Wedding

Wedding
Bab.43



Setelah beberapa saat, akhirnya mobil yang mereka bawa, sudah sampai di depan rumah Maya, yang punya rumah sangat kaget melihat mobil yang dia kenali memasuki halamannya.


" Itu bukannya mobil Dafa, kenapa pagi-pagi sudah sampai disini," ucap Maya saat melihat mobil Dafa berhenti didepan rumahnya.


Pasalnya Dafa tidak memberi kabar kalau mau datang kerumahnya, Maya berjalan menghampirinya.


Setelah sampai didepan Dafa, Maya bertanya pada Dafa, kenapa dia pagi-pagi sudah berada dirumahnya, Dafa menjelaskan bahwa dia ingin mengantarkan Maya berangkat kerja.


" Tidak perlu repot-repot mas, aku biasa berangkat dengan Anggi," ucap Maya pelan-pelan agar tidak menyinggung perasaan Dafa.


" Tidak apa-apa aku tidak merasa repot," jawab Dafa sambil tersenyum manis.


" Kamu tidak repot bos, aku yang repot harus ngikutin kemauan yang seenak jidat itu," omel Rio didalam hati, mana berani dia membantah ucap Dafa bisa jadi nasib gaji dia akan dipotong dan lebih mengerikan lagi bisa saja dia dipecat kapan saja.


Selama ini Rio termasuk orang yang super sabar menghadapi sikap Dafa yang kadang-kadang memberikan perintah di luar kerjaan lebih ke masalah pribadi, karena tugas dan rasa kemanusiaan Rio melakukan dengan ikhlas walaupun terkadang ada gerutu an sedikit dari dalam hati, sedikit tidak banyak, kalau banyak tidak bagus untuk kesehatan hati dan pikiran..


Tiba-tiba saat mereka lagi mengobrol Anggi sudah datang ke rumah Maya.


" Wah pagi-pagi sudah ada yang nongkrong disini ajah nih," goda Anggi dengan senyuman merekah.


" Ini mas Dafa mau jemput aku," ucap Maya sedikit agak malu.


"Tidak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri ko," sahut Anggi.


Maya tidak mau kalau berangkat dengan Dafa, kasihan Anggi pikirnya, akhirnya setelah beberapa saat mereka berdebat, Maya mengalah berangkat dianter Dafa, sedangkan Anggi ditemani oleh Rio.


Mereka melajukan mobilnya depan belakang, beriringan membelah jalanan menuju tempat kerja Maya.


" Mas besok lagi tidak usah jemput aku tidak apa-apa," Maya memulai ngobrol.


" Tidak apa-apa, kalau nanti kita sudah menikah, kamu harus terbiasa aku antar jemput ya," sahut Dafa sambil tersenyum manis.


Membuat rona merah dikedua pipi Maya, mereka ngobrol ringan selama diperjalanan, membahas acara lusa saat orang tua Dafa sudah sampai di rumah, rencananya Dafa akan meminta untuk langsung menikah saja, tidak usah ada acara tunangan.


Sepertinya Dafa sudah agak terburu-buru ingin menghabiskan waktu dengan Maya. Maya mendukung apa yang di mau Dafa mungkin pacaran setelah menikah itu lebih asyik, bisa terhibur dari dosa dan zina, kalau sudah nikah bebas mau ngapain juga.


Sedangkan didalam mobil satunya Rio dan Anggi tampak hening, Rio tampak fokus mengemudi, Anggi tampak mau bertanya tapi masih mikir-mikir, akhirnya Angin memutu untuk mengajak ngobrol Rio.


" Kamu sudah berapa lama kenal dengan Dafa?" tanya Anggi penasaran.


" Kamu tanya sama aku?" sahut Rio ngeselin.


" Ya iyalah asep, jelas-jelas disini cuma ada kita berdua," ucap Anggi setengah berteriak, Anggi kesel dengan jawaban Rio yang tidak nyambung, padahal Rio sengaja menggoda Anggi.


" Sudah lama sejak aku masih duduk di Sekolah Menengah ke Atas," jawab Rio santai.


" Woo lama juga yaa," sahut Anggi.


Rio hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya, yang berarti iya. Keadaan di mobil kembali hening dengan pikiran masing-masing.