"Memikirkan sesuatu.?." Sambil Merapikan rambut merah.


Jakun naik turun, leher bersih istrinya tiba-tiba terlihat, dan menggoda. Dia, Mendaratkan bibir tipis di kulit yang bersih. Menekan, mengHisap, sangat kuat seakan ingin menyobek, pemiliknya tegang, waspada.


"Aku, Hanya memikirkan Jesicca, dia sulit di hubungi. Aku ingin ketoko.?." Menjauh.


"Tidak perlu kesana. Toko tutup." Menarik agar kembali, Memeluk tubuhnya yang lembut dan Harum.


Tutup?. Bola mata kecil memutar setengah, lalu melihat suaminya. Pria ini memiliki banyak jawaban yang tidak mau dikatakan.


"Tahu dari mana.?."


"Jesicca sendiri, kemarin menghubungiku. Karena tidak bisa menghubungimu. Tutup.!. Sampai hari pernikahan kita."


Juan menarik tubuh yang lembut, menenggelamkan dalam pelukan. Kakinya yang panjang diluruskan disofa. Membuat kelembutan dalam pelukkan, seketika berada diatas.


"Dia mungkin sedang melakukan sesuatu yang menarik. Sesuatu yang sangat Sangat menarik." Berbisik halus, dengan nada menekan.


Sesuatu menarik.?.


Kata-kata ini, menjurus sesuatu kan.


Melihat senyum nakal seseorang terukir di sana. Sudah jelas, Pria ini, memiliki banyak sekali kebaikan. Hah.!. Licik.


"Dengan siapa.?." Meletakkan kepala diatas dada bidang.


"Dengan seseorang yang ingin melakukan sesuatu menarik. Dengan siapa lagi.?." Mencubit pipi diatas dadanya.


Telinganya tiba-tiba mendengar degup jantung tidak beraturan.


"MaYa, ayo lakukan sesuatu yang menarik." Senyum nakal. Jari panjang memijat lembut daun telinganya.


Benarkan.!. Menginginkan sesuatu.


"Hah.!. Masih siang.!. Yang benar saja." Memukul jari nakal ditelinganya.


Tubuhnya diangkat sendiri, lalu melirik pria dibawahnya.


"Apakah kamu wanita yang sedang, kedatangan tamu bulanan.?." Menarik hidung Yani diatas tubuhnya.


Yani tertawa mendengarnya, kata-katanya rumit untuk mewakili empat huruf, HAID.


"Aku tidak sedang haid.?. Rasanya enak saja, menikmati teh buatan suami sendiri." Berusaha bangkit, menyebabkan Lengan menekan dada bidang.


Tiba-tiba, pria dibawahnya ikut bangkit, mengangkat badannya yang besar. Seketika, dia berada duduk dengan kaki mengangkang. Kedua tangan di bahu lebar. Wajah jadi pucat. Posisi ini, sangatlah tidak nyaman, pipi langsung mengembang.


"Untunglah. Aku senang mendengarnya. Aku ingin melakukan sesuatu menarik nanti." Mencium sudut bibir. Mengatakan itu tanpa malu sama sekali.


Lalu meletakkannya di sofa sebelah. Langkah kaki menekan berjalan kedapur. Terdengar Suara menyalakan kompor. Setelah menghilangkan kegugupan. Dia menyusul.


Terakhir dulu, Teh buatan tangannya sangat enak. Manis gula merah, Harum kayu manis, PAS. Kali inipun sama, Penampakan tehnya sangat cantik.


Rasanya, masih seenak kemarin.


"Enak, dua jempol." Memuji, Menghabiskan teh digelas.


"Aku tidak perlu jempol. Tapi....." Meletakkan telunjuk di pipi sendiri yang menyamping.


"Hah.!. Yang benar saja." Membuang wajah jauh-jauh.


Dia masih Menunggu serius.


"Juan, kamu, licik sekali."  Mengecilkan suara, lalu malu-malu melakukan yang dia inginkan.


Mendarat di bibir tipisnya, dengan cepat. Gerakkan itu membuat bibir tipis naik satu sudut.


"Hanya begitu saja, tidak menghargai sekali kerja kerasku." Wajah disodorkan lebih dekat.


Mau tidak mau, dia mengulang perbuatannya tadi. Kali ini dengan benar. Lalu melihat reaksi suaminya.


"Bagaimana, cukup.?." Mengamati.


"Lakukan seperti ini." Menarik lehernya, membuatnya mengulang untuk ketiga kali.


Kali ini jadi lebih dalam, sangat lama, dan seseorang aktif menjadi kreatif.


Membuat pipi seseorang memerah, Daun telinga ikut memerah. Merasakan gesekkan tangan besar dikulit dalam, teratur. Kedua mata sayunya Membesar bulat, bulu mata bergetar halus, melihat ruang kosong didepan. Mengigil didalam.