
Bertepatan Yani menutup telpon. Juan masuk kedalam kamar. Kedua mata sayu menyipit. Kelakuan ini. Mirip sekali dengan suaminya Menahan orang tiga hari!
Yakin sekali jika Martha menghilang ada hubungannya dengan pria jangkung ini. Pria ini pasti menyekap Martha!
"Hah! Benar-benar." Melempar bantal sofa ke suaminya.
Pria jangkung yang kini sudah duduk disebelahnya menarik dagu, dan mencubit kencang.
"Berani sekali!"
"Martha sudah tiga hari tidak terlihat! Juan! Jangan katakan ini ada hubungannya dengan caramu menyelesaikan masalah?" Mengangkat dagu meski masih dicubit.
Bibir tipisnya maju beberapa senti, lalu jarinya yang panjang mencubit sudut bibir tebal. Membuat penampakkan bibir tebalnya menjadi seperti mulut seekor bebek.
"Benar!" Tersenyum nakal.
"Hah! Benar-benar. Dia itu perempuan, jangan macam-macam."
"Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika sudah selesai dia bisa bebas. Aku tidak akan membawa ini sampai ke jalur hukum."
Jalur hukum! Hanya gara-gara beberapa komentar pedas ditujukan padanya. Pria ini mengerikan! Sungguh.
"Juan, kamu keterlaluan." Melihat wajah suaminya dengan lembut.
Istrinya selalu bermurah hati. Itulah sebabnya dia selalu di tindas orang lain, sejak dulu! Cara istrinya ini tidak berlaku padanya. Dendam harus tuntas.
"Dia, merusak nama baikmu! Kamu istriku! Artinya, dia terang-terangan melawanku! Aku terlalu bermurah hati pada kasus ini! Dia hanya aku suruh duduk manis didepan komputer, aku memberinya makanan enak, tidur nyaman dimalam hari, dijaga ketat di luar. Dia hanya kembali membersihkan nama baikmu! Yang adalah istriku! Semua ini, sampai pernikahan kita selesai. Aku akan melepaskannya. Dengan catatan, tidak mengulanginya lagi." Tenang bersandar disofa dengan kaki menumpuk.
Beberapa hal mereka memang berbeda. Dan tidak bisa disatukan. Menurut Yani, masalahnya sudah berlalu, jadi lupakan saja. Pernikahan mereka masih besok. Jika dihitung artinya Martha disekap hingga lima atau enam hari. Seminggu! Gadis itu bisa gila didalam kurungan. Yani mengubah tatapannya menjadi lembut. Kemudian mendekati suaminya lagi.
"Juan!" Duduk diatas paha suaminya.
Alis suaminya yang indah diangkat semua keatas. Istrinya sedang melakukan apa?
Tangannya yang kecil dan lembut, menangkap kedua rahangnya. Dengan tatapan hangat.
"Lepaskan dia." Wajahnya didekatkan, melihat lekat kedalam kedua mata sepekat tinta.
"Aku tidak melakukan hal yang buruk padanya. Aku tidak menyiksa mereka."
Tidak menyiksa! Apa bedanya?
Mereka! Lebih dari satu?
"Lima wanita dan seorang penjantan." Tenang.
Total ada enam orang, dalam satu ruangan. Suaminya benar-benar, sadis!
"Juan lepaskan saja mereka." Suara lebih lembut.
Mengangkat pantat diatas pangkuan, menyatukan kening mereka.
"Pasti!" Mendekatkan ujung hidungnya ke ujung hidung istrinya.
"Sekarang?" Mengibaskan kedua bulu mata dengan lincah.
Pria didepannya tertawa. "Apa kamu merayuku? Tidak akan berhasil? Aku malah akan memakanmu."
"Hah! Ini masih pagi!"
"Justru itu! Pagi hari, setiap hari, berturut-turut, mendengarmu menjerit terus dibawahku, sangat indah." Mendesah ditelinga.
Wajah istrinya memerah.
"JUAN!" Memukul lengannya dan Turun dari pangkuan.
Meninggalkan sofa, suaminya tidak bisa dirayu sama sekali. Menutup pintu kamar.
*
The W Hotel.
Thamrin
Presidential suite
Jakarta Pusat.
Pria bertubuh besar baru saja keluar kamar mandi. Dia mengenakan jubah sutra tanpa mengikat tali nya, membiarkannya terbuka lebar. Dadanya yang bidang, besar dan kekar terekspose sembarangan. Bokongnya yang besar, hanya berbalut boxer hitam. Berjalan sembarangan didalam kamar suite.
Dia mengeringkan rambutnya yang basah. Selesai rapat membahas album barunya. Dia langsung cek in. Sengaja memilih kamar ini, agar dekat dengan sang pemilik acara. Walau tidak bersebelahan. Dengan begini, membebaskan Yani atau Thony jika ingin datang. Meski itu tidak mungkin terjadi.
Hari ini, dia sangat ingin menyendiri. Setelah apa yang sudah di lewatinya beberapa hari ini. Semua ini, melelahkan. Demitri sudah menyelesaikan sesuatu yang mengajalnya. Statuse Thony! George selalu ingin lindungi, sekarang itu tidak perlu lagi dilakukannya. Seharusnya dia bisa lega.
Tapi Pernyataan Demitri, Jujur saja, diapun terkejut saat itu. Tidak menyangka sama sekali. Kedekatan Yani dan Juan, bukan sekedar kedekatan satu malam.