A Women With Red Hair

A Women With Red Hair
185. Paman George! I see him, I can see him, next to you, Mamah



Yani pergi dari sana, menuju balkon, sambil membuka bungkusnya dengan cepat.


Juan melihat istrinya masuk. "Kemarilah."


Di balkon ada tiga pria. Yani menghampiri. Juan menariknya kepangkuan. Tiga pria disana hanya diam.


"Disini dingin, aku masuk dulu." Turun dari pangkuan.


Kembali masuk kedalam, Bimbim melihat kearahnya dengan kedua mata membesar.


"OMG! Calon pengantin ini! Menghabiskan empat ice cream coklat! Salahkan siapa jika gaunmu robek karena mendadak gemuk." Bimbim terkejut.


"Biarkan gemuk! Lebih bagus anak perempuan yang gemuk! Memang kenapa!" George menarik Yani agar duduk disebelahnya.


Pria kekanakan ini berhasil mengusir semua orang disofa. Yani melihat Lisa didepan, dengan segan. Kemudian menjaga jarak kedekatan.


"Dia tadi menangis parah. Melebihi Thony! Lalu makan ice cream seperti orang kelaparan. Ada apa denganmu Bos. Punya suami mengubahmu." Bimbim mengecilkan suara, takut dengan orang dibalkon.


"Itu seperti wanita sedang datang bulan! Atau hamil! Temanku seperti itu." Timy nyeletuk sambil duduk di pangkuan Bimbim.


Semua melihat keperut Yani yang rata.


"Aku tidak! Jangan dengarkan dua orang itu. Ada yang bilang, ketika jatuh cinta, otak bisa miring sebelah." Membalas, menunjuk Bimbim dan Timy.


"Chiii! Aku berani taruhan." Timy mengeluarkan dompet.


Bel pintu bunyi lagi.


"Pizzaa!" Suara dari luar.


Bimbim menurunkan Timy, segera berlari kepintu. Tubuhnya yang gempal berusaha berlari dengan cepat. Dan kembali dengan tujuh loyang besar Pizza.


"Bawakan dua ke balkon!"


Semua saling melihat. Tidak ada satupun yang mau melaksanakan tugas Bos. Setelah nada Juan tadi! Siapa yang mau.


"Jesicca atau Lestari saja, kekasih kaliankan di luar?" Bimbim mengusulkan.


Keduanya mengeleng serentak.


"Chii, kalian kenapa? Takut sama apa?" Timy menerima sepotong Pizza dari Bim-Bim


"Aku saja." Yani bangkit berdiri.


George menahan."CK CK CK, apa ada yang menyuruhmu! Duduk saja! Diam disini!"


"Ya, sudah tidak usah. Nikmati saja." Timy menengahi.


Bimbim menyuap Timy dengan kasih sayang. Mengumbar kemesraan didepan semua orang, tanpa malu sama sekali.


"Bos! Honeymoon kemana? Paris,  Maldives, Kota apung di Venice atau Hong Kong?" Lestari mengambil potongan pizza.


"Kakeknya Juan sedang sakit, Thony juga belum liburan."


"Chii, Mana ada orang Honeymoon bawa anak." 


"Itu namanya bukan bulan madu. Tapi kemping." Dua orang itu tertawa.


"Apa kakimu hanya untuk menendang." Yani merapikan isi meja yang berjatuhan.


"Benar!" Menantang.


Tiga pria yang ada di balkon masuk kedalam, aroma nikotin langsung menyebar. Arnold duduk bersama Jesica, sementara Raymond disebelah Lestari. Juan duduk disebelah Yani. Lengan besar langsung melingkar di bahu Yani. Menandakan sesuatu, tentu saja, kepemilikan.


"AKu senang kamu disini." Bimbim melihat Timy.


"Kenapa memang?"


"Mereka semua jahat padaku, saat di Bali Tenddy mereka datang couple, hanya aku yang tidak." Merengek.


"Maafkan aku sayang, George melarangku." Berpelukkan.


Lisa diseberang hanya memperhatikan. Juan, Yani, lalu kekasihnya George. Ketiganya satu sofa. Sejak tadi dia hanya memperhatikan gerak gerik gadis itu. Menurutnya tidak ada spesial dari gadis ini, tinggi badannya saja mines.


Cenderung tidak tertarik dengan kedua pria itu, sejak tadi gadis ini hanya tertarik dekat dengan teman-temannya. Tidak ada tanda-tanda menunjukkan kemesraan. Berbeda dengan Juan.


"MaYa, ini hadiah dari kami semua." Lestari memberikan sebuah kotak dibungkus kresek putih.


"Oh merepotkan saja." Terharu.


"Bos kami tahu kamu punya segalanya. Jadi kami patungan."


"Bos!" Lestari melihat kadonya.


"Ya!" Yani menyahut.


"Buka!" Jesicca tidak sabar.


"Sekarang!"


Semua mengangguk serentak. Yani melihat Juan, kemudian melihat kadonya lagi. Lalu mengintip kado. Pipi, leher sampai ujung telinga, merah semua.


Kedua mata menyipit menyorot semuanya."Kalian memalukan sekali."


"Victoria Secret! Edisi terbaru!." Bimbim serius.


"Bukan ide kami. Ini ide mereka." Ketiganya menunjuk Bimbim dan Timy.


Juan mengeliat, mengambil Android dari saku celana. Kemudian menyerahkan Android pada istrinya.


"MaYa! Kalian dimana!" Teriakan Thony menggelegar.


Wajah George jadi tegang, telinganya tegak menguping. Wajahnya menjadi hangat dan lembut, sorot matanya berbinar. Dia bisa mendengar suara bocah itu. Bocah itu Menganti panggilan menjadi Vidio call.


"MaYa, bersama siapa?" Mulut putranya penuh dengan Snack.


Yani memperlihatkan semua orang. Thony mengenal semuanya.


"Paman George! Paman George! I see him, I can see him, next to you, Mamah!" Loncat dan berlari-lari.


Yani melihat George, wajah pria itu menghijau mendengar teriakan bocah lima tahun diseberang. Memanggil-manggil namanya dengan keras. Kemudian mata sayu melihat suaminya.