A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
177. tidak terburu-buru



Membuatnya gemetar didalam


*


Masuk kekamar, jari-jari panjangnya melepas dasi dan dua kancing atas kemeja, menanggalkan jas di bahu sofa. Tidak bisa menemukan istrinya dimana-mana. Tiba-tiba tercium Harum aroma sabun, saat membuka pintu kamar mandi, ternyata terkunci. Dia dipintu, tersenyum nakal, segera mengambil kunci serep dilaci paling bawah.


Dengan mudah pintu terbuka, sangat hati-hati masuk kedalam. Langkah menekan masuk lebih dalam, sambil menggulung kedua lengan kemeja keatas. Pencahayaan didalam sangat minim, istrinya mengikat semua rambutnya naik ketas.


Menjadikannya seperti seekor angsa berendam di dalam bak mandi. Gerakkannya anggun bersandar ditepi bak. Kepalanya yang kecil diletakkan ditepi bathtub, kemudian melihat keatas langit-langit. Dia membuat dirinya merasa nyaman. Seseorang mengamati dibelakang dan bersandar diwastafel. Dengan Kedua tangan dimasukan kedalam saku. Tidak disadari kedatangannya.


Lama mengamati, memutuskan mendekat. Tubuh Istrinya sudah tengelam didalam bak, bersama dengan seluruh pikiran. Tidak tahu apa yang ada di kepala kecilnya. Dari tempatnya berduri, terlihat mata sayu tertutup tenang sangat nyaman, bulu matanya yang hitam cantik, mengarah kebawah.


Dari atas tempatnya, bisa melihat seluruhnya. Dia sudah Polos, membuat kedua mata sepekat tinta melihat semakin dalam. Lekukan TerPahat begitu indah ada didalam air yang jernih dan hangat. Jangkun seseorang naik turun. Dengan Dada berdebar kencang.


Juan selalu mengatakan Bercinta bersama orang yang dicintai, sangatlah enak, lezat. Berapa banyaknya-pun, betapa seringpun, tidak akan bosan. Setiap kali melakukannya, malah terasa baru. Setan kecil ini, semakin dilihat semakin cantik. Bagian bawahnya sudah bereaksi sangat cepat. Lagi-lagi menelan ludah. Keinginan menganggu itu, tiba-tiba datang.


Dia yang jangkung, membungkuk sedemikian rupa, menangkap wajah kecilnya yang bersandar tenang ditepi bak. Bibirnya yang tebal, membuka kecil. Begitu menyentuh, bibir tebalnya terasa begitu lembut, lembab, dan kenyal. Pemiliknya membuka kedua mata, melihatnya lurus dengan pupil bulat. Tidak ada penolakan, membuatnya jadi senang, melakukan tahapan selanjutnya. Kedua telapak kecil, meremas tepi bathtub. Bereaksi.


Sementara Tangannya yang besar menelusuri, tengelam dalam genangan air. Kedua mata sayu membesar, bulu matanya mengibas keatas beberapa kali. Angsa cantik ini pasrah, sangat mengemaskan. Tangan Kemejanya yang digulung kini basah.


Mengunakan spons lembut penuh dengan busa sabun, menyentuh kulit istrinya yang bersih, mereka mengkilau dibawah minim pencahayaan. Bibirnya yang tipis menekan dileher belakang, sangat mabuk.


"Juan." Merdu ditelinga.


"Apa kita harus kedokter? Program untuk punya anak lagi."


Pikiran inilah yang ada di kepala kecilnya sejak tadi, hingga membuat urat leher belakangnya menegang.


"MaYa, aku sangat menginginkan anak lagi. Tapi tidak terburu-buru." Memijat daun telinganya yang memerah.


Juan memberikan Sentuhan lembut, kesukaan sang istri. Semakin intim, berhasil membuat angsa putih mendesis halus. Suara mendesisi yang sangat merdu ditelinga. Berhenti bicara, semua pertanyaan lainnya tertelan masuk kedalam perut. Yang ada tinggal kicauan kecil dan semakin merdu. Kedua telapak tangannya meremas tepi bak sangat kuat, hingga memutih. Jika terus seperti ini Dia bisa merosot dan tengelam.


Menggeliat tidak karuan. Gelisah tidak menentu. Suaminya memperlakukannya seperti memandikan kucing piaraan. Pegangannya berpindah, melingkari lengan kekar. Sementara lengan kekar satunya tidak berhenti menyapu kulitnya yang polos.


"J-juan hentikan." Menekan bibir bawah dan atas. Mencakar lengan kekar.


"Aku bantu." Mengambil air dan membiasakan pipi merah.


Tersenyum nakal. Menekan hidung mancung di bibirnya yang tebal, kepalanya sudah layu dalam rangkulan, sementara tangan dia terus bekerja didalam air. Suara semakin merdu keluar dari bibirnya yang tebal. Perut bawah didalam bak bergetar, berkali-kali.


Tidak lama air didalam bathtub surut.  Sudah menjadi seonggok lumpur dalam genggaman, melumer. Hampir merosot. Begitu diangkat dari bak, menyembunyikan wajah yang merah, bersandar lemah didada. Juan membawanya kedalam kotak transparant shower.


Mata sepekat tinta dengan alis yang indah melihat sekilas, jarinya yang panjang melucuti sendiri. Dadanya yang bidang, perutnya berliuk, semua terlihat dan berotot. Yani mengigit bibir bawah hingga memutih, entah bagaimana menggambarkannya, saat melepas kemeja, kulit sawo matangnya sangat harum.